Keserumpunan Budaya Melayu: Adaptasi Mahasiswa Indonesia di Malaysia
Senin, 02 Oktober 2023 - 12:38 WIB
loading...
A
A
A
Adapun asal usul kata Melayu pertama kali muncul dalam catatan sejarah sekitar abad kedua masehi. Claudius Ptolemaeus atau lebih dikenal dengan Ptolemy menyebutkan adanya tanjung di Semenanjung Melayu bernama Maleuo-kolon, yang diyakini berasal dari bahasa Sansekerta Malaya yaitu kolam.
Orang Melayu bisa dikatakan sudah mulai berdatangan ke Indonesia pada abad ke-7, dan hal ini diperkuat dengan bukti dengan bangsa Melayu telah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya.
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya mengalami masa kejayaan relatif cepat karena lokasinya yang sangat strategis di Selat Malaka, menjadi pusat perdagangan penting selama berabad-abad lamanya. Banyak saudagar dari timur dan barat serta dari Kepulauan Nusantara bertemu dan mengadakan transaksi dagang. Tentu saja bahasa Melayu, atau semacam bahasa Melayu kuno, menjadi bahasa para saudagar itu.
Itulah sebabnya bahasa Melayu menjadi bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kegiatan manusia dan pusat administrasi kerajaan dan daerah-daerah taklukannya.
Selain itu, Sriwijaya juga merupakan pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Menurut Mees, Sriwijaya mendirikan suatu perguruam tinggi Buddha yang mahasiswanya datang dari semua penjuru kawasan yang dikuasainya.
Beberapa dari mahasiswa bahkan datang dari kerajaan-kerajaan Champa dan Kamboja. Bahasa pengantar pada perguruan tinggi dan pusat-pusat pendidikan lainnya adalah bahasa melayu kuno atau lingua franca Kw’en Lun. Hal ini memperkuat bukti bahwa hubungan antara Indonesia dan Melayu Malaysia telah terjalin sejak dahulu kala (Venus, 2015).
Dengan berjalannya waktu, perkembangan di Malaysia sangatlah luar biasa di segala aspek termasuk salah satunya yaitu di bidang pendidikannya. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi sebagian besar masyarakat di dunia.
Orang Melayu bisa dikatakan sudah mulai berdatangan ke Indonesia pada abad ke-7, dan hal ini diperkuat dengan bukti dengan bangsa Melayu telah menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya.
Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya mengalami masa kejayaan relatif cepat karena lokasinya yang sangat strategis di Selat Malaka, menjadi pusat perdagangan penting selama berabad-abad lamanya. Banyak saudagar dari timur dan barat serta dari Kepulauan Nusantara bertemu dan mengadakan transaksi dagang. Tentu saja bahasa Melayu, atau semacam bahasa Melayu kuno, menjadi bahasa para saudagar itu.
Itulah sebabnya bahasa Melayu menjadi bahasa resmi Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kegiatan manusia dan pusat administrasi kerajaan dan daerah-daerah taklukannya.
Selain itu, Sriwijaya juga merupakan pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan. Menurut Mees, Sriwijaya mendirikan suatu perguruam tinggi Buddha yang mahasiswanya datang dari semua penjuru kawasan yang dikuasainya.
Beberapa dari mahasiswa bahkan datang dari kerajaan-kerajaan Champa dan Kamboja. Bahasa pengantar pada perguruan tinggi dan pusat-pusat pendidikan lainnya adalah bahasa melayu kuno atau lingua franca Kw’en Lun. Hal ini memperkuat bukti bahwa hubungan antara Indonesia dan Melayu Malaysia telah terjalin sejak dahulu kala (Venus, 2015).
Dengan berjalannya waktu, perkembangan di Malaysia sangatlah luar biasa di segala aspek termasuk salah satunya yaitu di bidang pendidikannya. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi sebagian besar masyarakat di dunia.
Lihat Juga :