Gowok, Mentor Ulung Bersenggama Para Calon Pengantin
Rabu, 08 Desember 2021 - 18:46 WIB
Selain dari penelitian, upaya untuk menerbitkan ulang karya-karya Melayu – Tionghoa telah diupayakan. Di antaranya adalah oleh Gramedia. Penerbih Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) telah menerbitkan 10 jilid karya-karya Melayu Tionghoa. Selain dari penerbit besar, ada juga upaya perseorangan dalam penerbitan ulang karya-karya penulis peranakan. Salah satunya adalah penerbitan ulang oleh Wahyu Wibisana, yang menerbitkan ulang dengan menyesuaikan ejaan supaya mudah dibaca oleh pembaca masa kini. Upaya Wahyu Wibisana ini patut didukung sehingga kalangan muda saat ini bisa menikmati karya-karya luar biasa yang mulai menghilang.
Karya-karya penulis peranakan tidak hanya berisi tentang tradisi Cina atau hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan orang Tionghoa di Indonesia. Mereka juga menulis tentang kehidupan sosial dan tradisi-tradisi setempat. Contohnya adalah “Gawok” karya Lim Khing Hoo ini. Gawok adalah tradisi di sekitar Banyumas yang memberikan pelatihan bagi pemuda tentang seks menjelang pernikahannya. Tradisi ini konon berasal dari tradisi yang dibawa oleh orang Tionghoa di masa Ceng Ho, pada 1415. Tradisi ini dikenalkan oleh seorang perempuan Tionghoa bernama Goo Wok Niang (hal. viii).
baca juga: Penasaran, Aurel Hermansyah Cecar Nagita Slavina soal Urusan Bercinta saat Hamil
Lim Khing Hoo memotret pergulatan masyarakat Banyumas tentang tradisi ini di tahun 1930-an. Tradisi yang dianggap luhur oleh orang-orang tua, ternyata mulai dipertanyakan oleh golongan yang lebih muda.
Acara gowokan dilakukan kalau seorang jejaka telah bertunangan dan akan menikah, orang tuanya mencarikan seorang gowok, membawanya pulang ke rumah, dan untuk beberapa hari si “gowok” diperlakukan sebagai menantu perempuan (hal. 12).
Tradisi Gowok sebenarnya bukan sekadar pelatihan melakukan senggama. Tradisi ini memberikan pengetahuan bagaimana sang pemuda bisa memperlakukan istrinya yang tentu belum punya pengalaman berdua dengan pasangan hidupnya. Lim Khing Hoo secara detail menjelaskan tradisi ini melalui percakapan antara Suganda dan Sumbangsih. Suganda adalah anak Lurah Wira, seorang yang sangat terpandang. Sementara Sumbangsih adalah seorang gowok yang didatangkan untuk melatih Suganda.
Suganda yang menolak tradisi gowokan terpaksa harus berduaan di dalam kamar dengan Sumbangsih. Alih-alih bercinta, Suganda malah berdialog dengan Sumbangsih tentang tradisi Gowokan. Suganda menyampaikan segala argumentasinya untuk menolak tradisi ini, sementara Sumbangsih menjelaskan nilai-nilai luhur tradisi Gowokan. Suganda mempertanyakan kegunaan tradisi ini dan menilai dari nilai kesopanan yang selayaknya sudah harus ditinggalkan. Suganda juga menyamakan tradisi gowokan dengan praktik prostitusi.
baca juga: Bahaya Menelan Sperma saat Bercinta, Waspada Gonore hingga HIV
Sedangkan Sumbangsih menjelaskan mengapa tradisi gowokan itu penting. Tradisi Gowokan dilakukan untuk mempersiapkan si calon temanten lelaki supaya bisa mengenali calon istrinya, memperlakukan dengan hormat calon istrinya demi kebahagian kehidupan keluarga mereka ke depan. Jadi gowokan bukan sekadar pelatihan teknik bercinta. Sumbangsih menjelaskan berbagai tipe perempuan dan laki-laki serta pengalaman seksual mereka sebelum masuk ke pernikahan (hal. 18).
Tradisi gowokan bertujuan untuk memberi pengetahuan dan keterampilan bagaimana sang lelaki memperlakukan pasangannya di malam pertama.
Karya-karya penulis peranakan tidak hanya berisi tentang tradisi Cina atau hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan orang Tionghoa di Indonesia. Mereka juga menulis tentang kehidupan sosial dan tradisi-tradisi setempat. Contohnya adalah “Gawok” karya Lim Khing Hoo ini. Gawok adalah tradisi di sekitar Banyumas yang memberikan pelatihan bagi pemuda tentang seks menjelang pernikahannya. Tradisi ini konon berasal dari tradisi yang dibawa oleh orang Tionghoa di masa Ceng Ho, pada 1415. Tradisi ini dikenalkan oleh seorang perempuan Tionghoa bernama Goo Wok Niang (hal. viii).
baca juga: Penasaran, Aurel Hermansyah Cecar Nagita Slavina soal Urusan Bercinta saat Hamil
Lim Khing Hoo memotret pergulatan masyarakat Banyumas tentang tradisi ini di tahun 1930-an. Tradisi yang dianggap luhur oleh orang-orang tua, ternyata mulai dipertanyakan oleh golongan yang lebih muda.
Acara gowokan dilakukan kalau seorang jejaka telah bertunangan dan akan menikah, orang tuanya mencarikan seorang gowok, membawanya pulang ke rumah, dan untuk beberapa hari si “gowok” diperlakukan sebagai menantu perempuan (hal. 12).
Tradisi Gowok sebenarnya bukan sekadar pelatihan melakukan senggama. Tradisi ini memberikan pengetahuan bagaimana sang pemuda bisa memperlakukan istrinya yang tentu belum punya pengalaman berdua dengan pasangan hidupnya. Lim Khing Hoo secara detail menjelaskan tradisi ini melalui percakapan antara Suganda dan Sumbangsih. Suganda adalah anak Lurah Wira, seorang yang sangat terpandang. Sementara Sumbangsih adalah seorang gowok yang didatangkan untuk melatih Suganda.
Suganda yang menolak tradisi gowokan terpaksa harus berduaan di dalam kamar dengan Sumbangsih. Alih-alih bercinta, Suganda malah berdialog dengan Sumbangsih tentang tradisi Gowokan. Suganda menyampaikan segala argumentasinya untuk menolak tradisi ini, sementara Sumbangsih menjelaskan nilai-nilai luhur tradisi Gowokan. Suganda mempertanyakan kegunaan tradisi ini dan menilai dari nilai kesopanan yang selayaknya sudah harus ditinggalkan. Suganda juga menyamakan tradisi gowokan dengan praktik prostitusi.
baca juga: Bahaya Menelan Sperma saat Bercinta, Waspada Gonore hingga HIV
Sedangkan Sumbangsih menjelaskan mengapa tradisi gowokan itu penting. Tradisi Gowokan dilakukan untuk mempersiapkan si calon temanten lelaki supaya bisa mengenali calon istrinya, memperlakukan dengan hormat calon istrinya demi kebahagian kehidupan keluarga mereka ke depan. Jadi gowokan bukan sekadar pelatihan teknik bercinta. Sumbangsih menjelaskan berbagai tipe perempuan dan laki-laki serta pengalaman seksual mereka sebelum masuk ke pernikahan (hal. 18).
Tradisi gowokan bertujuan untuk memberi pengetahuan dan keterampilan bagaimana sang lelaki memperlakukan pasangannya di malam pertama.
Lihat Juga :