KTT dan Krisis (Baru) Arab Teluk
Rabu, 13 Januari 2021 - 07:05 WIB
Hasibullah Satrawi (Foto: Istimewa)
Hasibullah Satrawi
Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam
BEBERAPA waktu lalu (5/1/2021), negara-negara Arab yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-41. Di satu sisi, KTT yang digelar di Kota Al-Ula, Arab Saudi, bisa dikatakan berhasil mengakhiri krisis negara-negara Arab Teluk yang sudah berlangsung selama 3,5 tahun (sejak Juni 2017). Hal ini bisa dibuktikan dengan hadirnya pemimpin tertinggi dari negara-negara Arab Teluk (khususnya Qatar), di samping adanya Deklarasi Al-Ula yang terdiri atas 117 poin. Bahkan, satu hari sebelum pelaksanaan KTT, Arab Saudi memutuskan membuka kembali perbatasannya dengan Qatar, baik darat, laut maupun udara (aawsat.com, 5/1/2021).
Namun demikian, di sisi yang lain, KTT kali ini justru mengembuskan pesimisme dan bisa membuka celah konflik baru mengingat Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain (pada tahap tertentu) tampaknya tidak terlalu bahagia dengan rekonsiliasi yang tercapai antara Arab Saudi dan Qatar. Hal ini bisa dilihat dari dinginnya sikap kedua negara tersebut (UEA dan Bahrain) terkait dengan perubahan hubungan antara Arab Saudi dan Qatar.
Sebagaimana dimaklumi, krisis Arab Teluk ini berawal dari hubungan Qatar yang dianggap terlalu dekat dengan Iran di satu sisi dan juga dengan kelompok Ikhwan Muslimin di sisi yang lain. Beberapa negara Arab Teluk plus Mesir memprotes sikap Qatar tersebut dengan sangat keras hingga menerapkan embargo total terhadap Qatar. Sebagai negara yang juga kaya raya di Timur Tengah, Qatar menentang keras sikap dari negara-negara Arab Teluk di atas. Alih-alih melunak, Qatar justru semakin dekat dengan Iran dan juga Turki (sebagai musuh dari Arab Saudi, Mesir, dan UEA).
Pengamat Politik Timur Tengah dan Dunia Islam
BEBERAPA waktu lalu (5/1/2021), negara-negara Arab yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-41. Di satu sisi, KTT yang digelar di Kota Al-Ula, Arab Saudi, bisa dikatakan berhasil mengakhiri krisis negara-negara Arab Teluk yang sudah berlangsung selama 3,5 tahun (sejak Juni 2017). Hal ini bisa dibuktikan dengan hadirnya pemimpin tertinggi dari negara-negara Arab Teluk (khususnya Qatar), di samping adanya Deklarasi Al-Ula yang terdiri atas 117 poin. Bahkan, satu hari sebelum pelaksanaan KTT, Arab Saudi memutuskan membuka kembali perbatasannya dengan Qatar, baik darat, laut maupun udara (aawsat.com, 5/1/2021).
Namun demikian, di sisi yang lain, KTT kali ini justru mengembuskan pesimisme dan bisa membuka celah konflik baru mengingat Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain (pada tahap tertentu) tampaknya tidak terlalu bahagia dengan rekonsiliasi yang tercapai antara Arab Saudi dan Qatar. Hal ini bisa dilihat dari dinginnya sikap kedua negara tersebut (UEA dan Bahrain) terkait dengan perubahan hubungan antara Arab Saudi dan Qatar.
Sebagaimana dimaklumi, krisis Arab Teluk ini berawal dari hubungan Qatar yang dianggap terlalu dekat dengan Iran di satu sisi dan juga dengan kelompok Ikhwan Muslimin di sisi yang lain. Beberapa negara Arab Teluk plus Mesir memprotes sikap Qatar tersebut dengan sangat keras hingga menerapkan embargo total terhadap Qatar. Sebagai negara yang juga kaya raya di Timur Tengah, Qatar menentang keras sikap dari negara-negara Arab Teluk di atas. Alih-alih melunak, Qatar justru semakin dekat dengan Iran dan juga Turki (sebagai musuh dari Arab Saudi, Mesir, dan UEA).
Lihat Juga :