Refleksi KUPI 2: Mewujudkan Peradaban yang Berkeadilan
Selasa, 06 Desember 2022 - 17:57 WIB
Sayangnya, halaqoh di hari pertama atau yang disebut dengan pramusyawarah ini hanya berlangsung 90 menit. Refleksi maupun pendapat dari seluruh atau minimal 50% peserta yang hadir tidak dapat didengarkan sama-sama.
Untungnya, pada musyawarah di hari berikutnya, isu-isu tersebut dibahas lebih lama. Tentunya dilihat dari berbagai aspek, terutama maqashid syariah-nya. Konsep maqashid syariah tentu mengedepankan nilai kemasalahatan yang lebih besar daripada mudharat yang kecil, sehingga pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat dirasakan oleh seluruh makhluk di muka bumi ini.
Akhir dari musyawarah peran perempuan dalam menjaga NKRI dari bahaya ekstrimisme beragama melahirkan hukum wajib. Tentu ini adalah konklusi paling maslahah. Peran perempuan tidak hanya sebagai khalifah fil ardl yang sama dengan laki-laki perannya dalam menjaga NKRI, tetapi juga sebagai madrasatul ula bagi seluruh anak di Tanah Air.
Hal ini yang membuat peran perempuan harus lebih depan dan lebih penting dalam mencegah ekstremisme beragama. Berikutnya, pada musyawarah keagamaan tentang bahaya pemotongan dan pelukaan genetalia perempuan (P2GP) ini lebih hangat dibanding musyawarah peran perempuan dalam mencegah ekstrimisme.
Pada musyawarah ini, ada banyak pendapat yang mengungkapkan bahaya P2GP. Namun ada juga yang berpendapat P2GP tidak berdampak buruk terhadap perempuan sehingga tidak masalah jika masih ada yang melakukan hal tersebut, misalnya khitan bagi perempuan.
Khitan perempuan adalah budaya yang sudah mengakar di Indonesia. Banyak ahli agama berpendapat khitan perempuan adalah keharusan setiap anak atau bayi perempuan.
Padahal sebenarnya, dari keempat madzhab fiqih (madzhab arba’ah) tidak ada yang mewajibkan hukum khitan bagi perempuan. Dari refleksi sahabat-sahabat yang mengikuti musyawarah ini, pemotongan genetalia ini sangat variatif.
Ada yang seluruhnya dipotong, ada yang dipotongnya sedikit saja, ada yang dipotong ujungnya saja, ada yang dilukai saja, ada yang hanya formalitas saja dengan menempelkan pisau atau guntingnya. Dari kategorisasi pemotongan saja khitan pada perempuan ini tidak jelas bagian mananya, sehingga perlu digali kembali maqashid syariah dalam P2GP ini.
Tentu ini tantangan akademisi, ustazah, tokoh agama, tokoh perempuan, dan sebagian perempuan yang sudah mendapatkan ilmu tentang mudharat yang lebih banyak akibat P2GP ini dibanding maslahah dari kekhawatiran yang belum terjadi.
Momen lain di tengah acara KUPI ini adalah semarak bazar di lapangan utama Bangsri, Jepara yang sangat meriah. Lokasinya kurang lebih 2 km dari pondok pesantren. Peserta difasilitasi kendaraan untuk dapat berangkat ke bazar.
Di lokasi tidak hanya ramai bazar makanan, baju, tetapi juga pertunjukan budaya setiap malam. Pertunjukkan tersebut tidak hanya bisa dinikmati peserta KUPI 2 tetapi masyarakat sekitar dan umum. Hal ini menambah sisi positif dari kegiatan ini. Bahwa KUPI hadir untuk menebarkan islam yang ramah dan penuh cinta.
Akhir dari kegiatan KUPI 2 ini adalah hasil musyawarah yang disampaikan secara terbuka. Saya merasa bangga ada dalam bagian orang-orang yag memikirkan kemaslahatan bagi jutaan perempuan di Indonesia. Meskipun penerimaannya akan bervariatif, namun saya tetap bersyukur mendapat pengetahuan luar biasa ini.
Untungnya, pada musyawarah di hari berikutnya, isu-isu tersebut dibahas lebih lama. Tentunya dilihat dari berbagai aspek, terutama maqashid syariah-nya. Konsep maqashid syariah tentu mengedepankan nilai kemasalahatan yang lebih besar daripada mudharat yang kecil, sehingga pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dapat dirasakan oleh seluruh makhluk di muka bumi ini.
Akhir dari musyawarah peran perempuan dalam menjaga NKRI dari bahaya ekstrimisme beragama melahirkan hukum wajib. Tentu ini adalah konklusi paling maslahah. Peran perempuan tidak hanya sebagai khalifah fil ardl yang sama dengan laki-laki perannya dalam menjaga NKRI, tetapi juga sebagai madrasatul ula bagi seluruh anak di Tanah Air.
Hal ini yang membuat peran perempuan harus lebih depan dan lebih penting dalam mencegah ekstremisme beragama. Berikutnya, pada musyawarah keagamaan tentang bahaya pemotongan dan pelukaan genetalia perempuan (P2GP) ini lebih hangat dibanding musyawarah peran perempuan dalam mencegah ekstrimisme.
Pada musyawarah ini, ada banyak pendapat yang mengungkapkan bahaya P2GP. Namun ada juga yang berpendapat P2GP tidak berdampak buruk terhadap perempuan sehingga tidak masalah jika masih ada yang melakukan hal tersebut, misalnya khitan bagi perempuan.
Khitan perempuan adalah budaya yang sudah mengakar di Indonesia. Banyak ahli agama berpendapat khitan perempuan adalah keharusan setiap anak atau bayi perempuan.
Padahal sebenarnya, dari keempat madzhab fiqih (madzhab arba’ah) tidak ada yang mewajibkan hukum khitan bagi perempuan. Dari refleksi sahabat-sahabat yang mengikuti musyawarah ini, pemotongan genetalia ini sangat variatif.
Ada yang seluruhnya dipotong, ada yang dipotongnya sedikit saja, ada yang dipotong ujungnya saja, ada yang dilukai saja, ada yang hanya formalitas saja dengan menempelkan pisau atau guntingnya. Dari kategorisasi pemotongan saja khitan pada perempuan ini tidak jelas bagian mananya, sehingga perlu digali kembali maqashid syariah dalam P2GP ini.
Tentu ini tantangan akademisi, ustazah, tokoh agama, tokoh perempuan, dan sebagian perempuan yang sudah mendapatkan ilmu tentang mudharat yang lebih banyak akibat P2GP ini dibanding maslahah dari kekhawatiran yang belum terjadi.
Momen lain di tengah acara KUPI ini adalah semarak bazar di lapangan utama Bangsri, Jepara yang sangat meriah. Lokasinya kurang lebih 2 km dari pondok pesantren. Peserta difasilitasi kendaraan untuk dapat berangkat ke bazar.
Di lokasi tidak hanya ramai bazar makanan, baju, tetapi juga pertunjukan budaya setiap malam. Pertunjukkan tersebut tidak hanya bisa dinikmati peserta KUPI 2 tetapi masyarakat sekitar dan umum. Hal ini menambah sisi positif dari kegiatan ini. Bahwa KUPI hadir untuk menebarkan islam yang ramah dan penuh cinta.
Akhir dari kegiatan KUPI 2 ini adalah hasil musyawarah yang disampaikan secara terbuka. Saya merasa bangga ada dalam bagian orang-orang yag memikirkan kemaslahatan bagi jutaan perempuan di Indonesia. Meskipun penerimaannya akan bervariatif, namun saya tetap bersyukur mendapat pengetahuan luar biasa ini.
(poe)
Lihat Juga :