Gaya Asyik Kedai Kopi Bumi Citarik Menguliti Buku Susuk Kapal Borobudur
Minggu, 16 Juli 2023 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
baca juga: KTT G20, Langkah Strategis Indonesia Menuju Poros Maritim Dunia
Ia menuturkan, upaya meningkatkan minat baca telah ia lakukan jauh sebelum dibukanya Kopi Bumi Citarik. Malah, awalnya ia menyediakan perpustakaan di depan rumahnya yang juga berlokasi di kawasan Warung Jambu.
“Saat itu banyak anak-anak yang mampir untuk membaca komik, dan buku-buku lainnya. Jadi bedah buku ini hanya kelanjutan upaya kami untuk menumbuhkan minat baca,” tandasnya.
Menggelorakan Narasi Besar Kebaharian Nusantara
Cerita buku novel “Susuk Kapal Borobudur” diambil dari kisah perjalanan para kru Ekspedisi Kapal Borobudur yang berlayar dari Indonesia menuju Afrika dalam rangka membawa misi kebudayaan, pada 2003 silam.
Selain bercerita tentang petualangan, historis, dan seabrek dinamika selama pelayaran, kisah di novel ini tentunya membangkitkan memori sekaligus menggelorakan narasi besar bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari. Narasi besar ini juga sejurus dengan visi pemerintahan Presiden Jokowi , yang hendak menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia .
“Besar harapan novel ini bisa menginspirasi anak muda Indonesia hingga memiliki semangat untuk menggelorakan narasi besar kebaharian Nusantara,” tutur penulis Muhammad Habibie.
baca juga: Visi Jokowi Jadikan Indonesia Poros Maritim Dunia Sejahterakan Masyarakat Pesisir
"Ekspedisi Kapal Borubudur yang diceritakan dalam buku Susuk Kapal Borobudur, sebagai jawaban tegas atas slogan masyarakat Indonesia yang kerap berkoar 'Nenek Moyangku Orang Pelaut'," timpal penulis Abdul Aziz.
Anak-anak muda Indonesia yang saat itu menjadi kru Kapal Borobudur sebagai wujud nyata untuk membangkitkan semangat bahari pemuda Nusantara. Ketangguhan mereka mengarungi samudera selama perjalanan Ekspedisi Kapal Borobudur, hal luar biasa yang patut diacungi jempol.
![Gaya Asyik Kedai Kopi Bumi Citarik Menguliti Buku “Susuk Kapal Borobudur”]()
Selama tujuh bulan, para kru yang saat itu masih berstatus mahasiswa mengendarai kapal kayu berukuran 18,29 meter, menempuh medan berat perairan yang berjarak 11.000 mil.
Kapal layar tak bermesin yang hanya mengandalkan kekuatan angin, bertolak dari Pagerungan, Jawa Timur (tempat dibuatnya Kapal Borobudur), tiba di teluk Jakarta untuk kemudian dilepas secara resmi oleh Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri , lalu menjelajah dua samudera Hindia dan Atlantik, melintasi Madagaskar, hingga berakhir di Ghana, Afrika.
Ia menuturkan, upaya meningkatkan minat baca telah ia lakukan jauh sebelum dibukanya Kopi Bumi Citarik. Malah, awalnya ia menyediakan perpustakaan di depan rumahnya yang juga berlokasi di kawasan Warung Jambu.
“Saat itu banyak anak-anak yang mampir untuk membaca komik, dan buku-buku lainnya. Jadi bedah buku ini hanya kelanjutan upaya kami untuk menumbuhkan minat baca,” tandasnya.
Menggelorakan Narasi Besar Kebaharian Nusantara
Cerita buku novel “Susuk Kapal Borobudur” diambil dari kisah perjalanan para kru Ekspedisi Kapal Borobudur yang berlayar dari Indonesia menuju Afrika dalam rangka membawa misi kebudayaan, pada 2003 silam.
Selain bercerita tentang petualangan, historis, dan seabrek dinamika selama pelayaran, kisah di novel ini tentunya membangkitkan memori sekaligus menggelorakan narasi besar bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari. Narasi besar ini juga sejurus dengan visi pemerintahan Presiden Jokowi , yang hendak menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia .
“Besar harapan novel ini bisa menginspirasi anak muda Indonesia hingga memiliki semangat untuk menggelorakan narasi besar kebaharian Nusantara,” tutur penulis Muhammad Habibie.
baca juga: Visi Jokowi Jadikan Indonesia Poros Maritim Dunia Sejahterakan Masyarakat Pesisir
"Ekspedisi Kapal Borubudur yang diceritakan dalam buku Susuk Kapal Borobudur, sebagai jawaban tegas atas slogan masyarakat Indonesia yang kerap berkoar 'Nenek Moyangku Orang Pelaut'," timpal penulis Abdul Aziz.
Anak-anak muda Indonesia yang saat itu menjadi kru Kapal Borobudur sebagai wujud nyata untuk membangkitkan semangat bahari pemuda Nusantara. Ketangguhan mereka mengarungi samudera selama perjalanan Ekspedisi Kapal Borobudur, hal luar biasa yang patut diacungi jempol.

Selama tujuh bulan, para kru yang saat itu masih berstatus mahasiswa mengendarai kapal kayu berukuran 18,29 meter, menempuh medan berat perairan yang berjarak 11.000 mil.
Kapal layar tak bermesin yang hanya mengandalkan kekuatan angin, bertolak dari Pagerungan, Jawa Timur (tempat dibuatnya Kapal Borobudur), tiba di teluk Jakarta untuk kemudian dilepas secara resmi oleh Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri , lalu menjelajah dua samudera Hindia dan Atlantik, melintasi Madagaskar, hingga berakhir di Ghana, Afrika.
Lihat Juga :