Hasto: Paradigma Pembangunan Harus Kembali ke Konsep Maritim
Sabtu, 12 Agustus 2023 - 17:58 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau kita melihat peta Alur Laut Kepulauan Indonesia, apa yang bisa kita lihat gambarkan dalam desain masa depan kita, Presiden Jokowi sudah membuat suatu desain masa depan kita," kata Hasto.
Baca juga: Gaya Asyik Kedai Kopi Bumi Citarik Menguliti Buku Susuk Kapal Borobudur
Presiden Jokowi, lanjut Hasto, telah membuat Indonesia terkoneksi dengan membangun agar negara tersambung dengan sistem global berdasarkan koridor strategis. Menurut Hasto, Presiden Jokowi melakukan percepatan infrastruktur yang membuat Sumatera terhubung. Di balik itu, koridor strategis dari Sumatera ialah sebagai pusat perkebunan. Di sisi lain, perguruan tinggi juga harus memberikan dukungan seperti menghasilkan riset terbaik.
"Universitas di setiap koridor strategis harus menjadi city of intellect, harus menjadi pusat pengembangan kepemimpinan intelektual tentang kemajuan wilayahnya. Bagaimana Sulawesi yang dirancang oleh Bung Karno pada 1958 sebagai sumber pangan, maka di situ harus dikembangkan," katanya.
Dengan memindahkan Ibu Kota Negara ke Kaltim, kata Hasto, Selat Lombok, Makassar, dan Bitung, bisa membangun pelabuhan bebas yang sangat potensial bagi Pasifik. Bung Karno mencita-citakan bahwa Indonesia harus menjadi negara terhebat di Hindia, menjadi pintu gerbang di Pasific.
"Karena masa depan dunia ada di Pasific. Artinya apa? Di dalam merancang SDM kita riset dan inovasi di dalam mempersiapkan para tenaga-tenaga pembangunan kita baik itu insinyur, dokter harus melihat koridor strategis ini, sehingga ke depan kita harus melihat laut sebagai jalan masa depan kita, sebagai jalan kejayaan bangsa kita. Kita harus membangun pusat-pusat pertumbuhan pada alur laut kepulauan Indonesia," kata Hasto.
Pria kelahiran Yogyakarta itu mencontohkan Indonesia mengimpor daging sapi dengan nilai Rp40 triliun setahun. Di masa Presiden Jokowi, koridor strategis kembali dikuatkan dengan membangun banyak bendungan agar Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa menjadi lokasi penggemukan sapi.
Baca juga: Gaya Asyik Kedai Kopi Bumi Citarik Menguliti Buku Susuk Kapal Borobudur
Presiden Jokowi, lanjut Hasto, telah membuat Indonesia terkoneksi dengan membangun agar negara tersambung dengan sistem global berdasarkan koridor strategis. Menurut Hasto, Presiden Jokowi melakukan percepatan infrastruktur yang membuat Sumatera terhubung. Di balik itu, koridor strategis dari Sumatera ialah sebagai pusat perkebunan. Di sisi lain, perguruan tinggi juga harus memberikan dukungan seperti menghasilkan riset terbaik.
"Universitas di setiap koridor strategis harus menjadi city of intellect, harus menjadi pusat pengembangan kepemimpinan intelektual tentang kemajuan wilayahnya. Bagaimana Sulawesi yang dirancang oleh Bung Karno pada 1958 sebagai sumber pangan, maka di situ harus dikembangkan," katanya.
Dengan memindahkan Ibu Kota Negara ke Kaltim, kata Hasto, Selat Lombok, Makassar, dan Bitung, bisa membangun pelabuhan bebas yang sangat potensial bagi Pasifik. Bung Karno mencita-citakan bahwa Indonesia harus menjadi negara terhebat di Hindia, menjadi pintu gerbang di Pasific.
"Karena masa depan dunia ada di Pasific. Artinya apa? Di dalam merancang SDM kita riset dan inovasi di dalam mempersiapkan para tenaga-tenaga pembangunan kita baik itu insinyur, dokter harus melihat koridor strategis ini, sehingga ke depan kita harus melihat laut sebagai jalan masa depan kita, sebagai jalan kejayaan bangsa kita. Kita harus membangun pusat-pusat pertumbuhan pada alur laut kepulauan Indonesia," kata Hasto.
Pria kelahiran Yogyakarta itu mencontohkan Indonesia mengimpor daging sapi dengan nilai Rp40 triliun setahun. Di masa Presiden Jokowi, koridor strategis kembali dikuatkan dengan membangun banyak bendungan agar Nusa Tenggara Timur (NTT) bisa menjadi lokasi penggemukan sapi.
Lihat Juga :