Wacana Presiden Tiga Periode, Politikus Demokrat: Sangat Berbahaya
Sabtu, 19 Juni 2021 - 06:53 WIB
Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Munculnya kembali wacana presiden tiga periode dengan menduetkan Joko Widodo (Jokowi)-Prabowo Subianto terus menuai polemik. Politikus Partai Demokrat Syahrial Nasution pun bersuara.
Menurut Syahrial, wacana mengubah kembali konstitusi terkait masa jabatan presiden, disinyalir hanya untuk kepentingan jangka pendek beberapa gelintir orang di sekitar Presiden Jokowi.
"Tujuannya bukan mengarah kepada kepentingan bangsa yang lebih besar. Melainkan upaya merayu Presiden Jokowi untuk mengobok-obok konstitusi," ujar Syahrial kepada SINDOnews, Sabtu (19/6/2021)
Menurut Deputi Balitbang Partai Demokrat ini, paket amendemen UUD 45 yang membatasi jabatan presiden menjadi dua periode, tidak berdiri sendiri. Melainkan didasari semangat reformasi menilik rangkaian sejarah bangsa Indonesia yang sempat mengalami masa-masa kelam otoriterianisme.
Baca juga: Wacana Presiden 3 Periode Muncul Lagi, Pengamat: Pak Jokowi Jangan Terima Rayuan Politik Seperti Itu
Di masa Orde Lama, lanjutnya, Bung Karno berpeluang menjadi presiden seumur hidup. Dan di masa Orde Baru, Soeharto berkuasa terus-menerus tanpa batasan masa jabatan, meski pemilu dilaksanakan setiap lima tahun.
Menurut Syahrial, wacana mengubah kembali konstitusi terkait masa jabatan presiden, disinyalir hanya untuk kepentingan jangka pendek beberapa gelintir orang di sekitar Presiden Jokowi.
"Tujuannya bukan mengarah kepada kepentingan bangsa yang lebih besar. Melainkan upaya merayu Presiden Jokowi untuk mengobok-obok konstitusi," ujar Syahrial kepada SINDOnews, Sabtu (19/6/2021)
Menurut Deputi Balitbang Partai Demokrat ini, paket amendemen UUD 45 yang membatasi jabatan presiden menjadi dua periode, tidak berdiri sendiri. Melainkan didasari semangat reformasi menilik rangkaian sejarah bangsa Indonesia yang sempat mengalami masa-masa kelam otoriterianisme.
Baca juga: Wacana Presiden 3 Periode Muncul Lagi, Pengamat: Pak Jokowi Jangan Terima Rayuan Politik Seperti Itu
Di masa Orde Lama, lanjutnya, Bung Karno berpeluang menjadi presiden seumur hidup. Dan di masa Orde Baru, Soeharto berkuasa terus-menerus tanpa batasan masa jabatan, meski pemilu dilaksanakan setiap lima tahun.
Lihat Juga :