alexa snippet

Ketimpangan: Buatan atau Alamiah?

Ketimpangan: Buatan atau Alamiah?
Candra Fajri Ananda. Foto/Istimewa
A+ A-
Candra Fajri Ananda
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya
 
MASALAH ketimpangan selalu menjadi momok. Dimensi ketimpangan biasanya direfleksikan berdasarkan komparasi pendapatan dan/atau pengeluaran, baik yang berlaku melalui perbandingan antarpenduduk maupun antardaerah/wilayah.

Fenomena ketimpangan tidak hanya terjadi secara eksklusif di Indonesia karena negara-negara lain yang terhitung lebih maju dan di sebagian besar negara berkembang lain juga menghadapi persoalan yang sama. China yang dalam sekian dekade terakhir berhasil membangun ekonomi dengan hebat ternyata juga menghadapi problematika ketimpangan, khususnya antara wilayah China barat dan timur.

Raksasa industri seperti negara Jerman pun turut dihantui bayangan ketimpangan antara Jerman utara dan selatan. Negara Eropa lain seperti Italia juga masih berupaya meredam gejolak ketimpangan antara wilayah utara dan selatan. Nah, sekarang bagaimana dengan cerita mengenai ketimpangan di Indonesia?

Pada masa lalu kita sempat kerepotan memproduksi kebijakan agar pembangunan antara kawasan timur Indonesia tidak kalah hebatnya dengan wilayah barat. Era Reformasi 1998 sempat dianggap memberikan angin segar melalui pemberlakuan otonomi daerah.

Kebijakan pembangunan yang dulunya dimonopoli pemerintah pusat mulai ditransfer secara bertahap kepada pemerintah daerah. Jika keberhasilan pembangunan diukur dari capaian pertumbuhan ekonomi, kita boleh sedikit membusungkan dada. Selama periode 2001-2016 tercatat rata-rata pertumbuhan ekonomi kita berada di sekitar 5,31% (BPS, diolah).

Meskipun pertumbuhan ekonomi kita selalu positif, tetap saja kita harus bertekuk lutut terhadap fakta ketimpangan. Akselerasi pertumbuhan ekonomi tidak banyak membantu mengarahkan perubahan indeks gini rasio (sebagai satu di antara parameter ketimpangan) agar hasilnya jauh lebih baik.

Pada fase awal otonomi daerah, indeks gini rasio kita masih berada di angka 0,30. Setelah hampir dua dasawarsa berselang justru indeks gini rasio kita semakin melebar hingga menjadi 0,393. Bahkan, pada periode 2011-2014 sempat meroket pada angka 0,41. Situasi ini baru menggambarkan ketimpangan dari sisi pengeluaran antarpenduduk.

Kalau kita geser untuk melihat pola ketimpangan dari sisi pendapatan dan kekayaan, situasinya mungkin lebih terasa menyesakkan. Lembaga keuangan internasional Credit Suisse (2016) menyatakan, Indonesia menjadi negara dengan tingkat ketimpangan kekayaan terburuk keempat di dunia.

Sebesar 1% penduduk terkaya di Indonesia mampu menguasai 49,3% dari total kekayaan nasional. Jika rasionya kita tambahkan lagi, 10% orang terkaya mampu menguasai 75,7% total kekayaan nasional.

Dari sisi makro, realisasi pembangunan ekonomi di daerah juga tidak berlangsung secara merata. Daerah-daerah di Pulau Jawa terus memperkukuh dirinya sebagai kontributor tertinggi untuk urusan pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Dalam enam tahun terakhir saja, rata-rata kontribusinya mencapai 57% dari total PDB Indonesia. Sementara daerah di kawasan timur seperti Maluku, Papua, dan Papua Barat jika diagregatkan pun hanya menikmati potongan terkecil dengan rata-rata tidak lebih dari 2%.

Curhatan menko perekonomian terkait apresiasi masyarakat yang rendah terhadap prestasi pertumbuhan ekonomi pada akhirnya menemukan jawaban. Bagi 40% masyarakat yang bermukim pada kategori berpenghasilan rendah, angka-angka pertumbuhan hanyalah gambaran klise karena pertumbuhan ekonomi tidak banyak berdampak pada kesejahteraan mereka. Survei dari World Bank (2015) juga mengatakan hal demikian.

Bagi penduduk kelas menengah ke bawah, lebih baik pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah dari posisi yang sekarang, namun bisa memperbaiki jurang ketimpangan. Sistem perpajakan yang diharapkan bisa memberikan efek keadilan pada kenyataannya juga tidak kunjung menampakkan harapan yang lebih cerah.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top