Sisno Adiwinoto: Kasus Sambo Tak Bisa Dijadikan Dasar Polri Berada di Bawah Kemendagri
Rabu, 25 Januari 2023 - 21:12 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun kewenangan Polri luas dan besar sebagai konsekuensi dari luas, berat dan kompleksnya tanggung jawab Polri dalam mengemban tugasnya, namun hal itu tidak terlepas dari pengawasan atau kontrol, baik secara internal oleh Irwasum, Irwasda dan pengawasan melekat oleh atasan, maupun secara eksternal yang dilakukan oleh Kompolnas dan DPR (political control) serta adanya tanggung jawab Kapolri kepada Presiden sebagai Kepala Negara.
”Dengan legalitas, konstruksi, dan mekanisme kontrol sebagaimana yang diuraikan di atas, sepanjang semuanya dilaksanakan secara konsisten, maka kekhawatiran akan potensi munculnya Sambo-Sambo baru menjadi sesuatu yang tidak beralasan. Walaupun mungkin ada sesuatu yang salah di Polri, sehingga Ferdy Sambo bisa menyeret lebih dari 99 oknum polisi dalam kasusnya, namun jangan memakai logical falacy yang menggeneralisasi suatu kejadian seperti kasus Sambo tersebut,” tegasnya.
Kerusuhan di Brixton di Inggris pada 1981, Kerusuhan di Los Angeles USA pada 1992, kerusuhan di Gedung Capitol Hill Washington DC tidak serta merta mengharuskan sistem kepolisian di negara-negara tersebut harus diubah, meski harus ada evaluasi dan koreksi yang diperlukan. Melihat adanya kekurangan di Polri seperti kejadian kasus Sambo yang melibatkan puluhan anggota, Polri tidak serta merta harus merubah sistem kepolisian Indonesia yang sudah ada. ”Pernyataan Ibu Connie untuk memindahkan Polri ke Mendagri itu pernyataan keliru dan menyesatkan yang perlu diluruskan,” ucapnya.
Sisno mencontohkan, kedudukan Kepolisian Jepang itu di bawah Kompolnas (National Public Safety Commission) dan Kompolnas Jepang di bawah Perdana Menteri. Kompolnas Jepang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri dan lima anggota Kompolnas lain yang tidak boleh terkait dengan Partai Politik. Menurut Sisno, Kompolnas Jepang pernah berkunjung ke Kompolnas Indonesia pada 2019. Polisi Jepang bebas dari pengaruh dan kekuasaan Partai politik.
“Institusi Polri tidak bisa disandingkan ataupun disamakan dengan institusi kepolisian di negara lain, karena keberadaan Polri memiliki latar belakang sejarah, budaya, dan karakteristik ataupun jati diri sebagai Bhayangkara negara yang berbeda dengan negara lain. Polri punya jati diri dan karakteristik yang berbeda dengan polisi negara lain. Semoga ini bermanfaat bagi para pihak dalam memberikan saran, kritik dan masukan demi perbaikan serta kemajuan Polri kita semua,” ucapnya.
”Dengan legalitas, konstruksi, dan mekanisme kontrol sebagaimana yang diuraikan di atas, sepanjang semuanya dilaksanakan secara konsisten, maka kekhawatiran akan potensi munculnya Sambo-Sambo baru menjadi sesuatu yang tidak beralasan. Walaupun mungkin ada sesuatu yang salah di Polri, sehingga Ferdy Sambo bisa menyeret lebih dari 99 oknum polisi dalam kasusnya, namun jangan memakai logical falacy yang menggeneralisasi suatu kejadian seperti kasus Sambo tersebut,” tegasnya.
Kerusuhan di Brixton di Inggris pada 1981, Kerusuhan di Los Angeles USA pada 1992, kerusuhan di Gedung Capitol Hill Washington DC tidak serta merta mengharuskan sistem kepolisian di negara-negara tersebut harus diubah, meski harus ada evaluasi dan koreksi yang diperlukan. Melihat adanya kekurangan di Polri seperti kejadian kasus Sambo yang melibatkan puluhan anggota, Polri tidak serta merta harus merubah sistem kepolisian Indonesia yang sudah ada. ”Pernyataan Ibu Connie untuk memindahkan Polri ke Mendagri itu pernyataan keliru dan menyesatkan yang perlu diluruskan,” ucapnya.
Sisno mencontohkan, kedudukan Kepolisian Jepang itu di bawah Kompolnas (National Public Safety Commission) dan Kompolnas Jepang di bawah Perdana Menteri. Kompolnas Jepang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri dan lima anggota Kompolnas lain yang tidak boleh terkait dengan Partai Politik. Menurut Sisno, Kompolnas Jepang pernah berkunjung ke Kompolnas Indonesia pada 2019. Polisi Jepang bebas dari pengaruh dan kekuasaan Partai politik.
“Institusi Polri tidak bisa disandingkan ataupun disamakan dengan institusi kepolisian di negara lain, karena keberadaan Polri memiliki latar belakang sejarah, budaya, dan karakteristik ataupun jati diri sebagai Bhayangkara negara yang berbeda dengan negara lain. Polri punya jati diri dan karakteristik yang berbeda dengan polisi negara lain. Semoga ini bermanfaat bagi para pihak dalam memberikan saran, kritik dan masukan demi perbaikan serta kemajuan Polri kita semua,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :