Kontroversi Lonjakan Utang untuk Belanja Alutsista

Selasa, 05 Desember 2023 - 04:55 WIB
loading...
A A A
Sebenarnya, kenaikan anggaran belanja alutsista dari pinjaman luar negeri sebesar Rp61,58 triliun sangat bisa dipahami. Dalam konteks kondisi alutsista dan target pemenuhan seperti ditetapkan MEF 2019-2024 misalnya, hinggal awal 2023 ini pemenuhannya baru mencapai 65,06%. Perinciannya, TNI AD sebesar 77,38%, TNI AL (66,29%), TNI AU 51,51%. Dari data tersebut, bisa dikatakan pemenuhan kebutuhan ideal masih jauh dari harapan.

Di sisi lain, dinamika geopolitik global yang berkembang saat ini menegaskan meningkatnya turbulensi ancaman real yang langsung atau tidak langsung harus dihadapi Indonesia. Dinamika dimaksud antara lain agresivitas China terkait klaim wilayah di Laut China Selatan-di antaranya bersinggungan dengan batas wilayah NKRI; serta munculnya aliansi AUKUS yang melibatkan Amerika Serikat, Inggris dan Australia yang diarahkan untuk membendung pergerakan China di kawasan Indo-Pasifik.

Karena itulah, tak heran banyak negara di dunia berlomba-lomba meningkatkan anggaran belanja pertahanan mereka.Berdasar data SIPRI pada 2022, tercatat adanya lonjakan tahunan sebesar 3,7% di sektor belanja anggaran pengeluaran militer di seluruh dunia. Angka ini menandai rekor tertinggi sepanjang masa dan seiring tren pembelian senjata dan perlombaan kekuatan bersenjata (arm race) yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini ironis karena kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja.

baca juga: Galangan Kapal Swasta Terdepan Dorong Kemandirian Alutsista

Data SIPRI juga menunjukkan beberapa negara yang menonjol dalam peningkatan belanja alutsista, seperti Cina (63%), India (47%), dan Israel (26%). Dari semua negara di dunia, Amerika Serikat pada 2022 tetap menjadi pemegang anggaran pertahanan terbesar di dunia, yaitu mencapai $877 miliar (Rp13 kuadriliun) atau sekitar 39% dari pengeluaran militer global. Di belakangnya ada China yang menggelontorkan anggaran $292 miliar (sekitar Rp4,3 kuadriliun)untuk belanja militer.

Demi memenuhi target MEF dan merespons dinamika tantangan geopolitics, pemerintah berkejaran dengan waktu untuk melakukan belanja militer yang terbilang besar-besaran. Beberapa program akuisisi yang sudah berlangsung antara pembangunan kapal Fregat Merah Putih hasil kerja sama dengan Babcock Inggris dengan PT PAL Surabaya, pembelian 5 unit pesawat C-130J-30 Super Hercules, pembelian 2 unit pesawat angkut militer Airbus A400M.Prabowo yakin A400M, pembelian pesawat tempur Rafale, dan beberapa jenis alutsista lainnya.

Di luar itu masih ada sejumlah negosiasi akuisisi alutista yang tengah berlangsung seperti pembelian 36 jet tempur F-15EX baru,pengadaan 12 unit pesawat nirawak Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Anka dari Turkish Aerospace, rencana pembelian rudal balistik KHAN dari Turki untuk pertahanan udara, rencana memborong kapal tempur FREMM/OPV dari Italia, kerjasama pembangunan kapal selam dengan NAVAL Prancis/ Thyssen-Krupp Marine Systems (tkMS) Jerman. Tak kalah penting untuk mendapat perhatian adalah pembayaran kerja sama pembangunan pesawat temur Boromae dengan Korea Selatan.

Walaupun bisa dipahami, langkah menaikkan anggaran belanja alutsista dari pinjaman luar negeri memancing sorotan. Mengapa? Muncul kekhawatiran dana sebesar itu menjadi bagian pencarian pendanaan kepentingan politik. Kecurigaan ini bisa dimaklumi mengingat pertarungan politik pada Pemilu dan Pilpres 2024 tinggal menghitung hari. Dalam kontestansi politik ini Prabowo tampil sebagai salah satu kandidat calon presiden.

Suasana menjadi runyam akibat ketidakpercayaan publik terhadap Prabowo dalam mengelola keuangangan negara. Kondisi demikian di antaranya sebagai dampak kegagalan proyek Food Estate pada 2021-2022 di Kalimantan yang dipegang Prabowo dengan alokasi anggaran Rp1,5 triliun, dan munculnya kontroversi pembelian pesawat tempur Mirage 2000-5 bekas dari Qatar yang dianggarkan dana sebesar Rp11,8 triliun.

Lantas, sikap seperti apa yang harus diambil? Akuisisi alutsista canggih untuk memperkuat otot-otot militer Indonesia harus dilakukan. Namun Kemenhan, terutama Prabowo, harus bisa menjawab ketidakpercayaan masyarakat dengan menjaga amanah yang diberikan. Caranya tidak lain dengan benar-benar memanfaatkan anggaran yang diberikan untuk kepentingan negara, bukan untuk kepentingan politik. Di sisi lain, meskipun kepercayaan masyarakat pada lembaga negara seperti BPK dan KPK berada pada titik nadir terendah, pengawasan serius harus dilakukan agar uang yang diperoleh dari utang tersebut tidak diselewengkan dan hanya menjadi beban negara. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
Seskab Teddy: Langit...
Seskab Teddy: Langit Indonesia Harus Aman, Kedaulatan Tidak Bisa Ditawar
Momen Prabowo Cek Cockpit...
Momen Prabowo Cek Cockpit Jet Tempur Rafale Buatan Prancis
Presiden Prabowo Tegaskan...
Presiden Prabowo Tegaskan Pertahanan Kunci Stabilitas Negara
Tambah Alutsista, Prabowo:...
Tambah Alutsista, Prabowo: Indonesia Tak Punya Kepentingan Selain Menjaga Wilayah Sendiri
Jepang Tawarkan Kapal...
Jepang Tawarkan Kapal Selam dan Kapal Perang Fregat Mogami ke Indonesia
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Hamas Tak akan Serahkan...
Hamas Tak akan Serahkan Persenjataan, tapi Hanya Polisi yang Bawa Senjata di Gaza
Ini 4 Keunggulan Senjata...
Ini 4 Keunggulan Senjata Laser Cheongwang Buatan Korea Selatan
Rekomendasi
Densu Jadi Wajah Baru...
Densu Jadi Wajah Baru Caroline.id, Strategi Kepercayaan di Tengah Pasar Mobil Bekas yang Makin Sengit
Larangan dan Sanksi...
Larangan dan Sanksi MPLS 2026, Atribut Tidak Relevan hingga Pungutan Biaya Dilarang
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram
Berita Terkini
Dukung Dokter Tifa di...
Dukung Dokter Tifa di PN Jaktim, Roy Suryo Soroti Tersangka yang Dapat Restorative Justice
Lukashenko Jadi Presiden...
Lukashenko Jadi Presiden Negara Sahabat Pertama yang Nginap di Istana Negara
Profil Christina Endarwati...
Profil Christina Endarwati Ketua Majelis Hakim Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Rapat Paripurna RAPBN...
Rapat Paripurna RAPBN 2027 hingga Calon Anggota BS OJK Dihadiri 298 Anggota DPR
Hakim Tolak JPU soal...
Hakim Tolak JPU soal Uang Pengganti Rp4,8 Triliun ke Nadiem, Rekomendasikan Jalur TPPU
Hadapi Sidang Ijazah...
Hadapi Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa: Kita Tidak Ada Sponsor, Bohir Kita Hanya Allah
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved