Menanti Kepastian Poros Koalisi Politik Pilpres 2024
Sabtu, 06 Mei 2023 - 18:35 WIB
loading...
A
A
A
Ada banyak faktor politik, elektabilitas, sebaran wilayah suara dukungan pemilih, dukungan NU dan faktor-faktor teknis politis lainnya, tentu juga wajib hukumnya dipertimbangkan oleh Prabowo-Gerindra dan Cak Imin-PKB, jika ingin memenangkan kontestasi Pilpres dan Pileg 2024.
Tentu, yang perlu juga "diwaspadai" oleh Prabowo-Gerindra, karena alotnya kepastian diantara keduanya, bisa saja PKB dan Cak Imin memilih langkah politik sendiri. Misalnya menyusul PPP merapat ke PDIP, atau mengikuti manuver Golkar menjajaki poros politik yang sudah dibangun oleh KPP.
Hingga saat ini, pergerakan dinamika komunikasi politik masih terus berlangsung. PPP "ancam" akan tetap di KIB jika capresnya sama yaitu Ganjar. Golkar menyebut bahwa KIB sedang menghadapi ujian, setelah PPP, PAN juga berpotensi hengkang dari KIB. Setelah bertemu dengan SBY-AHY, Airlangga kemudian melanjutkan manuver politiknya dengan bertemu Aburizal Bakrie dan Prabowo. Cak Imin-PKB bertemu AHY dan mencoba menggoda "iman" Demokrat.
Anies telah bertemu dengan Tim 8 KPP, dan menyebutkan bahwa cawapres Anies sudah mengerucut ke lima nama yang masih dirahasiakan dengan lima skenario politik dan baru akan diumumkan Juli mendatang. Bersamaan dengan itu, Surya Paloh bertemu dengan Luhut Binsar. Dalam pertemuan itu, Luhut mengaku telah memberikan saran kepada Paloh, siapa cawapres yang tepat sebagai pendamping Anies. Namun Luhut enggan menyebut nama cawapres yang diusulkannya.
Semua masih penuh dengan teka-teki, sekaligus masih serba mungkin. Tetapi harus diakui, pencapresan Ganjar oleh PDIP dan ikut didukung oleh PPP, secara teknis-politis telah mengubah peta dan arah koalisi parpol yang akan mengusung capres dan cawapres masing-masing. Tujuan akhirnya tentu kepastian politik. Ke mana akhirnya pilihan koalisi akan dilabuhkan, dan siapa capres dan cawapres yang cocok diusung bersama.
Tentu, yang perlu juga "diwaspadai" oleh Prabowo-Gerindra, karena alotnya kepastian diantara keduanya, bisa saja PKB dan Cak Imin memilih langkah politik sendiri. Misalnya menyusul PPP merapat ke PDIP, atau mengikuti manuver Golkar menjajaki poros politik yang sudah dibangun oleh KPP.
Hingga saat ini, pergerakan dinamika komunikasi politik masih terus berlangsung. PPP "ancam" akan tetap di KIB jika capresnya sama yaitu Ganjar. Golkar menyebut bahwa KIB sedang menghadapi ujian, setelah PPP, PAN juga berpotensi hengkang dari KIB. Setelah bertemu dengan SBY-AHY, Airlangga kemudian melanjutkan manuver politiknya dengan bertemu Aburizal Bakrie dan Prabowo. Cak Imin-PKB bertemu AHY dan mencoba menggoda "iman" Demokrat.
Anies telah bertemu dengan Tim 8 KPP, dan menyebutkan bahwa cawapres Anies sudah mengerucut ke lima nama yang masih dirahasiakan dengan lima skenario politik dan baru akan diumumkan Juli mendatang. Bersamaan dengan itu, Surya Paloh bertemu dengan Luhut Binsar. Dalam pertemuan itu, Luhut mengaku telah memberikan saran kepada Paloh, siapa cawapres yang tepat sebagai pendamping Anies. Namun Luhut enggan menyebut nama cawapres yang diusulkannya.
Semua masih penuh dengan teka-teki, sekaligus masih serba mungkin. Tetapi harus diakui, pencapresan Ganjar oleh PDIP dan ikut didukung oleh PPP, secara teknis-politis telah mengubah peta dan arah koalisi parpol yang akan mengusung capres dan cawapres masing-masing. Tujuan akhirnya tentu kepastian politik. Ke mana akhirnya pilihan koalisi akan dilabuhkan, dan siapa capres dan cawapres yang cocok diusung bersama.
(maf)