Puasa, Takwa, dan Kemajuan Bangsa

Senin, 18 Mei 2020 - 08:05 WIB
Sejatinya Allah Azza wa Jalla yang menciptakan manusia dan alam semesta dengan gamblang memberikan pedoman (kunci) untuk membuka pintu langit agar suatu bangsa bisa maju dan sejahtera, “Baldatun toyyibatun warobun ghafur”. Kunci tersebut adalah takwa. Sebagaimana firman-Nya, “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” (QS Al-A’raf: 96). Wujud nyata dari berkah dalam konteks kehidupan berbangsa adalah kemajuan, kesejahteraan, kedamaian, dan kedaulatan.

Takwa juga menjamin orang yang mengamalkannya kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Sebagaimana Allah tegaskan dalam Alquran Surat At-Talaq bahwa “… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (ayat 2); “Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya dan mencukupkan keperluannya …” (ayat 3); “menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya” (ayat 4); dan “Menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya” (ayat-5). Selain itu, Allah berfirman “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan hanya bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Ali-‘Imran: 133).

Menurut jumhur ulama, takwa adalah mengerjakan semua perintah Allah dan meninggalkan setiap larangan-Nya. Harus dicatat bahwa perintah Allah itu bukan hanya berupa salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi juga terkait muamalah (kesalehan sosial) seperti mengais rezeki secara halal, konsumsi makanan yang halal lagi baik, hidup bersih, menuntut dan mengamalkan iptek, bekerja keras, jujur, ikhlas, disiplin, menyayangi sesama, toleran, merawat dan melestarikan lingkungan, dan amal saleh lainnya.

Larangan pun bukan hanya mencuri, berzina, minuman keras, judi, dan narkoba, tetapi juga malas, bohong, zalim, dengki, marah, kikir, kemaksiatan, serta etos kerja buruk lainnya. Muslim yang memiliki iman yang kokoh, terutama kepada Allah SWT dan akhirat, pasti akan bertakwa. Pasalnya, jika tidak takwa, dia akan menjadi penghuni neraka. Siksaan yang paling ringan di neraka adalah seperti “Seseorang dipakaikan sandal, lalu mendidih ubun-ubunya” (hadis).

Maka itu, wajar ketika umat Islam beriman dan bertakwa secara kaffah (menyeluruh) dan ‘itibba (menurut yang dicontohkan Rasulullah SAW) sejak zaman Rasulullah SAW, Fatukh Mekah (7 M) sampai 16 M, umat Islam menggapai masa keemasannya; menjadi maju, sejahtera, berdaulat, dan menguasai lebih dari dua pertiga dunia. Di antara ilmuwan muslim yang namanya harum dan abadi sampai sekarang adalah Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi SAW, ilmuwan pelopor etos ilmiah), Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar dan Algoritma), Al-Battani (astronom penemu waktu 24 jam per hari), Ibnu Farnas (desainer pertama pesawat terbang), Ibnu Khaldun (ilmu tata negara), dan Umar Khayyam (penyair yang merintis geometri analitis).

Paradoks Kehidupan Muslim

Karena maksud Allah mewajibkan orang beriman mengerjakan ibadah puasa Ramadan agar menjadi orang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183), maka mestinya kualitas SDM Indonesia sudah sangat unggul dan Indonesia sudah menjadi negara maju dan sejahtera. Bayangkan, andaikan 230 juta muslim Indonesia (87% total penduduk) semuanya bertakwa, niscaya Indonesia sudah mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaannya.

Pertanyaannya, mengapa sudah 74 kali muslim Indonesia berpuasa Ramadan sejak 1945, tetapi Indonesia masih sebagai negara berkembang? Pertama, menurut sebuah survei (2017) bahwa muslim Indonesia yang menjalankan salat lima waktu hanya 25% dan puasa Ramadan hanya 50%. Dari jumlah tersebut ditengarai mayoritas mereka yang berpuasa kelasnya hanya puasa awam, hanya mendapatkan lapar dan dahaga alias gagal mencapai derajat takwa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!