Gaok Mencari Pewaris
Kamis, 18 Februari 2021 - 15:21 WIB
Gaok adalah jenis kesenian pertunjukan mamaos (membaca teks) berupa wawacan, dari kata wawar ka nu acan atau berarti memberi tahu kepada yang belum mengetahui (Profil Kesenian Daerah Kabupaten Majalengka, Asikin Hidayat, 2017). Pada awalnya, Gaok disuguhkan untuk keperluan ritual dan adat upacara kelahiran bayi.
Gaok sebagai kesenian, dianggap sebagai hasil pencampuran nilai budaya atau sinkretisme etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Hal ini didasari Gaok sebagai medium dakwah di Majalengka, saat penyebaran ajaran Islam masa pemerintahan Pangeran Muhammad pada Abad ke-15. Sejumlah fakta menguatkan pendapat ini, keberadaan Aksara Arab (Pegon) pada naskah asli wawacan, dan jalan ceritanya berupa kisah-kisah Nabi (Anbiya) dikidungkan seniman Gaok. Selain itu, pada praktiknya, dalam pertunjukan yang menggunakan bahasa Sunda, pengucapan lafal Basmallah di awal Wawacan, menjadi keharusan.
Sejarah Gaok di Majalengka juga erat dikaitkan dengan 2 tokoh seniman yakni Sabda Wangsadihardja (Abad ke-20), serta anaknya yakni Engkos Wangsadihardja (era kejayaan pada 1960-an). Kini sepeninggal tokoh tersebut, sebagai penerus adalah Aki Rukmin. "Saya keponakan Wangsadihardja, saya manggilnya Uwak," kata Aki Rukmin.
Ia mengiyakan jika Gaok menjadi hiburan favorit masyarakat. Aki Rukmin yang bergabung grup Gaok sejak 1963, sering tampil di kampung-kampung. "Nu ngagaduhan bayi, ngarupus, ngayun sampe babarit sawah (yang punya bayi, melahirkan, sampai panen sawah)," kenang Aki Rukmin.
Gaok kini dan dulu memiliki perbedaan. Di awal, Gaok dibawakan sebatas memaparkan cerita babad tanpa iringan musik alias asli mengandalkan kemampuan dalang mengolah cerita lalakon dengan ragam jenis lagu pupuh. Karena sifatnya sebagai seni pertunjukan, Gaok berkembang. Gaok mulai ditambahkan dengan alat musik. Itu pun, menurut Fahrurozi dalam penelitiannya Strategi Dalang Gaok, 2014, hanya digunakan untuk mengiringi mamaos/Gaok secara keseluruhan atau hanya jeda misal pada saat mengakhiri kalimat lagu atau ngagoongkeun pupuh.
Pada saat itu, menurut Aki Rukmin, Gaok dilengkapi naskah, sesaji (ritual), dan waditra (alat musik) pengiring. "Apapun yang ada di dapur, kecreknya sendok, kadang piring, tapi ke sininya ada tukang Kendang, Gong, Terompet, tapi yang aslinya tetap ada, Buyung," kata Udin, peniup Buyung. Gaok mengalami transformasi.
Naskah Gaok, masih berdasarkan penuturan Aki Rukmin, berupa wawacan atau lalakon yang berjumlah 17. Beberapa yang favorit ia sering bawakan yakni cerita Sulanjana, Barjah, Samun, Nyi Rambut Kasih dan Talagamanggung. "Itu cerita padi dan Dewi Sri (Sulanjana)," ujar Aki Rukmin.
Selain pelaku seni seperti Aki Rukmin, keberadaan naskah menjadi bukti peninggalan seni sunda karuhun (lama) yang hingga saat ini masih bertahan. Aki Rukmin yang berperan sebagai dalang Gaok, menguasai berbagai jenis pupuhnya, di mana yang sering dia bawakan antara lain Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula.
"Lagu-lagu itu harus purwakanti (repetisi yang sama), kalau ga gitu, ga enak didengar, kapan suara sedang, besar kecil, susah," kata Aki Rukmin menegaskan.
Jika diibaratkan, Gaok sebagai pekerjaan menyanyi yang dimainkan empat sampai enam orang yang dipimpin dalang. Gaok merupakan seni dengan model partisipatif dan saling berbalas. "Yang baca cerita itu dalang, kemudian dilanjut sampe habis pupuh itu ya ketujuh personel itu. Dangding pupuhnya harus hapal semua. Nah sekarang mencari personel yang bisa pupuh itu yang susah, kebetulan di sini tinggal ini doang yang masih eksis," kata Andi, personel Gaok lainnya, ikut menimpali.
Tidak semata sumber daya manusia, pengelolaan koleksi naskah wawacan juga menjadi sorotan. Pasalnya, naskah wawacan asli yang ada, tidak lebih tua dari umur perjalanan Aki Rukmin menggeluti Gaok. "Aksara Arab, ini buatan tahun 61-62. disebutnya Aksara Pegon, dibikinnya sebaris oleh mantan sekretaris Desa Wangsadihardja," katanya.
Selain lapuk karena materialnya, wawacan asli dengan Aksara Pegon yang disodorkan Aki Rukmin pada saya, memang terlihat kurang terawat. Robek di beberapa sisi, pudar di beberapa bagian halamannya. Bahkan, sebagian di antaranya malah hilang tidak kembali akibat peminjaman. Alih bahasa yang dilakukan beberapa peneliti yang concern dengan manuskrip sastra kuno, tetapi itupun dirasa belum cukup.
"Iya ini tos dialihkeun (dipindahkan ke Aksara Latin) sabait sabaris, diterjemahkan iyeu," ujar Aki Rukmin sambil menunjuk buku penelitian tebal milik mahasiswa yang meneliti wawacan Samun.
Mencari Pewaris Gaok
Seiring perkembangan zaman, sejumlah persoalan menghadang seni Gaok. Kini masyarakat sudah banyak berubah. Konteks realitas yang ada, membuat Majalengka bukan kota kecil seperti dulu. Di berbagai wilayah, infrastruktur mulai dibangun. Pabrik-pabrik industri kini merambah daerah-daerah di Majalengka sebagai migrasi kepadatan di Ibu Kota. Jalan tol Cikampek-Palimanan atau (Cipali) menyeruak akses jalan dari dan menuju Majalengka. Pun kemajuan teknologi berangsur membuka akses informasi bagi desa-desa tradisional yang selama ini tertutup. Eksesnya, pedesaan dengan masyarakat agronya, beranjak dari kultur lamanya. Bekerja di kota, berinteraksi, mengubah konteks sosial budaya yang ada.
Imbas dari realitas kehidupan yang ada, membuat Gaok tidak lagi berkembang. Yang terasa, pementasan Gaok jauh berkurang. Bahkan tradisi masyarakat yang biasanya mengundang Gaok untuk tampil, tidak lagi dilakukan.
Diakui Aki Rukmin, penampilan Gaok melorot jauh. Jika ada undangan mengisi hajatan atau tampil, itu pun untuk keperluan penelitian semata. Keluhan Aki Rukmin seiring dengan turunnya minat terhadap Gaok. Gaok dianggap old-fashion. Sebagai hiburan, Gaok dianggap monoton. Seninya orang tua. Realitas yang juga disadari oleh Aki Rukmin. Regenerasi yang ia coba lakukan, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Memang sangat susah, inginnya mencari murid, nepakeun (menularkan), ini saya sudah model gini (tua), saya ga nyanggupin. Jawaban anak muda sekarang katanya malu," kata Aki Rukmin berkeluh kesah.
Ia menyebut minat pemuda mempelajari Gaok saat ini dirasa kurang. Praktik mengajarkan pernah ia lakukan, namun generasi muda di daerahnya saat ini tidak tertarik menekuni seni yang menjadi ciri khas Desa Kulur. Sulit menguasai skill Gaok, tidak percaya diri, para remaja dan anak muda beralasan. Mereka pilih bermain musik semacam band.
"Bagaimana saya menurunkannya, kan ada dangdingnya (nada), memang seni Gaok kayak gitu, ada model cengkok-nya," kata Aki Rukmin. "Saya juga modelnya kalau tidak diawalin sama dalang, terus keluar dari bait itu, ya udah blank aja langgamnya. Terlalu jauh (gap suara)," kata Udin menimpali.
Keengganan generasi muda Desa Kulur diakui Hasan Sunarto, Kepala Desa Kulur. Ia melihat, Gaok di desanya cenderung stagnan. "Memang anak-anak zaman sekarang agak susah juga untuk dibawa melestarikan seni gaok ini, susah," katanya.
Hasan melihat, minim pentas Gaok menjadi faktor penyebabnya. Frekuensi pengenalan seni lebih dini pada generasi muda dirasa kurang. "Anak-anak juga kalau ada pentas ini, hadir mah hadir, artinya secara antusias mah, pentas ini banyak melihat, banyak yang nonton," katanya.
Menurut Kuwu Hasan, wadahnya sudah relatif tersedia. Di desa yang ia pimpin, acara rutin mulai digalakkan lagi, seperti panen raya blok Cijorey, acara Agustusan (HUT Republik Indonesia), maupun Maulud Nabi, di mana kolaborasi Gaok Aki Rukmin dan tabuhan alat musik genjring. Hal yang juga tidak kalah penting menurutnya, pengajaran muatan lokal berupa seni Sunda misal semodel pupuh, sudah jarang diajarkan di sekolah.
Gaok sebagai kesenian, dianggap sebagai hasil pencampuran nilai budaya atau sinkretisme etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Hal ini didasari Gaok sebagai medium dakwah di Majalengka, saat penyebaran ajaran Islam masa pemerintahan Pangeran Muhammad pada Abad ke-15. Sejumlah fakta menguatkan pendapat ini, keberadaan Aksara Arab (Pegon) pada naskah asli wawacan, dan jalan ceritanya berupa kisah-kisah Nabi (Anbiya) dikidungkan seniman Gaok. Selain itu, pada praktiknya, dalam pertunjukan yang menggunakan bahasa Sunda, pengucapan lafal Basmallah di awal Wawacan, menjadi keharusan.
Sejarah Gaok di Majalengka juga erat dikaitkan dengan 2 tokoh seniman yakni Sabda Wangsadihardja (Abad ke-20), serta anaknya yakni Engkos Wangsadihardja (era kejayaan pada 1960-an). Kini sepeninggal tokoh tersebut, sebagai penerus adalah Aki Rukmin. "Saya keponakan Wangsadihardja, saya manggilnya Uwak," kata Aki Rukmin.
Ia mengiyakan jika Gaok menjadi hiburan favorit masyarakat. Aki Rukmin yang bergabung grup Gaok sejak 1963, sering tampil di kampung-kampung. "Nu ngagaduhan bayi, ngarupus, ngayun sampe babarit sawah (yang punya bayi, melahirkan, sampai panen sawah)," kenang Aki Rukmin.
Gaok kini dan dulu memiliki perbedaan. Di awal, Gaok dibawakan sebatas memaparkan cerita babad tanpa iringan musik alias asli mengandalkan kemampuan dalang mengolah cerita lalakon dengan ragam jenis lagu pupuh. Karena sifatnya sebagai seni pertunjukan, Gaok berkembang. Gaok mulai ditambahkan dengan alat musik. Itu pun, menurut Fahrurozi dalam penelitiannya Strategi Dalang Gaok, 2014, hanya digunakan untuk mengiringi mamaos/Gaok secara keseluruhan atau hanya jeda misal pada saat mengakhiri kalimat lagu atau ngagoongkeun pupuh.
Pada saat itu, menurut Aki Rukmin, Gaok dilengkapi naskah, sesaji (ritual), dan waditra (alat musik) pengiring. "Apapun yang ada di dapur, kecreknya sendok, kadang piring, tapi ke sininya ada tukang Kendang, Gong, Terompet, tapi yang aslinya tetap ada, Buyung," kata Udin, peniup Buyung. Gaok mengalami transformasi.
Naskah Gaok, masih berdasarkan penuturan Aki Rukmin, berupa wawacan atau lalakon yang berjumlah 17. Beberapa yang favorit ia sering bawakan yakni cerita Sulanjana, Barjah, Samun, Nyi Rambut Kasih dan Talagamanggung. "Itu cerita padi dan Dewi Sri (Sulanjana)," ujar Aki Rukmin.
Selain pelaku seni seperti Aki Rukmin, keberadaan naskah menjadi bukti peninggalan seni sunda karuhun (lama) yang hingga saat ini masih bertahan. Aki Rukmin yang berperan sebagai dalang Gaok, menguasai berbagai jenis pupuhnya, di mana yang sering dia bawakan antara lain Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula.
"Lagu-lagu itu harus purwakanti (repetisi yang sama), kalau ga gitu, ga enak didengar, kapan suara sedang, besar kecil, susah," kata Aki Rukmin menegaskan.
Jika diibaratkan, Gaok sebagai pekerjaan menyanyi yang dimainkan empat sampai enam orang yang dipimpin dalang. Gaok merupakan seni dengan model partisipatif dan saling berbalas. "Yang baca cerita itu dalang, kemudian dilanjut sampe habis pupuh itu ya ketujuh personel itu. Dangding pupuhnya harus hapal semua. Nah sekarang mencari personel yang bisa pupuh itu yang susah, kebetulan di sini tinggal ini doang yang masih eksis," kata Andi, personel Gaok lainnya, ikut menimpali.
Tidak semata sumber daya manusia, pengelolaan koleksi naskah wawacan juga menjadi sorotan. Pasalnya, naskah wawacan asli yang ada, tidak lebih tua dari umur perjalanan Aki Rukmin menggeluti Gaok. "Aksara Arab, ini buatan tahun 61-62. disebutnya Aksara Pegon, dibikinnya sebaris oleh mantan sekretaris Desa Wangsadihardja," katanya.
Selain lapuk karena materialnya, wawacan asli dengan Aksara Pegon yang disodorkan Aki Rukmin pada saya, memang terlihat kurang terawat. Robek di beberapa sisi, pudar di beberapa bagian halamannya. Bahkan, sebagian di antaranya malah hilang tidak kembali akibat peminjaman. Alih bahasa yang dilakukan beberapa peneliti yang concern dengan manuskrip sastra kuno, tetapi itupun dirasa belum cukup.
"Iya ini tos dialihkeun (dipindahkan ke Aksara Latin) sabait sabaris, diterjemahkan iyeu," ujar Aki Rukmin sambil menunjuk buku penelitian tebal milik mahasiswa yang meneliti wawacan Samun.
Mencari Pewaris Gaok
Seiring perkembangan zaman, sejumlah persoalan menghadang seni Gaok. Kini masyarakat sudah banyak berubah. Konteks realitas yang ada, membuat Majalengka bukan kota kecil seperti dulu. Di berbagai wilayah, infrastruktur mulai dibangun. Pabrik-pabrik industri kini merambah daerah-daerah di Majalengka sebagai migrasi kepadatan di Ibu Kota. Jalan tol Cikampek-Palimanan atau (Cipali) menyeruak akses jalan dari dan menuju Majalengka. Pun kemajuan teknologi berangsur membuka akses informasi bagi desa-desa tradisional yang selama ini tertutup. Eksesnya, pedesaan dengan masyarakat agronya, beranjak dari kultur lamanya. Bekerja di kota, berinteraksi, mengubah konteks sosial budaya yang ada.
Imbas dari realitas kehidupan yang ada, membuat Gaok tidak lagi berkembang. Yang terasa, pementasan Gaok jauh berkurang. Bahkan tradisi masyarakat yang biasanya mengundang Gaok untuk tampil, tidak lagi dilakukan.
Diakui Aki Rukmin, penampilan Gaok melorot jauh. Jika ada undangan mengisi hajatan atau tampil, itu pun untuk keperluan penelitian semata. Keluhan Aki Rukmin seiring dengan turunnya minat terhadap Gaok. Gaok dianggap old-fashion. Sebagai hiburan, Gaok dianggap monoton. Seninya orang tua. Realitas yang juga disadari oleh Aki Rukmin. Regenerasi yang ia coba lakukan, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Memang sangat susah, inginnya mencari murid, nepakeun (menularkan), ini saya sudah model gini (tua), saya ga nyanggupin. Jawaban anak muda sekarang katanya malu," kata Aki Rukmin berkeluh kesah.
Ia menyebut minat pemuda mempelajari Gaok saat ini dirasa kurang. Praktik mengajarkan pernah ia lakukan, namun generasi muda di daerahnya saat ini tidak tertarik menekuni seni yang menjadi ciri khas Desa Kulur. Sulit menguasai skill Gaok, tidak percaya diri, para remaja dan anak muda beralasan. Mereka pilih bermain musik semacam band.
"Bagaimana saya menurunkannya, kan ada dangdingnya (nada), memang seni Gaok kayak gitu, ada model cengkok-nya," kata Aki Rukmin. "Saya juga modelnya kalau tidak diawalin sama dalang, terus keluar dari bait itu, ya udah blank aja langgamnya. Terlalu jauh (gap suara)," kata Udin menimpali.
Keengganan generasi muda Desa Kulur diakui Hasan Sunarto, Kepala Desa Kulur. Ia melihat, Gaok di desanya cenderung stagnan. "Memang anak-anak zaman sekarang agak susah juga untuk dibawa melestarikan seni gaok ini, susah," katanya.
Hasan melihat, minim pentas Gaok menjadi faktor penyebabnya. Frekuensi pengenalan seni lebih dini pada generasi muda dirasa kurang. "Anak-anak juga kalau ada pentas ini, hadir mah hadir, artinya secara antusias mah, pentas ini banyak melihat, banyak yang nonton," katanya.
Menurut Kuwu Hasan, wadahnya sudah relatif tersedia. Di desa yang ia pimpin, acara rutin mulai digalakkan lagi, seperti panen raya blok Cijorey, acara Agustusan (HUT Republik Indonesia), maupun Maulud Nabi, di mana kolaborasi Gaok Aki Rukmin dan tabuhan alat musik genjring. Hal yang juga tidak kalah penting menurutnya, pengajaran muatan lokal berupa seni Sunda misal semodel pupuh, sudah jarang diajarkan di sekolah.
Lihat Juga :