Luncurkan Buku Bung Karno, Guntur Ingin Kenalkan Sosok Soekarno dengan Cara Sederhana
Minggu, 06 Juni 2021 - 23:34 WIB
Mencegah Diberedel di Orde Baru
Dia menceritakan, buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1977. Kala itu, orde baru terus melakukan de-soekarnoisasi secara masif kepada rakyat dan generasi muda. Dan untuk mencegah hal tersebut terjadi, Guntur menilai, menulis adalah salah satu cara agar ingatan rakyat terhadap sosok Soekarno tidak hilang.
“Kemudian saya berpikir bagaimana ya caranya? Satu satunya jalan, kan saya bukan orang partai, satu satunya jalan tulisan. Kalau tulisan kan pertanyaannya mau dimuat di mana? Nah kebetulan ada koran minggu namanya, Simponi, mereka berani muat tulisan tentang Bung Karno,” katanya.
Agar pemerintahan orde baru tidak mengetahuinya, Guntur memutuskan menulis artikel tentang Soekarno dari sisi human interest. Sebab Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto kerap melakukan pemberedelan terhadap karya sastra, salah satunya milik Pramoedya Ananta Toer.
Setelah terbit secara berkala di koran mingguan, tulisan tersebut akan dirangkum untuk menjadi buku. Untuk lebih amannya, Guntur mengajukan izin kepada pihak kepolisian. Harapannya pemerintahan orde baru tidak memberedel buku tersebut.
“Saya minta ke polda, saya minta izin menerbitkan kumpulan dari artikel yang udah diterbitkan Simponi, kalau dikumpulkan harusnya tidak ada masalah, jadi saya minta izin dan diberikan. Dan akhirnya buku itu terbit dan laris terjual,” jelasnya.
Guntur mengungkapkan, saat ini generasi muda masih sangat tertarik dengan sosok Soekarno. Untuk itu, dia melihat, buku ini akan menjadi asupan terbaik bagi mereka yang ingin tahu lebih dekat dengan sang proklamator.
“Saya sering bertemu anak-anak muda. Ketika saya tanya, kamu kenal enggak sih Bung Karno? Itu proklamator. Menurut kamu bagaimana? Itu Bung Karno orang hebat. Jawaban itu buat saya sudah cukup. Jadi mereka sudah punya keinginan untuk tahu siapa itu Bung Karno,” jelasnya. Baca juga: Mengenang Presiden Soekarno melalui Puisi 'Kata Bung Karno'
Dia menceritakan, buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1977. Kala itu, orde baru terus melakukan de-soekarnoisasi secara masif kepada rakyat dan generasi muda. Dan untuk mencegah hal tersebut terjadi, Guntur menilai, menulis adalah salah satu cara agar ingatan rakyat terhadap sosok Soekarno tidak hilang.
“Kemudian saya berpikir bagaimana ya caranya? Satu satunya jalan, kan saya bukan orang partai, satu satunya jalan tulisan. Kalau tulisan kan pertanyaannya mau dimuat di mana? Nah kebetulan ada koran minggu namanya, Simponi, mereka berani muat tulisan tentang Bung Karno,” katanya.
Agar pemerintahan orde baru tidak mengetahuinya, Guntur memutuskan menulis artikel tentang Soekarno dari sisi human interest. Sebab Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto kerap melakukan pemberedelan terhadap karya sastra, salah satunya milik Pramoedya Ananta Toer.
Setelah terbit secara berkala di koran mingguan, tulisan tersebut akan dirangkum untuk menjadi buku. Untuk lebih amannya, Guntur mengajukan izin kepada pihak kepolisian. Harapannya pemerintahan orde baru tidak memberedel buku tersebut.
“Saya minta ke polda, saya minta izin menerbitkan kumpulan dari artikel yang udah diterbitkan Simponi, kalau dikumpulkan harusnya tidak ada masalah, jadi saya minta izin dan diberikan. Dan akhirnya buku itu terbit dan laris terjual,” jelasnya.
Guntur mengungkapkan, saat ini generasi muda masih sangat tertarik dengan sosok Soekarno. Untuk itu, dia melihat, buku ini akan menjadi asupan terbaik bagi mereka yang ingin tahu lebih dekat dengan sang proklamator.
“Saya sering bertemu anak-anak muda. Ketika saya tanya, kamu kenal enggak sih Bung Karno? Itu proklamator. Menurut kamu bagaimana? Itu Bung Karno orang hebat. Jawaban itu buat saya sudah cukup. Jadi mereka sudah punya keinginan untuk tahu siapa itu Bung Karno,” jelasnya. Baca juga: Mengenang Presiden Soekarno melalui Puisi 'Kata Bung Karno'
Lihat Juga :