Beras Mahal, Saatnya Diversifikasi Pangan

Jum'at, 24 Februari 2023 - 11:00 WIB
loading...
A A A
Dengan perkiraan produksi padi yang tidak bisa lagi ditingkatkan akibat cuaca yang tak menentu yang menyebabkan munculnya sejumlah penyakit baru tanaman padi, hal itu akan mendorong harga beras naik secara signifikan di masa datang.

Melihat ketersediaan beras di tingkat global yang kian defisit, setiap negara akan memprioritaskan kebijakan pangan untuk mencukupi kebutuhan negara masing-masing. Negara dengan surplus pangan pun tidak akan serta-merta melakukan ekspor, mereka akan memperkuat cadangan pangannya.

Kearifan Lokal
Hobi pemerintah yang suka mengimpor beras telah membawa implikasi bias pada apresiasi kita terhadap pangan lokal. Ubi jalar dan singkong menjadi komoditas pangan inferior.

Ketika ada sejumlah orang di suatu daerah yang mengonsumsi singkong atau tiwul, mereka disebut miskin dan mengalami kelaparan. Inilah ganjalan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan nonberas berbasis sumber daya lokal sebagai pilar kedaulatan pangan.

Perkembangan menarik pada pola konsumsi pangan pokok sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya kontribusi energi dari umbi-umbian seiring peningkatan pendapatan.

Hasil analisis data Susenas pada rentang 10 tahun terakhir menunjukkan pola konsumsi pangan pokok pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, terutama di perdesaan, kian mengarah pada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu, khususnya mi instan.

Berasisasi dan miinstanisasi di tengah keluarga akibat dampak ekonomi kapitalistik telah menggeser pola makan berbasis kearifan lokal. Apabila mau melihat kondisi riil pola makan Nusantara pada masa lalu, tidak sulit menemukan hal yang (tidak) lazim di tengah keluarga semisal ulat sagu goreng dan belalang bakar.

Hal serupa dijumpai di tengah masyarakat Sumatera Utara, khususnya suku Batak Toba yang memiliki kearifan lokal untuk mengurangi tingkat konsumsi beras.

Di era awal kemerdekaan, bahkan sebelumnya, mengonsumsi singkong atau ubi jalar rebus sebagai makanan “pembuka” menjadi pilihan yang amat populer untuk penguatan ketahanan pangan. Pola konsumsi demikian dikenal dengan istilah manggadong (mengonsumsi gadong/ubisingkong sebelum makan nasi).

Pola makan manggadong bisa dibangkitkan kembali sebagai basis kekuatan ketahanan pangan di masa datang mengingat kandungan gizi singkong dan ubi jalar sangat baik.

Kedua jenis pangan lokal ini selain sebagai sumber karbohidrat, juga memiliki kandungan serat dan sumber antioksidan yang andal menangkal sejumlah penyakit degeneratif.

Inilah roh dari kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan yang mampu menumbuhkan kesadaran dari sudut pandang gizi bahwa manusia untuk dapat hidup aktif dan sehat tidak hanya tergantung dari satu jenis bahan pangan saja, tetapi memerlukan tidak kurang dari 40 jenis zat gizi yang bisa diperoleh dari berbagai jenis makanan.

Mengurangi impor beras harus terus dilakukan seiring dengan makin membaiknya program percepatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Perang di Mana-mana,...
Prabowo: Perang di Mana-mana, Kita Tidak Terlibat tapi Waspada
Prabowo Berkelakar Soal...
Prabowo Berkelakar Soal Reshuffle Zulhas usai Salah Sebut Nama Desa di Kebumen
Komisi IV DPR Sebut...
Komisi IV DPR Sebut PSN Wanam Harus Tetap Jalan untuk Wujudkan Ketahanan Pangan
Momen Prabowo Panen...
Momen Prabowo Panen Raya Jagung di Tuban, Naiki Alat Berat hingga Pakai Topi Koboi
Polri Target Bangun...
Polri Target Bangun 1.500 SPPG di Indonesia pada 2026
Didampingi Kapolri,...
Didampingi Kapolri, Prabowo Resmikan 10 Gudang Ketahanan Pangan-SPPG Polri di Tuban
Gelar Rakernas di Yogyakarta,...
Gelar Rakernas di Yogyakarta, APJI Perkuat Kolaborasi dan Profesionalisme
Pembudidaya Ikan Bioflok...
Pembudidaya Ikan Bioflok Karawang Sukses Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
Rekomendasi
Timnas Indonesia Sikat...
Timnas Indonesia Sikat Oman 2-0 di Babak Pertama FIFA Matchday
Link Live Streaming...
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Oman di FIFA Matchday
Youth ESG Maritime 2026...
Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Ini Beda Spek dan Harga...
Ini Beda Spek dan Harga Motor Listrik Mahal BGN Emmo JVX GT vs JVH Max
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved