alexa snippet

Harapan terhadap Badan Otorita Pariwisata Borobudur

Harapan terhadap Badan Otorita Pariwisata Borobudur
Ilustrasi Candi Borobudur. Foto/SINDOphoto/Dok
A+ A-
Devi Kausar
Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila

BADAN Otorita Pariwisata Borobudur akhirnya diresmikan pada 19 Juli 2017 oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Pandjaitan dan Menteri Pariwisata Arief Yahya di Yogyakarta. Peresmian ini merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 46/2017 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Borobudur yang terbit pada April 2017.

Di samping bertanggung jawab atas pengelolaan kawasan Borobudur yaitu kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Borobudur dan Yogyakarta, Badan Otorita tersebut juga bertugas mengoordinasikan pengembangan pariwisata di tiga KSPN lainnya, yakni KSPN Dieng, KSPN Solo dan Sangiran, serta KSPN Semarang dan Karimunjawa.

Pola pengelolaan pariwisata pada keempat KSPN ini nantinya akan menyatukan DIY dan Jawa Tengah sebagai satu destinasi dengan Borobudur sebagai ikon utamanya. Candi Borobudur yang dikunjungi kurang lebih 5,67 juta wisatawan Nusantara dan 466.935 wisatawan mancanegara  pada 2015, sejatinya lebih dari sebuah daya tarik wisata.

Ia adalah Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada 1991. Warisan Dunia Borobudur terdiri atas Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut. Dengan statusnya sebagai Warisan Dunia yang mengandung makna kepemilikan universal, Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra pada abad ke-8 bukan saja milik masyarakat Indonesia, tetapi juga dunia.

Oleh karena itu, akses publik dalam bentuk kunjungan wisatawan Nusantara maupun mancanegara serta masyarakat merupakan bagian penting dari pengelolaan Candi Borobudur, di samping upaya pelestariannya.

Sebagai konsekuensi dari kepentingan pelestarian, pariwisata, dan pembangunan, Candi Borobudur selama ini dikelola dalam sebuah sistem pengelolaan yang terdiri dari tiga pihak, yaitu Balai Konservasi Borobudur; PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko; dan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang.

Sebagaimana situs Warisan Dunia yang dalam pengelolaannya harus menerapkan sistem zonasi, pembagian zona ditetapkan dalam Keputusan Presiden RI Nomor 1/1992 tentang Pengelolaan Taman Wisata Candi Borobudur dan Taman Wisata Candi Prambanan serta Pengendalian Lingkungan Kawasannya. Sebagai sebuah destinasi, Borobudur tidak hanya mencakup Candi Borobudur, tetapi juga wilayah sekitarnya yang mencakup alam dan budaya masyarakat yang seharusnya menjadi satu kesatuan dengan Warisan Dunia Borobudur.

Sistem pengelolaan dengan tiga pihak yang telah berjalan selama kurang lebih 23 tahun dirasakan kurang optimal dalam menyelaraskan kepentingan pelestarian Warisan Dunia Borobudur, pengembangan kepariwisataan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata. Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya menyebutkan bahwa kelemahan pengelolaan destinasi Borobudur selama ini adalah "one destination" tapi "multi management" 

Manfaat pariwisata yang dihasilkan oleh Warisan Dunia Borobudur bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya telah sekian lama menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam pembahasan-pembahasan mengenai Borobudur.

Boccardi dkk (2006) pada laporan Reactive Monitoring Mission  terhadap Warisan Dunia Borobudur yang dilakukan oleh Komite Warisan Dunia UNESCO menyebutkan salah satu permasalahan yang perlu dicermati adalah bagaimana Warisan Dunia Borobudur dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan yang pada akhirnya dapat berdampak pada pengentasan kemiskinan.

Untuk meningkatkan dampak sosial ekonomi yang positif bagi masyarakat, keterkaitan antara kegiatan pariwisata yang dipicu oleh keberadaan Warisan Dunia Borobudur dengan perekonomian desa-desa di sekitarnya perlu diperkuat. Soeroso (2007) mengemukakan, pada hasil penelitiannya bahwa cendera mata yang dijual di Taman Wisata Borobudur sangat sedikit yang merupakan cendera mata lokal Borobudur.

Sementara Kausar (2010) mengutarakan bahwa meskipun kegiatan pariwisata yang dihasilkan oleh Warisan Dunia Borobudur memberikan dampak positif terhadap pendapatan pajak, peningkatan PDRB Kecamatan Borobudur dari sektor jasa, dan menstimulasi pembangunan infrastruktur, tapi belum mampu mendorong pertumbuhan di sektor pertanian yang mempekerjakan lebih dari 40% penduduk.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top