Demonstrasi Kertas Kosong dan Ketakutan Pemerintah Komunis China
Jum'at, 02 Desember 2022 - 16:09 WIB
Di China, semenjak Republik berdiri, terdapat tiga kali demonstrasi mahasiswa terbesar yang menentang pemerintah dan berjuang untuk kebebasan hidup dan kebebasan asasi mereka. Rakyat China mempunyai pemikiran yang sangat sederhana, menghormati orang tua, menghormati pemimpin, dan mencintai negara. Akan tetapi pemikiran yang sederhana itu dikalahkan oleh kelaparan yang melanda dan pembatasan bersuara pada era Chiang Kai-shek. Itu yang dimanfaatkan oleh komunis untuk menggerakkan mahasiswa dengan janji membangun China baru yang bebas dari kapitalisme dan feodalisme, China baru yang akan membawa kebebasan dan kebahagiaan buat seluruh Rakyat China.
Demonstrasi mahasiswa yang kedua kalinya atau secara besar-besaran terjadi pada tanggal 4 Juni 1989 atau yang lebih dikenal dengan Peristiwa Tiananmen. Untuk kelompok pro pemerintah China, peristiwa ini selalu dikaitkan dengan campur tangan negara asing, terutama Amerika Serikat dan sekutunya yang bertujuan mengacaukan China,dengan alasan Amerika takut dengan kebangkitan rakyat China. Sementara, kelompok yang pro demokrasi atau pro demonstran selalu menyatakan bahwa ini adalah murni suara rakyat yang tertindas.
Terlepas dari ada atau tidak adanya campur tangan asing, yang namanya kerusuhan pasti selalu ada penyulutnya, baru kemudian pihak asing bisa berperan atau mengambil kesempatan dalam kekacauan tersebut. Lantas demonstrasi 4 Juni 1989 yang katanya didanai Amerika itu sebenarnya awalnya bagaimana bisa terjadi dan apa yang membuat mahasiswa berani turun ke jalan untuk bersuara menyatakan pendapatnya di negara yang sangat takut dengan demonstrasi tersebut? Mari kita lihat kilas balik 4 Juni 1989.
Peristiwa Tiananmen adalah tragedi pembantaian demonstran terbesar pada era pemerintahan komunis. Dalam peristiwa Lapangan Tiananmen 4 Juni 1989 atau dalam bahasa China lebih dikenal dengan 6/4 atau Insiden Enam Empat, koban-korban terdiri dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat biasa yang memprotes Pemerintah China karena dianggap membungkam demokrasi.
Awal mula peristiwa tersebut dimulai pada Mei 1989, ketika hampir satu juta orang China yang kebanyakan pelajar muda, memadati pusat kota Beijing untuk menuntut demokrasi yang lebih besar. Mereka juga meminta pengunduran diri para pemimpin Partai Komunis China yang dianggap terlalu represif. Pemicu kedua dari demo ini adalah meninggalnya Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Hu Yaobang, pada 15 April 1989. Hu dikenal sebagai tokoh reformis yang membuka diri terhadap demokrasi.
Untuk mengenang kematian Hu Yaobang, para mahasiswa dan pemuda berkumpul di Lapangan Tiananmen. Mereka menyuarakan ketidakpuasan kepada Pemerintah China yang otoriter. Pada 22 April, digelar upacara peringatan resmi untuk mengenang Hu Yaobang yang diadakan di Balai Agung Rakyat di Lapangan Tiananmen. Perwakilan mahasiswa turut datang sambil membawa petisi ke tangga Balai Agung Rakyat. Para mahasiswa ini menuntut untuk bertemu dengan Perdana Menteri Li Peng dan meminta kejelasan atas kematian Hu Yaobang yang dianggap misterius. Namun, Pemerintah China menolak pertemuan itu. Hal ini memicu aksi demonstrasi besar yang dilakukan mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh China. Mereka mulai menyuarakan reformasi.
Untuk menangani demonstrasi yang semakin meluas, tentara komunis dikerahkan menuju Lapangan Tiananmen. Para tentara mulai menembaki dan menyerang pengunjuk rasa. Tindakan penembakan ini memicu kemarahan warga yang berujung pada pembalasan penyerangan, seperti melempari bom molotov, melawan dengan tongkat dan batu. Pada tanggal 4 Juni 1989 tentara komunis menyerbu Lapangan Tiananmen dan menembaki para pedemo seperti tentara Jepang membasmi penduduk jajahannya pada tahun 1942-1945. Para mahasiswa berusaha melarikan diri dari amukan tentara komunis, sedangkan pengunjuk rasa lainnya melawan dengan melempar batu, serta membalikkan dan membakar kendaraan militer.
Pada 5 Juni 1989, tentara komunis melakukan pembersihan Lapangan Tiananmen dan berhasil mengambil alih tempat itu. Demikian sekilas peristiwa Tiananmen yang berhasil membungkam suara rakyat China dan selanjutnya membuat rakyat China apatis dan acuh tak acuh terhadap politik. Rakyat China lebih memilih bekerja di bidang yang tidak bersinggungan dengan pemerintah, karena mereka tau, tidak ada gunanya melawan pemerintah, toh akhirnya mereka akan menjadi korban atau pihak yang disalahkan pemerintah maupun pihak yang dimanfaatkan oleh asing.
Demonstrasi mahasiswa yang kedua kalinya atau secara besar-besaran terjadi pada tanggal 4 Juni 1989 atau yang lebih dikenal dengan Peristiwa Tiananmen. Untuk kelompok pro pemerintah China, peristiwa ini selalu dikaitkan dengan campur tangan negara asing, terutama Amerika Serikat dan sekutunya yang bertujuan mengacaukan China,dengan alasan Amerika takut dengan kebangkitan rakyat China. Sementara, kelompok yang pro demokrasi atau pro demonstran selalu menyatakan bahwa ini adalah murni suara rakyat yang tertindas.
Terlepas dari ada atau tidak adanya campur tangan asing, yang namanya kerusuhan pasti selalu ada penyulutnya, baru kemudian pihak asing bisa berperan atau mengambil kesempatan dalam kekacauan tersebut. Lantas demonstrasi 4 Juni 1989 yang katanya didanai Amerika itu sebenarnya awalnya bagaimana bisa terjadi dan apa yang membuat mahasiswa berani turun ke jalan untuk bersuara menyatakan pendapatnya di negara yang sangat takut dengan demonstrasi tersebut? Mari kita lihat kilas balik 4 Juni 1989.
Peristiwa Tiananmen adalah tragedi pembantaian demonstran terbesar pada era pemerintahan komunis. Dalam peristiwa Lapangan Tiananmen 4 Juni 1989 atau dalam bahasa China lebih dikenal dengan 6/4 atau Insiden Enam Empat, koban-korban terdiri dari mahasiswa, buruh, dan masyarakat biasa yang memprotes Pemerintah China karena dianggap membungkam demokrasi.
Awal mula peristiwa tersebut dimulai pada Mei 1989, ketika hampir satu juta orang China yang kebanyakan pelajar muda, memadati pusat kota Beijing untuk menuntut demokrasi yang lebih besar. Mereka juga meminta pengunduran diri para pemimpin Partai Komunis China yang dianggap terlalu represif. Pemicu kedua dari demo ini adalah meninggalnya Sekretaris Jenderal Partai Komunis, Hu Yaobang, pada 15 April 1989. Hu dikenal sebagai tokoh reformis yang membuka diri terhadap demokrasi.
Untuk mengenang kematian Hu Yaobang, para mahasiswa dan pemuda berkumpul di Lapangan Tiananmen. Mereka menyuarakan ketidakpuasan kepada Pemerintah China yang otoriter. Pada 22 April, digelar upacara peringatan resmi untuk mengenang Hu Yaobang yang diadakan di Balai Agung Rakyat di Lapangan Tiananmen. Perwakilan mahasiswa turut datang sambil membawa petisi ke tangga Balai Agung Rakyat. Para mahasiswa ini menuntut untuk bertemu dengan Perdana Menteri Li Peng dan meminta kejelasan atas kematian Hu Yaobang yang dianggap misterius. Namun, Pemerintah China menolak pertemuan itu. Hal ini memicu aksi demonstrasi besar yang dilakukan mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh China. Mereka mulai menyuarakan reformasi.
Untuk menangani demonstrasi yang semakin meluas, tentara komunis dikerahkan menuju Lapangan Tiananmen. Para tentara mulai menembaki dan menyerang pengunjuk rasa. Tindakan penembakan ini memicu kemarahan warga yang berujung pada pembalasan penyerangan, seperti melempari bom molotov, melawan dengan tongkat dan batu. Pada tanggal 4 Juni 1989 tentara komunis menyerbu Lapangan Tiananmen dan menembaki para pedemo seperti tentara Jepang membasmi penduduk jajahannya pada tahun 1942-1945. Para mahasiswa berusaha melarikan diri dari amukan tentara komunis, sedangkan pengunjuk rasa lainnya melawan dengan melempar batu, serta membalikkan dan membakar kendaraan militer.
Pada 5 Juni 1989, tentara komunis melakukan pembersihan Lapangan Tiananmen dan berhasil mengambil alih tempat itu. Demikian sekilas peristiwa Tiananmen yang berhasil membungkam suara rakyat China dan selanjutnya membuat rakyat China apatis dan acuh tak acuh terhadap politik. Rakyat China lebih memilih bekerja di bidang yang tidak bersinggungan dengan pemerintah, karena mereka tau, tidak ada gunanya melawan pemerintah, toh akhirnya mereka akan menjadi korban atau pihak yang disalahkan pemerintah maupun pihak yang dimanfaatkan oleh asing.
Lihat Juga :