Wacana Presiden 3 Periode Muncul Lagi, Pengamat: Pak Jokowi Jangan Terima Rayuan Politik Seperti Itu
Jum'at, 18 Juni 2021 - 18:32 WIB
loading...
Presiden Joko Widodo (Jokowi). Foto/Dok Setpres
A
A
A
JAKARTA - Wacana presiden tiga periode dengan memunculkan duet Joko Widodo ( Jokowi ) dengan Prabowo Subianto dikritisi sejumlah kalangan. Jokowi diminta jangan terima rayuan politik semacam ini.
Menurut pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi, memunculkan wacana presiden tiga periode dengan menduetkan Jokowi-Prabowo merupakan preseden buruk.
"Ini preseden buruk untuk wujudkan presiden baik. Rakyat itu bukan hanya perlu presiden, tapi perlu presiden yang baik. Presiden yang baik itu tidak hanya lahir dari pribadinya, tetapi dari sistem dan lingkungannya," ujar Robi kepada SINDOnews, Jumat (18/6/2021).
Robi mengatakan, para pengusung Reformasi sudah sepakat bahwa presiden itu maksimal dua periode, dengan masing-masing periode selama lima tahun. "Kalau kemudian ini diutak-atik, akan jadi preseden buruk. Kenapa? Pertama, seperti tidak ada lagi kader terbaik Indonesia yang mampu menjadi presiden. Kedua, distribusi kekuasaan itu tidak hanya horizontal, tetapi vertikal. Ada anak bangsa lainnya yang perlu diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin," jelasnya.
Baca juga: Wacana Presiden Tiga Periode, AHY: Kita Kembali ke Masa Kelam Sebelum Reformasi
Menurut pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi, memunculkan wacana presiden tiga periode dengan menduetkan Jokowi-Prabowo merupakan preseden buruk.
"Ini preseden buruk untuk wujudkan presiden baik. Rakyat itu bukan hanya perlu presiden, tapi perlu presiden yang baik. Presiden yang baik itu tidak hanya lahir dari pribadinya, tetapi dari sistem dan lingkungannya," ujar Robi kepada SINDOnews, Jumat (18/6/2021).
Robi mengatakan, para pengusung Reformasi sudah sepakat bahwa presiden itu maksimal dua periode, dengan masing-masing periode selama lima tahun. "Kalau kemudian ini diutak-atik, akan jadi preseden buruk. Kenapa? Pertama, seperti tidak ada lagi kader terbaik Indonesia yang mampu menjadi presiden. Kedua, distribusi kekuasaan itu tidak hanya horizontal, tetapi vertikal. Ada anak bangsa lainnya yang perlu diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin," jelasnya.
Baca juga: Wacana Presiden Tiga Periode, AHY: Kita Kembali ke Masa Kelam Sebelum Reformasi
Lihat Juga :