Sampai Kapan Kemelut Tahu-Tempe Berakhir?
Rabu, 16 Februari 2022 - 12:11 WIB
Masalah harga ini jelas tidak sesederhana soal angka-angka semata. Imbas harga yang tak henti melonjak ini pasti membuat produksi tempe dan tahu nasional terganggu. Situasi ini makin membuat UMKM perajin tahu dan tempe kian terjepit. Masyarakat juga kian dihadapkan pilihan pelik. Selain minyak goreng, harga-harga pangan satu per satu naik, namun pendapatan mereka umumnya stagnan.
Dalam situasi ini, sudah saatnya pemerintah untuk tidak tinggal diam atau bahkan menganggap sebagai sebuah fenomena langganan. Kedelai terbukti menjadi komoditas pangan utama sebagai bahan baku tempe dan kedelai khususnya. Kenaikan ini pun bukan terjadi dalam setahun belakangan. Namun, sejatinya fluktuasi ini adalah catatan sejarah panjang yang tak henti melingkupi persoalan pangan nasional kita.
Begitu lamanya pemerintah tak kuasa mengendalikan harga kedelai ini saatnya harus dicarikan solusi dengan cara-cara yang tak biasa. Pemerintah saatnya membuat terobosan dengan jalan yang sangat fundamental dan sistematis. Target utamanya tentu membatasi ketergantungan impor dan meningkatkan produksi kedelai lokal. Jika memang kualitas kedelai impor seperti dari Brasil atau Amerika Serikat itu lebih baik, tentu Indonesia saatnya untuk mengadopsi keunggulan ini.
Langkah fundamental ini penting karena solusi kedelai tak cukup lagi dilakukan lewat diskusi, seminar, konferensi, dan lobi-lobi seremonial semata. Itu semua sudah cukup menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk membuat peta jalan pengendalian harga kedelai yang lebih taktis sekaligus strategis. Sumber daya manusia, lahan, dan teknologi sudah banyak kita miliki. Dus, masalah kedelai bukan angan-angan.
Membuat langkah fundamental mungkin bagi sebagian pihak tampak emosional atau bukan dipikirkan matang. Namun, perlu diingat, inovasi-inovasi selalu lahir dari jalan yang tak biasa yang berupaya mendobrak kemapanan berpikir atau keadaan.
Dalam situasi ini, sudah saatnya pemerintah untuk tidak tinggal diam atau bahkan menganggap sebagai sebuah fenomena langganan. Kedelai terbukti menjadi komoditas pangan utama sebagai bahan baku tempe dan kedelai khususnya. Kenaikan ini pun bukan terjadi dalam setahun belakangan. Namun, sejatinya fluktuasi ini adalah catatan sejarah panjang yang tak henti melingkupi persoalan pangan nasional kita.
Begitu lamanya pemerintah tak kuasa mengendalikan harga kedelai ini saatnya harus dicarikan solusi dengan cara-cara yang tak biasa. Pemerintah saatnya membuat terobosan dengan jalan yang sangat fundamental dan sistematis. Target utamanya tentu membatasi ketergantungan impor dan meningkatkan produksi kedelai lokal. Jika memang kualitas kedelai impor seperti dari Brasil atau Amerika Serikat itu lebih baik, tentu Indonesia saatnya untuk mengadopsi keunggulan ini.
Langkah fundamental ini penting karena solusi kedelai tak cukup lagi dilakukan lewat diskusi, seminar, konferensi, dan lobi-lobi seremonial semata. Itu semua sudah cukup menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk membuat peta jalan pengendalian harga kedelai yang lebih taktis sekaligus strategis. Sumber daya manusia, lahan, dan teknologi sudah banyak kita miliki. Dus, masalah kedelai bukan angan-angan.
Membuat langkah fundamental mungkin bagi sebagian pihak tampak emosional atau bukan dipikirkan matang. Namun, perlu diingat, inovasi-inovasi selalu lahir dari jalan yang tak biasa yang berupaya mendobrak kemapanan berpikir atau keadaan.
Lihat Juga :