Tragedi Bangsa: Watak Kekerasan dan Nir-Teladan
Jum'at, 07 Oktober 2022 - 18:28 WIB
Kita juga belajar dari dramawan Plautus dalam prolognya yang tenar, Amphytryon. Plautus memperolok kita, nasib di dunia terombang-ambing oleh kekerasan simbolik yang diperankan aktor-aktor, yang rumit merepresentasi narasi tragik-komedi dalam bentuknya yang muram. Sebuah lakon drama berkisah tentang nasib buruk yang menimpa tiba-tiba, bencana yang tidak terelakkan atau direncanakan secara licik dan halus?
Mitos lokal di masyarakat Bali juga memperkaya, bagaimana kekerasan pernah menjadi panglima pun sebuah pelajaran berharga. Semisal Jenderal perang Kebo Iwa yang gugur dalam strategi ekspansionis Majapahit dipimpin Maha Patih Gajah Mada. Pembunuhan antar "para jenderal kuno" yang berselimur politik kolonialisasi; mengatasnamakan keyakinan-keyakinan serta identitas lama yang terikat dengan khasanah lama kultur Jawa di Bali hasil migrasi imperium Kadiri (Jawa Timur) menjadi alasan pembenaran kekerasan. Kebo Iwa bisa mewakilkan sosok aktor dongeng tragedi-komedi, mati sebagai pahlawan dalam kisah, namun dapat disangkal jika perpektif lain mengemuka, yakni kekuasaan yang serakah dari imperium Majapahit.
Nir-Teladan Pimpinan
Dramawan Plautus pula yang memercayai keyakinan karakter Homo homini lupus, sebuah frasa bahasa latin yang bemakna bahwa manusia dikutuk menjadi serigala bagi sesamanya yang diperlawanankan dengan tesis filsuf Thomas Hobbes.
Hobbes menimbang dan masih optimistis adanya keseimbangan dalam jiwa manusia yang berkonsep Homo Homini Socius dengan janji manusia adalah “kerabat suci” bagi sesama. Kedua konsep raga-psikis Homo Homini Lupus dan Homo Homini Socius sedang saling berkecamuk di ingatan bangsa, tentunya benar-benar sedang diuji di Indonesia hari-hari ini.
Sebagaimana yang disampaikan Hobbes dengan narasi Homo Homini Socius di karyanya de Cive, para Nabi dan orang-orang suci juga memercayai bahwa jiwa manusia adalah lontaran atau percikan sakral dari sang pencipta-Nya, yang dengan kasih dan sayang memeluk dan mengayomi saudara-saudaranya.
Jika kita mawas diri atas semua tragedi itu, kondisi krisis teladan atau tunatuntunan dari para pemimpin negeri sedang terjadi. Secara visual, kita dipertontonkan dengan ragam arsitektural bangunan-bangunan yang religius, berwibawa, berparas terbuka berpihak pada yang lemah dan egaliter. Tapi, dalam ruang-ruang batin kolektif kita sebagai bangsa sejatinya hampa, nirpengetahuan yang mencerahkan, terbungkam secara nalar dan etika oleh atribut-atribut di permukaan wujud fisik.
Mitos lokal di masyarakat Bali juga memperkaya, bagaimana kekerasan pernah menjadi panglima pun sebuah pelajaran berharga. Semisal Jenderal perang Kebo Iwa yang gugur dalam strategi ekspansionis Majapahit dipimpin Maha Patih Gajah Mada. Pembunuhan antar "para jenderal kuno" yang berselimur politik kolonialisasi; mengatasnamakan keyakinan-keyakinan serta identitas lama yang terikat dengan khasanah lama kultur Jawa di Bali hasil migrasi imperium Kadiri (Jawa Timur) menjadi alasan pembenaran kekerasan. Kebo Iwa bisa mewakilkan sosok aktor dongeng tragedi-komedi, mati sebagai pahlawan dalam kisah, namun dapat disangkal jika perpektif lain mengemuka, yakni kekuasaan yang serakah dari imperium Majapahit.
Nir-Teladan Pimpinan
Dramawan Plautus pula yang memercayai keyakinan karakter Homo homini lupus, sebuah frasa bahasa latin yang bemakna bahwa manusia dikutuk menjadi serigala bagi sesamanya yang diperlawanankan dengan tesis filsuf Thomas Hobbes.
Hobbes menimbang dan masih optimistis adanya keseimbangan dalam jiwa manusia yang berkonsep Homo Homini Socius dengan janji manusia adalah “kerabat suci” bagi sesama. Kedua konsep raga-psikis Homo Homini Lupus dan Homo Homini Socius sedang saling berkecamuk di ingatan bangsa, tentunya benar-benar sedang diuji di Indonesia hari-hari ini.
Sebagaimana yang disampaikan Hobbes dengan narasi Homo Homini Socius di karyanya de Cive, para Nabi dan orang-orang suci juga memercayai bahwa jiwa manusia adalah lontaran atau percikan sakral dari sang pencipta-Nya, yang dengan kasih dan sayang memeluk dan mengayomi saudara-saudaranya.
Jika kita mawas diri atas semua tragedi itu, kondisi krisis teladan atau tunatuntunan dari para pemimpin negeri sedang terjadi. Secara visual, kita dipertontonkan dengan ragam arsitektural bangunan-bangunan yang religius, berwibawa, berparas terbuka berpihak pada yang lemah dan egaliter. Tapi, dalam ruang-ruang batin kolektif kita sebagai bangsa sejatinya hampa, nirpengetahuan yang mencerahkan, terbungkam secara nalar dan etika oleh atribut-atribut di permukaan wujud fisik.
Lihat Juga :