Membuka Tabir Ilusi Identitas Arab
Minggu, 29 Mei 2022 - 09:30 WIB
Dalam konteks Indonesia, perhatian publik kemudian sangat besar terhadap masyarakat Hadhrami yang hal itu disebabkan oleh tampilnya mereka dalam panggung politik. Yang paling menarik, kalangan Alawiyyin yang terlibat dalam aksi-aksi vigilante di bawah naungan organisasi Front Pembela Islam (FPI) (hal. 195). Menurut Musa, fenomena ini justru menjadi sorotan di kalangan Alawiyyin sendiri dan khawatir dapat melahirkan efek lanjut terhadap lahirnya konflik dan segregasi sosial.
Sebagai seorang Alawi Hadhrami yang secara komprehensif memahami dunia “keturunan Arab”, Musa dengan jeli mengungkapkan pengerasan identitas Arab yang digunakan dalam kepentingan pragmatis, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh rembesan paham Salafi-Wahabi. Paham yang lahir di Arab Saudi ini, menurut Musa, kental dengan budaya Badui yang memiliki ciri-ciri ketidaksukaan terhadap kelompok lain, kegemaran pada kekerasan, serta menolak toleransi karena dianggap sebagai penanda kelemahan dan ambiguitas (hal. 37).
Buku ini menyuguhkan suatu autokritik yang membuka mata, meluaskan cakrawala, dan menghentak publik untuk tidak terjerumus pada penilaian-penilaian semu yang sesungguhnya itu ilusi. Musa dalam buku ini hendak menegaskan bahwa identitas seseorang tidak dilihat dari penampilan rasistik, dinastik, atau simbolik. Personifikasi seseorang tidak ditentukan oleh tampilan fisik lalu kemudian diklasifikasi sebagai seorang yang berkriteria Muslim yang taat. Identitas simbolis itu hanyalah ilusi.
Dengan analisis yang mendalam, Musa menguliti permasalahan krusial yang saat ini menghinggapi keturunan Arab yang mula-mula sejumlah Alawiyin bergabung dalam organisasi massa yang menonjolkan aksi-aksi brutal dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Pada bagian yang lain, Musa dengan detail menjabarkan proses dekomposisi para Alawiyin setelah terlibat dalam aksi-aksi politik, termasuk dalam demo berjilid-jilid dan meraih kemenangan elektoral, akhirnya kembali ke habitat masing-masing.
Akan tetapi, efek jangka panjangnya bagi keberadaan keturunan Hadhrami, identitas Alawiyin terlanjur tercoreng oleh segala sikap dan tindak tanduk kelompok pelatuk sentimen rasial dan konflik politik. Meminjam istilah Marcus Mietzner dan Burhanuddin Muhtadi, disebut dengan istilah religio-political-entrepreneurs. Buku ini menjadi lonceng peringatan dini agar identitas Arab kembali pada akarnya dalam turut andil berdakwah dengan cara-cara yang tidak memecah belah kehidupan umat beragama.
Judul: Identitas Arab Itu Ilusi, Saya Habib, Saya Indonesia!
Penulis: Musa Kazhim Alhabsyi
Sebagai seorang Alawi Hadhrami yang secara komprehensif memahami dunia “keturunan Arab”, Musa dengan jeli mengungkapkan pengerasan identitas Arab yang digunakan dalam kepentingan pragmatis, tidak bisa dilepaskan dari pengaruh rembesan paham Salafi-Wahabi. Paham yang lahir di Arab Saudi ini, menurut Musa, kental dengan budaya Badui yang memiliki ciri-ciri ketidaksukaan terhadap kelompok lain, kegemaran pada kekerasan, serta menolak toleransi karena dianggap sebagai penanda kelemahan dan ambiguitas (hal. 37).
Buku ini menyuguhkan suatu autokritik yang membuka mata, meluaskan cakrawala, dan menghentak publik untuk tidak terjerumus pada penilaian-penilaian semu yang sesungguhnya itu ilusi. Musa dalam buku ini hendak menegaskan bahwa identitas seseorang tidak dilihat dari penampilan rasistik, dinastik, atau simbolik. Personifikasi seseorang tidak ditentukan oleh tampilan fisik lalu kemudian diklasifikasi sebagai seorang yang berkriteria Muslim yang taat. Identitas simbolis itu hanyalah ilusi.
Dengan analisis yang mendalam, Musa menguliti permasalahan krusial yang saat ini menghinggapi keturunan Arab yang mula-mula sejumlah Alawiyin bergabung dalam organisasi massa yang menonjolkan aksi-aksi brutal dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Pada bagian yang lain, Musa dengan detail menjabarkan proses dekomposisi para Alawiyin setelah terlibat dalam aksi-aksi politik, termasuk dalam demo berjilid-jilid dan meraih kemenangan elektoral, akhirnya kembali ke habitat masing-masing.
Akan tetapi, efek jangka panjangnya bagi keberadaan keturunan Hadhrami, identitas Alawiyin terlanjur tercoreng oleh segala sikap dan tindak tanduk kelompok pelatuk sentimen rasial dan konflik politik. Meminjam istilah Marcus Mietzner dan Burhanuddin Muhtadi, disebut dengan istilah religio-political-entrepreneurs. Buku ini menjadi lonceng peringatan dini agar identitas Arab kembali pada akarnya dalam turut andil berdakwah dengan cara-cara yang tidak memecah belah kehidupan umat beragama.
Judul: Identitas Arab Itu Ilusi, Saya Habib, Saya Indonesia!
Penulis: Musa Kazhim Alhabsyi
Lihat Juga :