Strategi Perang Asimetris ala Hamas Menggempur Israel

Selasa, 17 Oktober 2023 - 05:10 WIB
loading...
A A A
Analisis badan intelijen drone swasta DroneSec menunjukkan ada dua jenis drone yang digunakan, yakni drone FPV murah dilengkapi bahan peledak dan drone sayap tetap baru yang juga bermuatan amunisi. Armada drone sederhana membantu membuka jalan bagi serangan besar-besaran.

Hebatnya, sasaran terarah pada menara penjaga, menara keamanan, pos perbatasan, menara komunikasi, dan kamera CCTV – yang memiliki pengenalan wajah. Drone, di antaranya dinamai Zouari -diambil dari nama Mohamed Zouari, inisiator drone yang terbunuh pada 2016- bahkan berhasil menghanguskan Tank Merkava-4 yang konon dianggap tercanggih di dunia.

baca juga: Hamas Nyatakan Perang Habis-habisan Melawan Israel

Analisis menyebut, penggunaan drone sangat efektif karena sistem pertahanan Israel dirancang untuk menargetkan rudal, bukan serangan drone.Robeknya payung udara dan melemahnya konsentrasi penangkisan udara yang dilakukan IDF membuka jalan Hamas menginfiltrasi pasukannya ke wilayah Israel, dengan operasi multi-domainyang dilakukan lewat semua matra.

Caranya pun sungguh tidak biasa. Pasukan Hamas menggunakan paralayang bermotor yang diluncurkan dari darat dan laut untuk menembus tembok dan melewati perbukitan secara cepat dan efektif menuju sasaran,seperti festival musik yang menjadi tempat terbanyak jatuhnya korban jiwa dari Israel dan beberapa titik strategis di Gaza, yang kemudian dianggap sebagai sergapan Al-Aqsa.

Serangan lewat paralayang yang tidak lazim membuat Israel gagal menganggap sebagai ancaman serius.Israel tidak menyadari Hamas menggunakan taktik yang pernah digunakan Sekutu dan Jerman pada perang dunia II untuk menyusup ke garis belakang musuh. Pada saat bersamaan, pasukan elit berkekuatan 400 orang meledakkan dan membuldozer benteng Gaza, serta memotong kawat berduri untuk memasuki wilayah Israel.

Beberapa pasukan masuk menggunakan kendaraan dua dan roda empat langsung menyerang garis pertahanan pertama Israel, menyerbu tempat tidur tentara dan merebut pangkalan serta markas besar operasi militer Israel di Gaza selatan.Di sisi lain, Hamas juga belajar dari taktik pejuang Jenin selama Pertempuran Jenin pada tahun 2002 yang menggunakan kombinasi taktik pemberontakan, penggunaan alat peledak rakitan atau IED, dan strategi perang kota melawan militer Israel.

Penggunaan IED sangat efektif mengganggu operasi militer Israel. IED berbiaya rendah dan mudah disembunyikan, menjadikannya alat yang berharga untuk peperangan asimetris. Dengan IED Hamas menargetkan kendaraan, patroli, dan instalasi militer Israel.

baca juga: Hacker Rusia Klaim Membantu Hamas Serang Israel

Dalam menyiapkan serangan, Hamas juga menggunakan strategi yang cerdik. Dilansir dari Reuters, strategi dimaksud adalah membangun permukiman tiruan Israel di Gaza sebagai sarana latihan pendaratan militer dan penyerbuan. Hamas pun membuat video persiapan tersebut.

Tapi Israel sudah terlalu percaya diri dan tidak menggubris serta meyakini Hamas tidak akan sampai melakukan konfrontasi. Respons Israel yang demikian terjadi karena di sisi lain Hamas membangun kesan pihaknya lebih fokus memperjuangkan nasib masyarakat Gaza agar mendapat lapangan pekerjaan dan tidak tertarik memulai serangan baru.

4.Melibatkan Spektrum Astagatra dan Pancagatra

Pengalaman bertempur dengan Israel, khususnya selama perang di Gaza tahun 2014, mengajarkan Hamas pentingnya implementasi perang perkotaan dan penggunaan infrastruktur sipil sebagai perisai. Pada Operasi Badai Al-Aqsa, Hamas menggunakan daerah padat penduduk sebagai lokasi peluncuran roket dan menyembunyikan senjata serta pusat komando dan kendali di bangunan sipil. Strategi ini tentu menyulitkan Israel, karena serangan terhadap masyarakat sipil merupakan pelanggaran hukum internasional.

baca juga: Madonna Mengutuk Serangan Hamas, Tegas Dukung Israel

Sejak pertempuran Jenin 2002,Hamas telah banyak berinvestasi membangun infrastruktur terowongan, membangun jaringan jalur bawah tanah yang luas yang memungkinkan mereka melewati pos pemeriksaan Israel dan melancarkan serangan dari lokasi yang tidak terduga. Serangan ini telah membawa kejutan ke tingkat yang baru. Melalui jaringan terowongan itulah Hamas memindahkan pejuang dan perbekalan, menghindari pasukan Israel, dan melancarkan serangan mendadak.

Pada 2014, The Washington Post melaporkan bahwa pasukan IDF menemukan terowongan sepanjang panjang 2,4 kilometer. Di dalam terowongan sedalam 66 kaki itu terdapat fasilitas listrik dan perbekalan untuk bertahan selama beberapa bulan. Diperkirakan telah dibangun dengan biaya US$10 juta menggunakan 800 ton beton.

Karena itulah, pada perang Mei 2021, Israel menargetkan jaringan terowongan dan mengklaim 160 pesawat Israel menyerang lebih dari 150 target bawah tanah di Gaza utara sekitar Beit Lahiya. Bahkan untuk operasi terowongan, IDF secara khusus membentuk unit perang bawah tanah yang dibekali teknologi militer untuk mendeteksi terowongan.

Pada serangan Sabtu tersebut, Hamas tampaknya juga mempelajari aspek pancagatra, termasuk di dalamnya aspek sosial dan ideologi. Seperti diketahui, pada tanggal 7 Oktober tersebut tepat hari raya Sabat. Perayaan itu banyak dimanfaatkan warga Israel untuk menghabiskan waktu bersama di rumah atau di sinagog. Sebagian lainnya bertemu dengan kawan-kawan mereka.

Di sisi lain banyak juga warga Israel yang memanfaatkan untuk hiburan, seperti hadir di festival musk dekat Re’im, yang kemudian menjadi sasaran empuk serangan. Beberapa laporan menyebut,serangan yang dilakukan di pagi hari itu juga membawa keuntungan karena tentara IDF masih tertidur lelap.

Akan Terapkan Strategi Sama

Bila Israel tetap melampiaskan balan dendam dengan menyerang Hamas lewat Operasi Pedang Besi, meski dibekali berbagai alutsista canggih dan kendaraan lapis baja,IDF dipastikan tidak akan bisa dengan mudah melumpuhkan Hamas. Melihat positioning kekuatan Hamas versus IDF, maka strategi perang asimetris tetap akan jadi pedoman.

baca juga: Profil Hamas, Gerakan Perlawanan Islam Bermakna Semangat

Bila ditelusuri, strategi perang asimetris sudah menjadi nature strategic yang diterapkan Hamas maupun pejuang Palestina, karena itulah pilihan tepat dan paling memungkinkan. Hanya saja, semakin kuat alutsista yang dimiliki, penerapan strategi ini kian dinamis dan kompleks sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya, bila intifadah yang sebelumnya menggunakan ketapel dan batu, maka dengan kuatnya dukungan kekuatan –terutama bantuan teknis dan pendanaan jutaandolar Iran- maka militan akan menggunakan bahan peledak, mortir, berbagai jenis roket, drone kamikaze dan lainnya.

Dan,bila serangan darat dilakukan Israel dengan medan perang di wilayah Palestina yang tentu saja menjadi wilayah kekuasaan Hamas dengan medan yang sangat dipahami, maka aspek astagatra dan pancagatra akan menjadi titik tekan. Di Indonesia, implementasi konsep demikian mengarah pada perang semesta, yang melibatkan semua spektrum kekuatan yang dimiliki rakyat Palestina.

Pertanyaannya, walaupun dibekali lengkap dan tercanggih, siapkah fisik dan mental IDF melakukan perang di medan yang tidak dikuasainya vis a vis Hamas dan beragam unsur kekuatan militan yang didukung rakyat Palestina dengan skala lebih luas dan tempo panjang? Pengalaman sebelumnya, dalam empat putaran pertempuran Israel-Hamas sepanjang 2008-2021, Israel tidak pernah meraih hasil maksimal karena Hamas masih memegang kendali atas wilayah dimaksud.

Operasi Pedang Besi belum juga dilaksanakan termasuk karena alasan cuaca burukkarena IDF memang menanti cuaca membaik sehingga terlebih dulu mematangkan persiapan, atau kembali berpikir seribu kali tentang risiko yang akan mereka hadapi. (*)
(hdr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo-Macron Sepakat...
Prabowo-Macron Sepakat Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina
Kecam Israel atas Penahanan...
Kecam Israel atas Penahanan 9 WNI Misi ke Gaza, Menlu Sugiono: Pelanggaran Hukum Internasional
Pulang ke Tanah Air,...
Pulang ke Tanah Air, Relawan WNI Ceritakan Brutalnya Penyiksaan Tentara Israel
Mengharukan! Bocah 9...
Mengharukan! Bocah 9 Tahun Bawa Poster untuk Ayah yang Pulang usai Ditawan Israel
9 WNI yang Ditahan Israel...
9 WNI yang Ditahan Israel Tiba di Bandara Soekarno-Hatta
9 WNI Relawan Global...
9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Minggu Sore Ini
Iran Hentikan Serangan...
Iran Hentikan Serangan Balasan yang Menyakitkan ke Israel
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Dijadikan Ganti Rugi bagi Negara Arab, 3 Alasan Teheran Marah Besar!
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
Rekomendasi
Yeho Gathering 2026,...
Yeho Gathering 2026, Merayakan 20 Tahun Perjalanan Sekolah
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Tarif Transjabodetabek...
Tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara Soetta Disesuaikan, Pramono: Naik Transportasi Lain di Atas Rp100 Ribu
Berita Terkini
5 Jenderal dengan Karier...
5 Jenderal dengan Karier Paling Moncer hingga Menjadi Panglima TNI
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved