Jenderal Kopassus Ini Tolak Uang Puluhan Juta dari Pejabat saat Kerusuhan Mei 1998
Kamis, 07 Desember 2023 - 06:21 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Riwayat Karier Militer dan Penghargaan Doni Monardo, Eks Danjen Kopassus yang Tutup Usia
Pada 12 Mei 1998, Doni mendengar berita penembakan mahasiswa Trisakti. Setibanya di Cijantung, Doni langsung memeriksa semua magazin dari senjata maupun cadangan dan dari hasil perhitungan, tidak ada anggota yang kurang maupun peluru yang terpakai.
![Jenderal Kopassus Ini Tolak Uang Puluhan Juta dari Pejabat saat Kerusuhan Mei 1998]()
Prajurit TNI melakukan pengamanan di Ibu Kota Jakarta. Foto/istimewa
Malam 14 Mei, pasukan Doni diminta mengamankan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang diinformasikan akan dijarah. Dalam perjalanan, sebagian pasukan ada yang diturunkan di Sunter melihat kondisi yang juga buruk. Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, pasukan tiba di Kelapa Gading. Agar kehadiran mereka dirasakan oleh rakyat, maka sambil patroli dalam truk para prajurit bernyanyi dan menyerukan yell-yell
Dalam pengarahannya kepada prajurit, Doni menekankan bahwa tidak ada seorang prajurit pun yang diperkenankan untuk berada di rumah mewah atau mal. Mereka semua diperintahkan untuk tidur di rumah rakyat yang ada di sekeliling Kelapa Gading.
Para prajurit juga dilarang untuk menerima uang dengan alasan apa pun juga. Keesokan harinya, Doni sempat didatangi pejabat yang tinggal di Kelapa Gading untuk mengamankan RW mereka dengan imbalan puluhan juta. Doni menolak dengan alasan pagar yang sudah dibangun di sekeliling Kelapa Gading bisa bolong jika harus mengurangi prajuritnya untuk mengamankan mereka. Doni memang memilih menempatkan pasukannya di daerah sekitar Kelapa Gading, dengan demikian menutup semua akses masuk me nyulitkan pihak luar yang ingin menjarah dan membakar.
Pada 12 Mei 1998, Doni mendengar berita penembakan mahasiswa Trisakti. Setibanya di Cijantung, Doni langsung memeriksa semua magazin dari senjata maupun cadangan dan dari hasil perhitungan, tidak ada anggota yang kurang maupun peluru yang terpakai.

Prajurit TNI melakukan pengamanan di Ibu Kota Jakarta. Foto/istimewa
Malam 14 Mei, pasukan Doni diminta mengamankan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang diinformasikan akan dijarah. Dalam perjalanan, sebagian pasukan ada yang diturunkan di Sunter melihat kondisi yang juga buruk. Sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, pasukan tiba di Kelapa Gading. Agar kehadiran mereka dirasakan oleh rakyat, maka sambil patroli dalam truk para prajurit bernyanyi dan menyerukan yell-yell
Dalam pengarahannya kepada prajurit, Doni menekankan bahwa tidak ada seorang prajurit pun yang diperkenankan untuk berada di rumah mewah atau mal. Mereka semua diperintahkan untuk tidur di rumah rakyat yang ada di sekeliling Kelapa Gading.
Para prajurit juga dilarang untuk menerima uang dengan alasan apa pun juga. Keesokan harinya, Doni sempat didatangi pejabat yang tinggal di Kelapa Gading untuk mengamankan RW mereka dengan imbalan puluhan juta. Doni menolak dengan alasan pagar yang sudah dibangun di sekeliling Kelapa Gading bisa bolong jika harus mengurangi prajuritnya untuk mengamankan mereka. Doni memang memilih menempatkan pasukannya di daerah sekitar Kelapa Gading, dengan demikian menutup semua akses masuk me nyulitkan pihak luar yang ingin menjarah dan membakar.
Lihat Juga :