Kampanye Tatap Muka Dikurangi, Slot Medsos dan Iklan Diperbanyak
Minggu, 21 Juni 2020 - 20:08 WIB
Sekretaris Fraksi Partai NasDem DPR ini menilai, kalau kampanye dialogis hanya berisi maksimal 20 peserta, maka tentu kurang meriah walaupun kampanye itu juga disambungkan ke posko-posko pemenangan. Karena itu, pihaknya akan mengusulkan apakah memungkinkan maksimal diisi 100 peserta dengan menerapkan protokol Covid-19. “100 orang kan masih bisa terkontrol dan masih bisa physical distancing,” imbuh Saan.
Kemudian, dengan pengurangan kampanye tatap muka tentu kampanye medsos, iklan, maupun alat peraga kampanye (APK) akan diberi kesempatan yang lebih luas. Hal ini akan dikoordinasikan dengan Bawaslu mengenai kampanye di luar ruang agar paslon punya ruang yang lebih luas. “Aturan sebelumnya kan sangat ketat pembatasannya, nanti karena Covid-19 akan dilonggarkan soal APK, medsos, dan iklan ini,” terangnya.
Terkait kampanye door to door, dia menjelaskan bahwa model kampanye itu agak berat karena bersinggungan langsung dengan masyarakat dan tentu paslon dan timnya harus mengenakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap, sebagaimana para penyelenggara ad hoc melaksanakan tugasnya. Dan lagi, itu akan lebih riskan karena berpotensi membuat kerumunan.
“Dan itu susah dikontrol, saat ada paslon datang ke rumah-rumah akan menarik perhatian warga. Kita ingin coba bahas lagi soal ini. Kalau PKPU sendiri lebih banyak mengatur soal model kampanye di kondisi pandemi dengan memperbanyak kegiatan di medsos, mengurangi bersinggungan langsung dengan masyarakat,” tandas Saan.
Kemudian, dengan pengurangan kampanye tatap muka tentu kampanye medsos, iklan, maupun alat peraga kampanye (APK) akan diberi kesempatan yang lebih luas. Hal ini akan dikoordinasikan dengan Bawaslu mengenai kampanye di luar ruang agar paslon punya ruang yang lebih luas. “Aturan sebelumnya kan sangat ketat pembatasannya, nanti karena Covid-19 akan dilonggarkan soal APK, medsos, dan iklan ini,” terangnya.
Terkait kampanye door to door, dia menjelaskan bahwa model kampanye itu agak berat karena bersinggungan langsung dengan masyarakat dan tentu paslon dan timnya harus mengenakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap, sebagaimana para penyelenggara ad hoc melaksanakan tugasnya. Dan lagi, itu akan lebih riskan karena berpotensi membuat kerumunan.
“Dan itu susah dikontrol, saat ada paslon datang ke rumah-rumah akan menarik perhatian warga. Kita ingin coba bahas lagi soal ini. Kalau PKPU sendiri lebih banyak mengatur soal model kampanye di kondisi pandemi dengan memperbanyak kegiatan di medsos, mengurangi bersinggungan langsung dengan masyarakat,” tandas Saan.
(nbs)
Lihat Juga :