alexametrics

Tangkal Depresi, Cegah Bunuh Diri

loading...
Tangkal Depresi, Cegah Bunuh Diri
Foto: dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - "Saya sebagai orang tua kecewa dengan kesimpulan itu (depresi) karena enggak mungkin anak saya bunuh diri. Kalau orang depresi menurut saya ya, awam, paling enggak dia tidak bisa kerja, tidak punya harapan.”

Dua penggal kalimat itu telontar dari bibir Suwandi, ayah Yodi Prabowo, editor salah satu stasiun TV yang meninggal karena bunuh diri. Raut duka masih terpancar dari wajah Suwandi saat melayani wawancara sebuah stasiun TV pada Sabtu (25/7) itu. Suwandi tidak percaya anaknya bunuh diri akibat depresi karena tidak menunjukkan tanda-tanda ada tekanan mental.

Penyebab kematian Yodi memang sempat menjadi teka-teki selama dua pekan. Namun semua itu terjawab setelah polisi mengungkap bahwa pemuda tersebut tidak dibunuh, melainkan bunuh diri dengan menusuk dirinya dengan pisau yang ia beli sendiri. Motivasi bunuh diri diduga karena depresi.

Kasus Yodi Prabowo mengonfirmasi bahaya depresi yang bisa berujung kematian dengan cara bunuh diri. Kasus depresi dan kesehatan mental lain perlu diberi perhatian lebih demi mencegah jatuhnya korban bunuh diri berikutnya. Pentingnya kampanye kesehatan mental kian relevan seiring pandemi corona (Covid-19) yang membuat tekanan yang dipikul seseorang bisa menjadi lebih berat. (Baca: Psikolog: Kematian Yogi Prabowo Mirip Kasus Vokalis Linkin Park)



Hubungan antara kesehatan mental dan pandemi ini telah dikonfirmasi oleh WHO. Pada Mei 2020 organisasi kesehatan dunia itu melaporkan ke Forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan krisis kesehatan mental yang membayangi negara-negara di dunia akibat Covid-19. Peringatan WHO ini dinilai penting menjadi kepedulian negara-negara yang selama ini perhatiannya terhadap kesehatan mental masih minim, termasuk Indonesia.

Karena itu pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta untuk fokus terhadap masalah tersebut. Negara perlu lebih giat melakukan upaya, terutama tindakan preventif dan promotif, agar penderita gangguan kejiwaan bisa terhindar dari hal buruk.



Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) DKI Jakarta Nova Riyanti Yusuf menyebut Indonesia termasuk negara yang belum mengarusutamakan kesehatan jiwa. “Ya, mau gimana lagi, kita juga sama termasuk yang enggak (perhatian),” kata Nova saat dihubungi kemarin.

Di masa pandemi ini, menurut Nova, perhatian terhadap kondisi kesehatan mental masyarakat makin penting. Dia memaparkan fakta betapa tingginya pengaruh pandemi tersebut terhadap kesehatan mental masyarakat. Menurutnya PDSKJI pernah membuka layanan swaperiksa untuk masyarakat.

Hingga 14 Mei lalu ada 2.364 responden dari 34 provinsi. Sekitar 72% peserta swaperiksa ini perempuan. Dari situ ketahuan peserta yang mengalami masalah psikologi sebanyak 69%. Perinciannya 68% cemas, 67% depresi, dan 77% trauma psikologis di masa Covid-19. (Baca juga: Kenapa Yodi Prabowo Bunuh Diri di Tempat Terpencil)

Nova menyebut, jika peserta lebih banyak yang terlibat, bisa jadi temuan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) juga lebih besar. “Harapannya, kalau ODMK ini ditangani segera, mereka tidak sampai menjadi ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa,” papar mantan anggota DPR itu.

Untuk meringankan tekanan mental di masa pandemi, Nova menyampaikan sejumlah cara. Di antaranya secara spiritual mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan meditasi atau yoga, memperbanyak komunikasi dengan orang lain lewat media sosial (medsos) atau melalui layanan pesan.

Dengan cara itu akan terbangun ketahanan emosional yang baik. “Terbangun emotional resilience atau kemampuan untuk melampaui kondisi-kondisi tidak beruntung seperti bencana, masalah keluarga, pekerjaan, masalah dengan sekolah, dan sebagainya,” urai Nova.

Kesadaran masyarakat untuk membantu orang yang mengalami gangguan kesehatan mental di Indonesia masih rendah. Tidak sedikit yang menuding orang yang sedang stres atau depresi sebagai pribadi yang lebay atau lemah. Padahal, depresi merupakan penyakit akibat adanya gangguan pada otak.

Dalam kasus kematian Yodi Prabowo, ada tanda-tanda yang dinilai bahwa pemuda itu sedang menyiapkan aksi nekat mengakhiri hidup. Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan, ada dua indikasi yang sebangun dengan temuan polisi bahwa Yodi bunuh diri. Pertama, cuplikan kesaksian bahwa Yodi berkata, "...kalau nanti aku enggak ada, kamu sedih enggak?" Menurut Reza, awam barangkali menganggap sepele perkataan semacam itu. Tapi dari perspektif psikologi, kalimat tersebut merupakan pertanda depresi ataupun depresi reaktif (depresi situasional).

Disebut depresi ketika tekanan berlangsung dalam waktu panjang sehingga terjadi penumpukan tekanan batin. Sementara itu depresi reaktif terjadi ketika individu berhadapan dengan trauma spesifik dan berlangsung dalam kurun lebih singkat. Apabila tidak segera diatasi, depresi reaktif tentu berpeluang memburuk menjadi depresi klinis.

“Perkataan korban, seperti yang diucapkan ulang oleh saksi, mengandung pemikiran tentang bunuh diri. Pemikiran semacam ini sama sekali tidak boleh dianggap enteng,” ujarnya saat dihubungi.

Menurut Reza, simpulan WHO menyebutkan bahwa sekitar 60% kasus bunuh diri memiliki transisi dalam bentuk pemikiran tentang bunuh diri menuju ke rencana bunuh diri, lalu berlanjut ke langkah bunuh diri. Itu berlangsung dalam kurun 12 bulan sejak pemikiran muncul untuk pertama kalinya.

Masyarakat menurut dia perlu lebih serius menyikapi perkataan tentang bunuh diri yang dikemukakan siapa pun. Perlakuannya sama ketika otoritas penerbangan tidak menoleransi ucapan "bom". “Ekspresi semacam itu patut ditafsirkan sebagai permintaan tolong sehingga pendengarnya perlu menyemangati orang-orang dengan suicidal ideation untuk selekasnya mencari bantuan medis dan psikis,” tandasnya.
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak