Terhalang Restu Masuk TNI, Panglima dari Bandung Selatan Ini Minta Bantuan Kiai Luluhkan Hati Ibunya
Sabtu, 16 September 2023 - 06:18 WIB
loading...
A
A
A
Sesampainya di tempat seleksi, Agus muda menjalani tes. Namun, tampaknya, saat itu Agus muda menyepelekan tes itu. Ia berpikir bahwa masuk Akabri itu mudah, berbekal pengalamannya pada tahun sebelumnya. Ia pun tidak mempersiapkan diri untuk menjalani tes.
Pada tahun itu, Agus pun gagal lolos. Bahkan ia telah gagal di seleksi awal. Ya, ia harus kembali menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.
Tak berputus asa, setahun kemudian pada 1984, Agus untuk ketiga kalinya mengikuti seleksi calon taruna Akabri. Namun, sang ibu belum juga meridai. Siti Rohmah Latifah tetap pada keputusan bahwa anaknya tidak boleh menjadi tentara.
Kemudian, secara diam-diam, Agus muda mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi. Berbekal pengalamannya, ia telah mengetahui syarat-syarat untuk mengikuti seleksi.
Salah satu persyaratan seleksi calon taruna Akabri adalah surat izin dari orangtua. Surat itulah yang menjadi ganjalan karena ia tahu bahwa ia tidak akan diizinkan oleh orang tuanya.
"Pak, ini tanda tangan di sini," pinta Agus muda kepada ayahnya. Agus muda menyodorkan kertas kosong. Ia meminta ayahnya untuk menandatangani kertas kosong itu.
"Untuk apa ini?" tanya ayahnya.
"Untuk kuliah."
Agus muda pun mendapatkan tanda tangan dari ayahnya pada posisi yang telah ia tentukan. Kemudian, ia ketik surat izin itu dengan tanda tangan yang telah tergores di kertas itu. Ia pun mendaftarkan diri ke Kodam III Siliwangi.
Pada saat seleksi, karena telah mempersiapkannya dengan matang, Agus muda melalui seleksi dengan mudah. Sehari-hari, hal yang ia lakukan hanyalah latihan dan berdoa. Ia tidak pernah lepas dari sajadah.
Tak satu pun waktu yang ia sia-siakan. Bahkan, ia menyempatkan diri untuk berkonsultasi ke dokter mengenai kesehatannya. Ia pun menjalankan amalan-amalan yang diberikan oleh gurunya, KH Hasan Basri.
Selama menjadi mahasiswa, Agus muda kerap belajar agama dan berkonsultasi dengan Kiai Hasan Basri di pesantren di Cigondewah. Kiai Hasan Basri memang memiliki hubungan yang erat sejak lama dengan keluarga Ahmad Mustofa, ayahanda Agus Rohman.
Agus muda kerap menceritakan keinginannya untuk menjadi tentara. Kiai Hasan Basri memahami betul keinginan Agus muda. Ia melihat bahwa jalan Agus ada pada ranah militer. Ia yakin bahwa Agus dapat sukses di dunia militer. Bangku perkuliahan bukanlah dunianya, bukanlah jalan bagi Agus untuk meraih sukses.
Saat akan berangkat ke Magelang untuk menjalani tes tahap akhir, Agus bingung karena ia belum mendapat restu dari ibunya. Hal itu ia sampaikan kepada gurunya Kiai Hasan Basri.
Akhirnya, Kiai Hasan Basri menyuruh Agus muda untuk memanggil Ibunya. Kiai pun berbicara dengan Siti Rohmah Latifah mengenai keinginan Agus muda untuk menjadi tentara.
"Agus teh memang jalannya di tentara. Itu sudah jadi takdirnya. Bu Haji mah doain saja sekarang mah, biar saya yang awasi. Hidup mati mah di tangan Allah," kata Kiai Hasan Basri.
Kiai Hasan Basri menunjukkan bukti-bukti bahwa Agus muda akan sukses berkarier di tentara. Akhirnya, pikiran Siti Rohmah Latifah pun berubah. Meski saat keberangkatan ke seleksi calon taruna ia tidak mengantarkan anaknya ke tempat seleksi, ia tetap meridai anaknya menjadi tentara. Benar saja, rida ibu telah menjadi kunci.
Tak main-main, Agus Rohman menduduki jabatan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III di puncak karier militernya. Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1988 ini juga pernah tercatat menjadi Ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Baca juga: Kopral Mabuk Bikin Resah Warga, Jenderal TNI AD Ini Beri Hukuman Saf Depan Setiap Salat Jumat
Selain itu, pria kelahiran Bandung, Jawa Barat 15 Agustus 1963 ini juga pernah menduduki sejumlah jabatan penting seperti Danrem 061/Surya Kencana, Kasdivif 1/Kostrad, Kadisjasad, Pangdivif 1/Kostrad, dan Pangdam XVI/Pattimura.
Pada tahun itu, Agus pun gagal lolos. Bahkan ia telah gagal di seleksi awal. Ya, ia harus kembali menjalani hari-hari sebagai mahasiswa.
Tak berputus asa, setahun kemudian pada 1984, Agus untuk ketiga kalinya mengikuti seleksi calon taruna Akabri. Namun, sang ibu belum juga meridai. Siti Rohmah Latifah tetap pada keputusan bahwa anaknya tidak boleh menjadi tentara.
Kemudian, secara diam-diam, Agus muda mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi. Berbekal pengalamannya, ia telah mengetahui syarat-syarat untuk mengikuti seleksi.
Salah satu persyaratan seleksi calon taruna Akabri adalah surat izin dari orangtua. Surat itulah yang menjadi ganjalan karena ia tahu bahwa ia tidak akan diizinkan oleh orang tuanya.
"Pak, ini tanda tangan di sini," pinta Agus muda kepada ayahnya. Agus muda menyodorkan kertas kosong. Ia meminta ayahnya untuk menandatangani kertas kosong itu.
"Untuk apa ini?" tanya ayahnya.
"Untuk kuliah."
Agus muda pun mendapatkan tanda tangan dari ayahnya pada posisi yang telah ia tentukan. Kemudian, ia ketik surat izin itu dengan tanda tangan yang telah tergores di kertas itu. Ia pun mendaftarkan diri ke Kodam III Siliwangi.
Pada saat seleksi, karena telah mempersiapkannya dengan matang, Agus muda melalui seleksi dengan mudah. Sehari-hari, hal yang ia lakukan hanyalah latihan dan berdoa. Ia tidak pernah lepas dari sajadah.
Tak satu pun waktu yang ia sia-siakan. Bahkan, ia menyempatkan diri untuk berkonsultasi ke dokter mengenai kesehatannya. Ia pun menjalankan amalan-amalan yang diberikan oleh gurunya, KH Hasan Basri.
Selama menjadi mahasiswa, Agus muda kerap belajar agama dan berkonsultasi dengan Kiai Hasan Basri di pesantren di Cigondewah. Kiai Hasan Basri memang memiliki hubungan yang erat sejak lama dengan keluarga Ahmad Mustofa, ayahanda Agus Rohman.
Agus muda kerap menceritakan keinginannya untuk menjadi tentara. Kiai Hasan Basri memahami betul keinginan Agus muda. Ia melihat bahwa jalan Agus ada pada ranah militer. Ia yakin bahwa Agus dapat sukses di dunia militer. Bangku perkuliahan bukanlah dunianya, bukanlah jalan bagi Agus untuk meraih sukses.
Saat akan berangkat ke Magelang untuk menjalani tes tahap akhir, Agus bingung karena ia belum mendapat restu dari ibunya. Hal itu ia sampaikan kepada gurunya Kiai Hasan Basri.
Akhirnya, Kiai Hasan Basri menyuruh Agus muda untuk memanggil Ibunya. Kiai pun berbicara dengan Siti Rohmah Latifah mengenai keinginan Agus muda untuk menjadi tentara.
"Agus teh memang jalannya di tentara. Itu sudah jadi takdirnya. Bu Haji mah doain saja sekarang mah, biar saya yang awasi. Hidup mati mah di tangan Allah," kata Kiai Hasan Basri.
Kiai Hasan Basri menunjukkan bukti-bukti bahwa Agus muda akan sukses berkarier di tentara. Akhirnya, pikiran Siti Rohmah Latifah pun berubah. Meski saat keberangkatan ke seleksi calon taruna ia tidak mengantarkan anaknya ke tempat seleksi, ia tetap meridai anaknya menjadi tentara. Benar saja, rida ibu telah menjadi kunci.
Tak main-main, Agus Rohman menduduki jabatan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III di puncak karier militernya. Lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1988 ini juga pernah tercatat menjadi Ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Baca juga: Kopral Mabuk Bikin Resah Warga, Jenderal TNI AD Ini Beri Hukuman Saf Depan Setiap Salat Jumat
Selain itu, pria kelahiran Bandung, Jawa Barat 15 Agustus 1963 ini juga pernah menduduki sejumlah jabatan penting seperti Danrem 061/Surya Kencana, Kasdivif 1/Kostrad, Kadisjasad, Pangdivif 1/Kostrad, dan Pangdam XVI/Pattimura.
(kri)
Lihat Juga :