Strategi Perang Asimetris ala Hamas Menggempur Israel
Selasa, 17 Oktober 2023 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
Implementasi perang asimetris ala Hamas saat melawan Israel pernah dilaporkan www.voa-islam.com dalam tulisan bertajuk ‘’Analisis Strategi Hamas dan Perang Asimetris Melawan Islam’ pada medio 2021. Kala itu, Hamas baru saja menjalani pertempuran melawan Israel dengan hasil maksimal.
baca juga: Bagaimana Kelompok Pejuang Hamas Palestina Mendapatkan Senjata?
Padahal, kekuatan militer Israel pada 2010 berada di peringkat ke-20 dalam daftar 140 negara berdasarkan tinjauan tahunan GFP (Global Fire Power) 2019 dengan skor Indeks Kekuatan (PwrIndx) sebesar 0,3464 (skor pada 0,0000 dan dianggap sempurna).
Untuk melawan kekuatan IDF yang begitu perkasa, Hamas hanya menggunakan taktik gerilya melalui terowongan ofensif untuk melakukan serangan lintas perbatasan ke Israel; membuat roket seri Qassam guna mengancam Israel di kota-kota selatan seperti Ashkelon, Sderot, mengincar enam pangkalan militer dan depo minyak di lepas pantai.
Selanjutnya, saat itu Hamas telah melengkapi sayap militer pasukan Al-Qassam dengan drone, yakni drone kamikaze Shihab, yang dibuat sendiri dengan meniru drone Adabil HESA Iran. Dengan kekuatan alutsista seadanya dan strategi memanfaatkan celah kekuatan Israel yang bisa tembus, Hamas disebut sukses mencapai tujuan terbatas. Apa itu?
Hamas berhasil membangun opini publik, menggalang dukungan massa, memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin Palestina, menunjukkan diri sebagai pelindung Yerusalem dan Palestina, dan menekankan posisinya sebagai pemangku kepentingan penting dalam proses perdamaian Palestina.
baca juga: Serangan Roket Hamas Tewaskan 22 Warga Israel
Tak kalah pentingnya, Hamas berhasil meningkatkan dilema keamanan dan faktor ancaman Israel. Pada serangan terbaru ini, Hamas memahami betul strategi perang ala Sun Tzu, yakni kenali siapa musuhmu, atur rencanamu dan hadapi segala risiko.
Dengan pemahaman ini Hamas kembali memilih strategi perang asimetris seperti pada 2021, namun dengan spektrum lebih kompleks dan massif. Walaupun perang masih berlangsung, pada gebrakan pertama (first strike) Hamas berhasil meruntuhkan reputasi militer Israel yang telah terbangun selama 50.
Mossad yang selama ini begitu agung namanya di dunia intelijen, gagal total mengantisipasi rencana serangan Hamas, hingga ada yang menyebut serangan Sabtu pagi itu sebagai peristiwa 9/11 di Israel. Bagaimana perang asimetris berlangsung pada 2023 melalui Operasi Badai Al Aqsa ini dan seperti apa implementasinya?
1.Kekuatan Tak Seimbang
Seperti diketahui, Hamas merupakan bagian kelompok Ikhwanul Muslimin Palestina yang didirikan di Gaza pada 1987. Pada 2006, Hamas memenangkan pemilihan Dewan Legislatif Palestina dan memperkuat posisinya melalui Intifadah pertama dan kedua.Sebagai kelompok militan, kekuatan Hamas sudah pasti jomplang dibanding Israel. Betapa tidak, berdasar sejumlah laporan Hamas saat ini diduga hanya memiliki 4.000-pasukan.
baca juga: Intip Perbandingan Paramotor Versi Hamas dengan TNI
Adapun untuk alutsista, seperti pernah dilaporkan TRT Word berdasar pengamatan intelijen Israel, Hamas memiliki 5.000-6.000 roket yang hanya bisa menjangkau Gaza dengan jarak tembak 45-55 km.Namun Hamas juga memiliki puluhan roket berdaya tembak 100-160 km, dan ratusan roket berdaya tembak sejauh 70-80 km yang bisa mencapai Tel Aviv.
Sedangkan Israel tak perlu dipertanyakan lagi. Pada 2023 ini menempati posisi 18 dari kekuatan militer dunia veri Global Fire Power dengan skor PwrIndx 0,2757 (skor pada 0,0000 dan dianggap sempurna). Berbagai senjata yang dimiliki merupakan state of the art, sehingga seringkali dijadikan banch marktentang alutsista ideal yang harus dimiliki militer suatu negara.
2.Serangan Mendadak
Israel benar-benar tidak pernah menduga sehari setelah peringatan 50 tahun Perang 1973 atau Perang Yon Kippur, Hamas melakukan serangan besar-besaran. Serangan yang dimulai sekitar pukul 06.30 waktu setempat dengan menembakkan 3000 roket, yang diikuti infiltrasi mendadak Hamas ke wilayah yang dikuasai Israel.
Suksesnya operasi Badai Al-Aqsa pun menandai kegagalan besar intelijen Israel yang dianggap memiliki jaringan terluas dan tercanggih di kawasan Timur Tengah. Jurnalis BBC, Frank Gardner, mengilustrasikan di pengujung hari raya Yahudi itu mereka (intelijen Israel) tengah tertidur di belakang kemudi.
baca juga: 7 Fakta Pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin
Mereka tidak menduga Hamas yang beberapa tahun ini diam dan terlihat lemah ternyata telah mengonsolidasikan kekuatan yang dahsyat dan mampu membuat kejutan.Dengan demikian, Hamas mampu merahasiakan konsolidasi kekuatan dan rencana serangan dengan sempurna.
Selain mampu menyembunyikan informasi, Hamas juga memanfaatkan penggunaan terowongan dan fasilitas bawah tanah untuk membantu penyembunyian persiapan dari intelijen Israel hingga persiapan serangan mampu disembunyikan, yang oleh badan intelijen sebagai background noise.
3.Teknologi-Metode Kreatif dan Tidak Lazim
Secara teoritis mustahil Hamas bisa mendobrak sistem pertahanan Iron Dome yang sangat canggih dan sempurna melindungi wilayah Israel sejak 2006 dengan nilai investasi miliaran US dolar. Namun faktanya, Hamas menemukan celah dan menaklukkannya dengan teknologi sangat murah.
baca juga: Bentrok dengan Hamas, 123 Tentara Israel Tewas
Sejumlah laporan menyebut Hamas menembakkan roket jarak pendek Qassam-diambil dari nama Brigade Al Qassam- yang harganya hanya di kisaran Rp4,2 juta-Rp11,2 juta. Dengan penembakan 5.000 roket yang dilakukan hampir bersamaan dan masif, kemampuan Iron Dome pun tereksploitasi hingga kewalahan.
Rudal Tamir seharga Rp2,1 miliar per biji diobral sampai habis, hingga rudal Patriot seharga Rp62,9 miliar juga harus ditembakkan. Karena itu, ratusan roket murah meriah milik Hamas pun ada yang berhasil menembus Iron Dome dan menghantam wilayah Israel.
Mengacu pada serangan roket pada perang 2021, seperti dilaporkan Jerusalem Pos, bisa jadi Hamas menembakkan roket pada lintasan rendah, sehingga bisa lolos dari jaring iron dome.Pada saat hampir bersamaaan, Hamas meluncurkan drone kamikaze secara ekstensif.
baca juga: Bagaimana Kelompok Pejuang Hamas Palestina Mendapatkan Senjata?
Padahal, kekuatan militer Israel pada 2010 berada di peringkat ke-20 dalam daftar 140 negara berdasarkan tinjauan tahunan GFP (Global Fire Power) 2019 dengan skor Indeks Kekuatan (PwrIndx) sebesar 0,3464 (skor pada 0,0000 dan dianggap sempurna).
Untuk melawan kekuatan IDF yang begitu perkasa, Hamas hanya menggunakan taktik gerilya melalui terowongan ofensif untuk melakukan serangan lintas perbatasan ke Israel; membuat roket seri Qassam guna mengancam Israel di kota-kota selatan seperti Ashkelon, Sderot, mengincar enam pangkalan militer dan depo minyak di lepas pantai.
Selanjutnya, saat itu Hamas telah melengkapi sayap militer pasukan Al-Qassam dengan drone, yakni drone kamikaze Shihab, yang dibuat sendiri dengan meniru drone Adabil HESA Iran. Dengan kekuatan alutsista seadanya dan strategi memanfaatkan celah kekuatan Israel yang bisa tembus, Hamas disebut sukses mencapai tujuan terbatas. Apa itu?
Hamas berhasil membangun opini publik, menggalang dukungan massa, memproyeksikan dirinya sebagai pemimpin Palestina, menunjukkan diri sebagai pelindung Yerusalem dan Palestina, dan menekankan posisinya sebagai pemangku kepentingan penting dalam proses perdamaian Palestina.
baca juga: Serangan Roket Hamas Tewaskan 22 Warga Israel
Tak kalah pentingnya, Hamas berhasil meningkatkan dilema keamanan dan faktor ancaman Israel. Pada serangan terbaru ini, Hamas memahami betul strategi perang ala Sun Tzu, yakni kenali siapa musuhmu, atur rencanamu dan hadapi segala risiko.
Dengan pemahaman ini Hamas kembali memilih strategi perang asimetris seperti pada 2021, namun dengan spektrum lebih kompleks dan massif. Walaupun perang masih berlangsung, pada gebrakan pertama (first strike) Hamas berhasil meruntuhkan reputasi militer Israel yang telah terbangun selama 50.
Mossad yang selama ini begitu agung namanya di dunia intelijen, gagal total mengantisipasi rencana serangan Hamas, hingga ada yang menyebut serangan Sabtu pagi itu sebagai peristiwa 9/11 di Israel. Bagaimana perang asimetris berlangsung pada 2023 melalui Operasi Badai Al Aqsa ini dan seperti apa implementasinya?
1.Kekuatan Tak Seimbang
Seperti diketahui, Hamas merupakan bagian kelompok Ikhwanul Muslimin Palestina yang didirikan di Gaza pada 1987. Pada 2006, Hamas memenangkan pemilihan Dewan Legislatif Palestina dan memperkuat posisinya melalui Intifadah pertama dan kedua.Sebagai kelompok militan, kekuatan Hamas sudah pasti jomplang dibanding Israel. Betapa tidak, berdasar sejumlah laporan Hamas saat ini diduga hanya memiliki 4.000-pasukan.
baca juga: Intip Perbandingan Paramotor Versi Hamas dengan TNI
Adapun untuk alutsista, seperti pernah dilaporkan TRT Word berdasar pengamatan intelijen Israel, Hamas memiliki 5.000-6.000 roket yang hanya bisa menjangkau Gaza dengan jarak tembak 45-55 km.Namun Hamas juga memiliki puluhan roket berdaya tembak 100-160 km, dan ratusan roket berdaya tembak sejauh 70-80 km yang bisa mencapai Tel Aviv.
Sedangkan Israel tak perlu dipertanyakan lagi. Pada 2023 ini menempati posisi 18 dari kekuatan militer dunia veri Global Fire Power dengan skor PwrIndx 0,2757 (skor pada 0,0000 dan dianggap sempurna). Berbagai senjata yang dimiliki merupakan state of the art, sehingga seringkali dijadikan banch marktentang alutsista ideal yang harus dimiliki militer suatu negara.
2.Serangan Mendadak
Israel benar-benar tidak pernah menduga sehari setelah peringatan 50 tahun Perang 1973 atau Perang Yon Kippur, Hamas melakukan serangan besar-besaran. Serangan yang dimulai sekitar pukul 06.30 waktu setempat dengan menembakkan 3000 roket, yang diikuti infiltrasi mendadak Hamas ke wilayah yang dikuasai Israel.
Suksesnya operasi Badai Al-Aqsa pun menandai kegagalan besar intelijen Israel yang dianggap memiliki jaringan terluas dan tercanggih di kawasan Timur Tengah. Jurnalis BBC, Frank Gardner, mengilustrasikan di pengujung hari raya Yahudi itu mereka (intelijen Israel) tengah tertidur di belakang kemudi.
baca juga: 7 Fakta Pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin
Mereka tidak menduga Hamas yang beberapa tahun ini diam dan terlihat lemah ternyata telah mengonsolidasikan kekuatan yang dahsyat dan mampu membuat kejutan.Dengan demikian, Hamas mampu merahasiakan konsolidasi kekuatan dan rencana serangan dengan sempurna.
Selain mampu menyembunyikan informasi, Hamas juga memanfaatkan penggunaan terowongan dan fasilitas bawah tanah untuk membantu penyembunyian persiapan dari intelijen Israel hingga persiapan serangan mampu disembunyikan, yang oleh badan intelijen sebagai background noise.
3.Teknologi-Metode Kreatif dan Tidak Lazim
Secara teoritis mustahil Hamas bisa mendobrak sistem pertahanan Iron Dome yang sangat canggih dan sempurna melindungi wilayah Israel sejak 2006 dengan nilai investasi miliaran US dolar. Namun faktanya, Hamas menemukan celah dan menaklukkannya dengan teknologi sangat murah.
baca juga: Bentrok dengan Hamas, 123 Tentara Israel Tewas
Sejumlah laporan menyebut Hamas menembakkan roket jarak pendek Qassam-diambil dari nama Brigade Al Qassam- yang harganya hanya di kisaran Rp4,2 juta-Rp11,2 juta. Dengan penembakan 5.000 roket yang dilakukan hampir bersamaan dan masif, kemampuan Iron Dome pun tereksploitasi hingga kewalahan.
Rudal Tamir seharga Rp2,1 miliar per biji diobral sampai habis, hingga rudal Patriot seharga Rp62,9 miliar juga harus ditembakkan. Karena itu, ratusan roket murah meriah milik Hamas pun ada yang berhasil menembus Iron Dome dan menghantam wilayah Israel.
Mengacu pada serangan roket pada perang 2021, seperti dilaporkan Jerusalem Pos, bisa jadi Hamas menembakkan roket pada lintasan rendah, sehingga bisa lolos dari jaring iron dome.Pada saat hampir bersamaaan, Hamas meluncurkan drone kamikaze secara ekstensif.
Lihat Juga :