Ekspor Dibuka, Konsorsium APD Minta Utamakan Kebutuhan dalam Negeri
Rabu, 17 Juni 2020 - 01:15 WIB
"Nantinya Intan ini adalah untuk men-generik big data, big data untuk apa? untuk mengetahui informasi data-data yang berhubungan dengan Corona, misalkan di mana lokasi yang positif, di mana yang ODP dan PDP. Ketika sudah didownload, maka jika kita berada pada radius beberapa meter dari orang tersebut, maka ada notifikasinya," tutur Farizan yang saat ini tengah mengambil gelar S3 di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI.
Disampaikan dia, perbedaan aplikasi Intan dengan aplikasi Covid-19 lainnya adalah terletak pada perizinan yang dikantongi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Selain berfungsi bagi masyarakat, tapi juga bagi UMKM kecil. Aplikasi ini sudah mengantongi izin dan melalui proses verifikasi dari OJK," katanya.
PT EKI sendiri merupakan konsorsium yang bergerak dalam pengembangan energi. Namun sejak wabah Covid-19 melanda, konsorsium ini mengalihkan sebagian fokusnya guna membantu pemerintah memenuhi kebutuhan APD bagi tenaga medis.
Tercatat, APD yang disalurkan bagi Kementerian Kesehatan telah mencapai sekira 3,3 juta set. Kerjasama itu tertuang dalam surat pemesanan Kemenkes No KK.02.01/1/460/2020 tertanggal 28 Maret 2020. Barang baku yang digunakan berasal dari Korea Selatan dengan spesifikasi standar WHO.
Bisnis yang digeluti konsorsium PT EKI sangat berkembang pesat, pada tahun ini saja proyeksi pembukuan keuangan perusahaan mencapai sekira Rp1 triliun dari produksi APD. Meski memiliki nilai fantastis, transparansi penggunaan anggaran tetap diawasi ketat dan profesional.
"Kami memproyeksikan untuk tahun ini pembukuan Rp1 triliun dari proyek APD tersebut. Selain itu, kami disini mempunyai sistem yang cukup transparan, jadi aman, termonitor, transparan. Karena kami kebanyakan generasi milenial, maka posisi kami melengkapi para direksi yang lain, dengan pemikiran kami sebagai anak-anak muda," kata Chief Financial Officer (CFO) PT EKI, Farahiyah Adzani (21).
Disampaikan dia, perbedaan aplikasi Intan dengan aplikasi Covid-19 lainnya adalah terletak pada perizinan yang dikantongi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Selain berfungsi bagi masyarakat, tapi juga bagi UMKM kecil. Aplikasi ini sudah mengantongi izin dan melalui proses verifikasi dari OJK," katanya.
PT EKI sendiri merupakan konsorsium yang bergerak dalam pengembangan energi. Namun sejak wabah Covid-19 melanda, konsorsium ini mengalihkan sebagian fokusnya guna membantu pemerintah memenuhi kebutuhan APD bagi tenaga medis.
Tercatat, APD yang disalurkan bagi Kementerian Kesehatan telah mencapai sekira 3,3 juta set. Kerjasama itu tertuang dalam surat pemesanan Kemenkes No KK.02.01/1/460/2020 tertanggal 28 Maret 2020. Barang baku yang digunakan berasal dari Korea Selatan dengan spesifikasi standar WHO.
Bisnis yang digeluti konsorsium PT EKI sangat berkembang pesat, pada tahun ini saja proyeksi pembukuan keuangan perusahaan mencapai sekira Rp1 triliun dari produksi APD. Meski memiliki nilai fantastis, transparansi penggunaan anggaran tetap diawasi ketat dan profesional.
"Kami memproyeksikan untuk tahun ini pembukuan Rp1 triliun dari proyek APD tersebut. Selain itu, kami disini mempunyai sistem yang cukup transparan, jadi aman, termonitor, transparan. Karena kami kebanyakan generasi milenial, maka posisi kami melengkapi para direksi yang lain, dengan pemikiran kami sebagai anak-anak muda," kata Chief Financial Officer (CFO) PT EKI, Farahiyah Adzani (21).
(mhd)
Lihat Juga :