Melawan dengan Rebahan
Jum'at, 11 Juni 2021 - 05:50 WIB
Oleh karena itu, lanjutnya, ada ungkapan yang mengatakan ‘jangan hanya bekerja keras, tapi perlu bekerja cerdas’ atau ‘Don’t Work Hard, Work Smart”. Pada perkembangannya, bagi generasi Z tidak cukup hanya ‘Work Hard or Work Smart’ tetapi mulai muncul kebutuhan ‘Work Happy’. Landasan berpikirnya adalah, percuma saja bekerja apabila tidak bahagia denga apa yang kita kerjakan.
Menurut dia, hal ini masih selaras dengan ide work-life balance yang diusung oleh generasi Z. Pemikiran di atas juga yang akhirnya memicu istilah seperti “Tang-Ping” di Cina, yaitu sikap tidak bekerja terlalu keras, dan merasa puas dengan yang sudah diraih sehingga bisa memiliki waktu untuk bersantai. Terutama pada negara-negara Asia yang masih mengedepankan kerja keras, dimana semakin lembur dianggap semakin rajin dan berdedikasi.
“Lambat laun generasi Z dan mungkin generasi – generasi berikutnya tidak lagi selaras dengan ide tersebut. Disinilah biasanya benturan-benturan mulai terjadi, baik dengan generasi Y maupun X dalam dunia kerja,” bebernya.
Putri lebih jauh menandaskan, anekdot Work Hard, Work Smart, Work Happy bukanlah sesuatu yang sangat bertentangan dan perlu untuk terus diperdebatkan. Ketiga istilah di atas hanyalah masalah perspektif dari bagaimana tiap generasi memaknai pekerjaan. Pada dasarnya setiap orang dewasa butuh bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengaktualisasikan diri. Namun, dia menandaskan, tiap generasi belajar dari generasi sebelumnya dan berusaha melakukan perbaikan.
‘’Kita jangan terjebak dalam istilah, juga tidak perlu kembali pada romantisme masa lalu, dan tidak harus kaku dalam idealisme bekerja harus membuat bahagia, karena sebetulnya kebahagian bergantung pada pilihan kita dalam memaknai peristiwa. Akan sangat bahaya menggantungkan kebahagiaan dengan pekerjaan,’’ paparnya.
Lebih jauh dikatakannya, generasi saat ini tentunya perlu memikirkan bagaimana agar pekerjaan tidak menghabiskan waktu dan energi, karena itu perlu memanfaatkan teknologi atau berkolaborasi dengan professional lainnya, hal ini berarti cerdas dalam bekerja. Kebahagiaan perlu terus terjaga dalam bekerja sehingga kita tidak kehilangan motivasi dan energi.
“Kita butuh menjaga keseimbangan antara merawat pekerjaan dan merawat kehidupan pribadi. Makna sukses juga perlu di redefinisi, sehingga sukses tidak harus selalu berada di paling atas, tidak selalu berarti memiliki uang banyak, tidak harus selalu tentang kekuasaan. Namun bisa menjalin kerjasama dengan pihak lain pun sudah layak dianggap sukses. Kesuksesan sederhana yang dapat menjaga level bahagia kita,’’ katanya.
Dunia pekerjaan dan dunia pribadi, papar Putri, juga tidak harus selalu terpisah. Namun jangan sampai terlalu kabur batasannya, karena kita perlu sekat yang mencegah masalah pekerjaan terbawa dalam kehidupan pribadi dan sebaliknya. Apabila harus memilih ketiga istilah Work Hard, Work Smart, Work Happy, atau “Work Happy”, pilihan terakhir mungkin lebih tepat karena kebahagiaan adalah sesuatu yang diusahakan dalam diri, dan dengan bekerja bahagia serta tidak keberatan untuk bekerja dengan keras.
‘’Kita juga akan lebih kreatif dalam menyelesaikkan tugas, sehingga bisa dikatakan kita bekerja dengan cerdas. “Tang-Ping” ataupun istilah rebahan, hanyalah salah satu bentuk protes untuk membangun awareness masyarakat bahwa ada sesuatu yang perlu berubah. Perilaku kerja keras memang jangan sampai hilang, namun perlu fleksibel sehingga dapat berubah mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Putri memberikan tips untuk bekerja dengan bahagia. Mulai dari mengingatkan diri bahwa Bahagia adalah tanggung jawab pribadi, sehingga mencari kebahagiaan adalah kedalam diri sendiri dan bukan keluar. Kemudian membuat sistem dalam bekerja, sehingga anda dapat memonitor pekerjaan dengan mudah. Tak kalah penting juga untuk selalu bersyukur dan sesekali rayakan kesuksesan sederhana atau kecil, sehingga motivasi terjaga. “Berkolaborasilah dengan orang lain, sehingga tidak merasa sendiri. Jangan terlalu menuntut kesempurnaan tapi tuntutlah profesionalitas, sehingga kita tidak hanya terpaku pada hasil, namun proses perkembangannya,” tandasnya.
Menurut dia, hal ini masih selaras dengan ide work-life balance yang diusung oleh generasi Z. Pemikiran di atas juga yang akhirnya memicu istilah seperti “Tang-Ping” di Cina, yaitu sikap tidak bekerja terlalu keras, dan merasa puas dengan yang sudah diraih sehingga bisa memiliki waktu untuk bersantai. Terutama pada negara-negara Asia yang masih mengedepankan kerja keras, dimana semakin lembur dianggap semakin rajin dan berdedikasi.
“Lambat laun generasi Z dan mungkin generasi – generasi berikutnya tidak lagi selaras dengan ide tersebut. Disinilah biasanya benturan-benturan mulai terjadi, baik dengan generasi Y maupun X dalam dunia kerja,” bebernya.
Putri lebih jauh menandaskan, anekdot Work Hard, Work Smart, Work Happy bukanlah sesuatu yang sangat bertentangan dan perlu untuk terus diperdebatkan. Ketiga istilah di atas hanyalah masalah perspektif dari bagaimana tiap generasi memaknai pekerjaan. Pada dasarnya setiap orang dewasa butuh bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengaktualisasikan diri. Namun, dia menandaskan, tiap generasi belajar dari generasi sebelumnya dan berusaha melakukan perbaikan.
‘’Kita jangan terjebak dalam istilah, juga tidak perlu kembali pada romantisme masa lalu, dan tidak harus kaku dalam idealisme bekerja harus membuat bahagia, karena sebetulnya kebahagian bergantung pada pilihan kita dalam memaknai peristiwa. Akan sangat bahaya menggantungkan kebahagiaan dengan pekerjaan,’’ paparnya.
Lebih jauh dikatakannya, generasi saat ini tentunya perlu memikirkan bagaimana agar pekerjaan tidak menghabiskan waktu dan energi, karena itu perlu memanfaatkan teknologi atau berkolaborasi dengan professional lainnya, hal ini berarti cerdas dalam bekerja. Kebahagiaan perlu terus terjaga dalam bekerja sehingga kita tidak kehilangan motivasi dan energi.
“Kita butuh menjaga keseimbangan antara merawat pekerjaan dan merawat kehidupan pribadi. Makna sukses juga perlu di redefinisi, sehingga sukses tidak harus selalu berada di paling atas, tidak selalu berarti memiliki uang banyak, tidak harus selalu tentang kekuasaan. Namun bisa menjalin kerjasama dengan pihak lain pun sudah layak dianggap sukses. Kesuksesan sederhana yang dapat menjaga level bahagia kita,’’ katanya.
Dunia pekerjaan dan dunia pribadi, papar Putri, juga tidak harus selalu terpisah. Namun jangan sampai terlalu kabur batasannya, karena kita perlu sekat yang mencegah masalah pekerjaan terbawa dalam kehidupan pribadi dan sebaliknya. Apabila harus memilih ketiga istilah Work Hard, Work Smart, Work Happy, atau “Work Happy”, pilihan terakhir mungkin lebih tepat karena kebahagiaan adalah sesuatu yang diusahakan dalam diri, dan dengan bekerja bahagia serta tidak keberatan untuk bekerja dengan keras.
‘’Kita juga akan lebih kreatif dalam menyelesaikkan tugas, sehingga bisa dikatakan kita bekerja dengan cerdas. “Tang-Ping” ataupun istilah rebahan, hanyalah salah satu bentuk protes untuk membangun awareness masyarakat bahwa ada sesuatu yang perlu berubah. Perilaku kerja keras memang jangan sampai hilang, namun perlu fleksibel sehingga dapat berubah mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Putri memberikan tips untuk bekerja dengan bahagia. Mulai dari mengingatkan diri bahwa Bahagia adalah tanggung jawab pribadi, sehingga mencari kebahagiaan adalah kedalam diri sendiri dan bukan keluar. Kemudian membuat sistem dalam bekerja, sehingga anda dapat memonitor pekerjaan dengan mudah. Tak kalah penting juga untuk selalu bersyukur dan sesekali rayakan kesuksesan sederhana atau kecil, sehingga motivasi terjaga. “Berkolaborasilah dengan orang lain, sehingga tidak merasa sendiri. Jangan terlalu menuntut kesempurnaan tapi tuntutlah profesionalitas, sehingga kita tidak hanya terpaku pada hasil, namun proses perkembangannya,” tandasnya.
(ynt)
Lihat Juga :