Wabah Tembakau Versus Wabah Corona

Minggu, 31 Mei 2020 - 22:38 WIB
Di Indonesia tak kurang dari 200 ribuan orang Indonesia meninggal akibat wabah tembakau ini. Namun ironisnya respons terhadap wabah yang satu ini jauh dari memadai, bahkan masih adem ayem saja. Baik negaranya, dan juga masyarakatnya.

Pertanyaannya, kenapa respon terhadap kurang memadai terjadap fenomenda wabah tembakau. Penyebabnya, pertama, tembakau dengan rokoknya masih dianggap hal yang normal. Aktivitas merokok pun dianggap normal saja, bahkan keren. Tak merokok dianggapnya norak. Di kalangan remaja, tak merokok dianggap kampungan alias ndeso.

Kedua, sosialisasi produk rokok pun begitu gencar dan masif, baik sosialisasi langsung seperti iklan dan atau promosi rokok. Atau promosi secara terselubung seperti melalui kegiatan CSR, bahkan CSR di dunia pendidikan. Sosialisasi produk prokok sejatinya hal yang tidak lazim dan primitif. Hanya Indonesia yang masih melegalkan hal yang semacam ini.

Ketiga, pengendalian tembakau yang masih memble, baik di level regulasi dan atau kebijakan. Sebagai contoh, hingga detik ini pemerintah Indonesia belum melakukan ratifikasi/aksesi FCTC (Framework Conbention on Tobacco Control). Padahal FCTC sudah menjadi hukum internasional sejak 2003, dan Indonesia merupakan inisiator FCFC. Ini merupakan hal yang memalukan dari sisi konvensi dan fatsun internasional.

Kuatnya lobi industri rokok menjadi penyebab utama. Industri rokok begitu kencang lobinya baik di berbagai level.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!