'Extraordinary Meeting' di G-20
Kamis, 14 April 2022 - 17:27 WIB
Presidensi Indonesia di G-20
Indonesia mendapatkan giliran memimpin G-20 pada 2022. Ini merupakan kesempatan yang besar bagi Indonesia sebagai negara berkembang sekaligus negara ASEAN pertama yang memimpin G-20. Presiden Joko Widodo mendapatkan ujian bersejarah yang tidak mudah. Kepemimpinan G-20 mendapatkan kecaman terutama dari negara barat seperti Amerika Serikat, Kanada, bahkan Australia jika mengundang Rusia di Bali mendatang.
Ancaman tersebut dilontarkan pertama kali oleh Amerika Serikat yang memberikan sinyal kuat untuk tidak hadir di KTT G-20 Ketujuh Belas jika Rusia tetap hadir meskipun merupakan anggota G-20. Banyak desakan untuk menghadirkan juga Ukraina di KTT G-20 dalam rangka rekonsiliasi dunia dalam waktu dekat.
Sebagian tentu saja mengecam pendapat Amerika Serikat karena mencampuradukan persoalan bilateral Rusia dan Ukraina ke dalam G-20 di mana Ukraina bukan merupakan anggotanya. Seolah-olah peran dan fungsi G-20 menjadi bias dikarenakan memasukkan begitu saja negara baru di dalam forum tertingginya. G-20 adalah forum multilateral antara negara maju dan negara berkembang yang menguasai 80 persen GDP dunia, 75% perdagangan internasional, dan 60% populasi dunia. Saat ini G-20 terdiri dari Argentina, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Spanyol juga diundang sebagai Permanent Guest. Setiap tahun G-20 mengundang negara-negara untuk turut berpartisipasi dalam G-20.
G-20 pada 2022 terdikotomi ke dalam beberapa poros kekuatan. Kekuatan tersebut antara lain Amerika Serikat dan sekutu, Rusia dengan dukungan setengah hati dari China, serta poros Jerman. Sementara Indonesia harus mampu membuktikan Presidensi-nya di G-20 tahun ini untuk menghasilkan sebuah pencapaian besar dalam sejarah G-20 selama ini. Bagaimana Indonesia bisa meyakinkan semua poros kekuatan untuk hadir di Bali November mendatang.
Indonesia mendapatkan giliran memimpin G-20 pada 2022. Ini merupakan kesempatan yang besar bagi Indonesia sebagai negara berkembang sekaligus negara ASEAN pertama yang memimpin G-20. Presiden Joko Widodo mendapatkan ujian bersejarah yang tidak mudah. Kepemimpinan G-20 mendapatkan kecaman terutama dari negara barat seperti Amerika Serikat, Kanada, bahkan Australia jika mengundang Rusia di Bali mendatang.
Ancaman tersebut dilontarkan pertama kali oleh Amerika Serikat yang memberikan sinyal kuat untuk tidak hadir di KTT G-20 Ketujuh Belas jika Rusia tetap hadir meskipun merupakan anggota G-20. Banyak desakan untuk menghadirkan juga Ukraina di KTT G-20 dalam rangka rekonsiliasi dunia dalam waktu dekat.
Sebagian tentu saja mengecam pendapat Amerika Serikat karena mencampuradukan persoalan bilateral Rusia dan Ukraina ke dalam G-20 di mana Ukraina bukan merupakan anggotanya. Seolah-olah peran dan fungsi G-20 menjadi bias dikarenakan memasukkan begitu saja negara baru di dalam forum tertingginya. G-20 adalah forum multilateral antara negara maju dan negara berkembang yang menguasai 80 persen GDP dunia, 75% perdagangan internasional, dan 60% populasi dunia. Saat ini G-20 terdiri dari Argentina, Brazil, Kanada, China, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Spanyol juga diundang sebagai Permanent Guest. Setiap tahun G-20 mengundang negara-negara untuk turut berpartisipasi dalam G-20.
G-20 pada 2022 terdikotomi ke dalam beberapa poros kekuatan. Kekuatan tersebut antara lain Amerika Serikat dan sekutu, Rusia dengan dukungan setengah hati dari China, serta poros Jerman. Sementara Indonesia harus mampu membuktikan Presidensi-nya di G-20 tahun ini untuk menghasilkan sebuah pencapaian besar dalam sejarah G-20 selama ini. Bagaimana Indonesia bisa meyakinkan semua poros kekuatan untuk hadir di Bali November mendatang.
Lihat Juga :