Good Bye Politik Identitas
Minggu, 10 Desember 2023 - 11:28 WIB
loading...
A
A
A
Dalam sebuah teori lain disebutkan bahwa politik identitas adalah teori yang mengkaji politik yang didasarkan pada identitas kelompok, seperti ras, etnisitas, gender, seksualitas, dan agama. Politik identitas memiliki daya lenting yang penting, dalam rangka memperjuangkan hak-hak minoritas tersebut. Tapi menjadi berdampak negatif ketika identitas tersebut menjadi faktor dominan dan terlebih lagi jika menggunakan isu agama.
Politik identitas pernah menjadi salah satu tren politik yang paling penting dalam beberapa dekade terakhir. Politik identitas telah digunakan untuk memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas, seperti hak-hak perempuan dan hak-hak kelompok etnis.
baca juga: Ganjar: Saya Tidak Punya Sejarah Politik Identitas
Namun di Indonesia, politik identitas diatasnamakan memperjuangkan kelompok mayoritas, karena 'merasa' minoritas dalam mengakses sumber-sumber strategis terutama pada aspek ekonomi. Identitas memang menjadi instrumen penting dalam menyolidkan isu-isu yang akan diperjuangkan.
Tapi dampak negatifnya dipandang sangat membahayakan, karena mudah memunculkan pembelahan organ penting dalam perpolitikan dan membuat rapuh persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan.
Pengalaman buruk penggunaan identitas dalam politik ini adalah pada pilkada DKI dan pilpres 2019, yang menggunakan identitas keagamaan sebagai alat mobilitas politik. Agama yang seyogyanya sakral, mendapatkan posisi terendah untuk memperebutkan kekuasaan.
Agama “diperjualbelikan" untuk kepentingan pragmatis, kepentingan duniawi. Agama ditafsirkan sesuai kepentingannya. Bahkan pelibatan agamawan menjadikannya seolah ia menjadi penafsir tunggal firman Tuhan dalam kitab sucinya. Wallahu a'lamu bis shawab
Politik identitas pernah menjadi salah satu tren politik yang paling penting dalam beberapa dekade terakhir. Politik identitas telah digunakan untuk memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas, seperti hak-hak perempuan dan hak-hak kelompok etnis.
baca juga: Ganjar: Saya Tidak Punya Sejarah Politik Identitas
Namun di Indonesia, politik identitas diatasnamakan memperjuangkan kelompok mayoritas, karena 'merasa' minoritas dalam mengakses sumber-sumber strategis terutama pada aspek ekonomi. Identitas memang menjadi instrumen penting dalam menyolidkan isu-isu yang akan diperjuangkan.
Tapi dampak negatifnya dipandang sangat membahayakan, karena mudah memunculkan pembelahan organ penting dalam perpolitikan dan membuat rapuh persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan.
Pengalaman buruk penggunaan identitas dalam politik ini adalah pada pilkada DKI dan pilpres 2019, yang menggunakan identitas keagamaan sebagai alat mobilitas politik. Agama yang seyogyanya sakral, mendapatkan posisi terendah untuk memperebutkan kekuasaan.
Agama “diperjualbelikan" untuk kepentingan pragmatis, kepentingan duniawi. Agama ditafsirkan sesuai kepentingannya. Bahkan pelibatan agamawan menjadikannya seolah ia menjadi penafsir tunggal firman Tuhan dalam kitab sucinya. Wallahu a'lamu bis shawab
(hdr)
Lihat Juga :