Menanti Kepastian Poros Koalisi Politik Pilpres 2024
Sabtu, 06 Mei 2023 - 18:35 WIB
loading...
A
A
A
Pertemuan itu sepertinya juga menjadi ajang klarifikasi Golkar dan PAN terhadap sikap dan keputusan politik PPP ikut mendukung pencapresan Ganjar oleh PDIP. Bagaimanapun situasinya, walau dinyatakan KIB solid, guyub, rukun, harmonis, dan kuat, sepertinya tak lebih dari pernyataan politik. Faktanya, PPP sudah "berbeda" jalan dengan turut mencapreskan Ganjar.
Tak kalah dengan PPP, Airlangga sebagai Ketum Golkar, secara mengejutkan melakukan manuver politik dengan bertemu SBY dan AHY di Puri Cikeas (29/4/2024). Pertemuan ini diduga sebagai upaya politik antara Demokrat dan Golkar untuk menjajaki kemungkinan membentuk poros koalisi baru. Jika kedua partai ini bergabung maka terpenuhi syarat PT-nya mencapai 24 persen, artinya dapat mengusung capres dan cawapres. Atau paling tidak dapat menarik parpol lain untuk bergabung.
Apakah pertemuan Airlangga dengan SBY-AHY akan mengganggu stabilitas Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) antara Nasdem, Demokrat, dan PKS yang sudah ditandatangani 25 Maret 2023 lalu? Pascapertermuan itu belum ada komentar dari Nasdem dan PKS. Bisa jadi pertemuan antara Airlangga dengan SBY-AHY sebagai langkah politik menarik Golkar untuk bergabung dengan KPP.
Pergerakan politik tentu makin dinamis. KPP memang sudah bersepakat mengusung Anies Baswedan sebagai bacapres. Namun belum sepakat siapa yang akan menjadi bacawapres pendamping Anies. Dan tentu saja belum secara resmi-terbuka mendeklarasikan eksisntensi KPP, termasuk KPP juga belum mendeklarasikan Anies secara resmi bersama duduk satu meja, dan siapa bacawapresnya juga masih alot dibicarakan.
Lalu bagaimana dengan langkah politik yang akan ditempuh oleh Prabowo-Gerindra dan PKB-Cak Imin dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR)? Gerindra tetap kukuh mencapreskan Prabowo, tetapi belum tentu menggandeng Cak Imin sebagai cawapresnya. Ikatan politiknya masih sangat cair, pun demikian dengan kemungkinan Prabowo-Cak Imin berpasangan masih misteri.
Prabowo sempat diwacanakan menjadi cawapresnya Ganjar. Tapi secara diplomatis Prabowo menangkis dugaan itu dengan menyatakan bahwa elektabilitasnya sebagai capres makin tinggi dan partainya "agak kuat". Makin dekat atau sebalik makin menjauh titik pertemuan Prabowo-Cak Imin tergantung realitas politik yang terus bergerak dinamis.
Jika Prabowo misalnya memilih menjadi cawapresnya Ganjar, atau Prabowo tetap kukuh ingin maju jadi capres tapi tidak berpasangan dengan Cak Imin sebagai cawapres. Tentu eksistensi Koalisi KIR akan terancam. Namun, jika ruang gerak politik keduanya makin sempit, dan akhirnya terjadi kesepakatan Prabowo-Cak Imin maju berpasangan, ini juga tidak mudah.
Tak kalah dengan PPP, Airlangga sebagai Ketum Golkar, secara mengejutkan melakukan manuver politik dengan bertemu SBY dan AHY di Puri Cikeas (29/4/2024). Pertemuan ini diduga sebagai upaya politik antara Demokrat dan Golkar untuk menjajaki kemungkinan membentuk poros koalisi baru. Jika kedua partai ini bergabung maka terpenuhi syarat PT-nya mencapai 24 persen, artinya dapat mengusung capres dan cawapres. Atau paling tidak dapat menarik parpol lain untuk bergabung.
Apakah pertemuan Airlangga dengan SBY-AHY akan mengganggu stabilitas Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) antara Nasdem, Demokrat, dan PKS yang sudah ditandatangani 25 Maret 2023 lalu? Pascapertermuan itu belum ada komentar dari Nasdem dan PKS. Bisa jadi pertemuan antara Airlangga dengan SBY-AHY sebagai langkah politik menarik Golkar untuk bergabung dengan KPP.
Pergerakan politik tentu makin dinamis. KPP memang sudah bersepakat mengusung Anies Baswedan sebagai bacapres. Namun belum sepakat siapa yang akan menjadi bacawapres pendamping Anies. Dan tentu saja belum secara resmi-terbuka mendeklarasikan eksisntensi KPP, termasuk KPP juga belum mendeklarasikan Anies secara resmi bersama duduk satu meja, dan siapa bacawapresnya juga masih alot dibicarakan.
Lalu bagaimana dengan langkah politik yang akan ditempuh oleh Prabowo-Gerindra dan PKB-Cak Imin dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR)? Gerindra tetap kukuh mencapreskan Prabowo, tetapi belum tentu menggandeng Cak Imin sebagai cawapresnya. Ikatan politiknya masih sangat cair, pun demikian dengan kemungkinan Prabowo-Cak Imin berpasangan masih misteri.
Prabowo sempat diwacanakan menjadi cawapresnya Ganjar. Tapi secara diplomatis Prabowo menangkis dugaan itu dengan menyatakan bahwa elektabilitasnya sebagai capres makin tinggi dan partainya "agak kuat". Makin dekat atau sebalik makin menjauh titik pertemuan Prabowo-Cak Imin tergantung realitas politik yang terus bergerak dinamis.
Jika Prabowo misalnya memilih menjadi cawapresnya Ganjar, atau Prabowo tetap kukuh ingin maju jadi capres tapi tidak berpasangan dengan Cak Imin sebagai cawapres. Tentu eksistensi Koalisi KIR akan terancam. Namun, jika ruang gerak politik keduanya makin sempit, dan akhirnya terjadi kesepakatan Prabowo-Cak Imin maju berpasangan, ini juga tidak mudah.
Lihat Juga :