Kenaikan Harga BBM Momentum Beralih ke Transportasi Massal

Senin, 29 Agustus 2022 - 08:40 WIB
Hal senada disampaikan Arifin Tasrif saat memaparkan kondisi terkini subsisi BBM pada Jumat (26/8) pekan lalu. Sama seperti koleganya, Arifin mengungkapkan bahwa saat ini beban subsidi BBM sudah sangat berat. Penyebabnya, harga minyak dunia yang masih bertahan di atas USD90 per barel sehingga memberikan tekanan pada harga BBM di dalam negeri. Di ketahui harga minyak global saat ini masih jauh di atas harga yang dipatok pada APBN 2022 di level USD63 per barel.

Dengan kondisi seperti itu, pemerintah saat ini dipusingkan dengan kebijakan subsidi. Semakin banyak BBM subsidi dan BBM penugasan yang dikonsumsi masyarakat, maka akan semakin banyak pula anggaran yang digelontorkan untuk menyubsidinya.

Di sisi lain, pemerintah juga masih memerlukan anggaran untuk membiayai pembangunan di sejumlah sektor. Jika subsudi terus-terusan diberikan namun tidak tepat sasaran, maka akan kontraproduktif dengan upaya pemberdayaan masyarakat tidak mampu. Apalagi saat ini di saat bersamaan pemerintah juga sedangngebutmenjalankan pembangunan Ibu Kota Negara di Kalimantan yang jelas-jelas membutuhkan anggaran tidak sedikit.

Kembali ke soal rencana kenaikan harga BBM, keputusan tersebut memang sulit diterima masyarakat. Di tengah upaya pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19, keputusan menaikkan harga bensin bakal dirasa cukup berat. Apalagi sebelumnya publik disuguhi dengan kenaikan berbagai macam harga pangan yang seolah terus berlanjut. Setelah minyak goreng, cabai, dan daging, kini giliran telur ayam yang harganya merangkak naik.

Bagi para pengguna kendaraan bermotor, kabar kenaikan harga BBM juga sudah barang tentu bukan sesuatu yang membahagiakan. Pasalnya, mereka harus merogoh kantong lebih dalam ketika mengisi BBM.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!