Gus Dur dalam Kenangan Kang Sobary
Minggu, 13 Desember 2020 - 15:25 WIB
Buku Jejak Guru Bangsa karya Budayawan Mohammad Sobary. IST
Kepergian Gus Dur memang meninggalkan banyak kesan bagi sahabat dan pengagumnya 11 tahun silam. Puluhan judul buku tentang cucu pendiri NU itu pun tumbuh bak cendawan di musim hujan. Ragam tulisannya pun beragam. Dari kesaksian atas sepak terjang Gus Dur hingga penafsiran atas berbagai ide, langkah, dan gagasan mantan Ketua Umum PBNU itu di ranah sosial, politik, budaya, dan humor. Tulisan-tulisan lama Gus Dur di berbagai media baik jurnal, koran, majalah, pun diterbitkan kembali. (Baca Juga : Kangen Humor Gus Dur)
Sudut pandang (angle) yang dipilih para penulis buku-buku Gus Dur umumnya senada. Rata-rata pengarang buku-buku itu menunjukkan kekaguman dan rasa hormat mendalam kepada sosok putra menteri agama pertama RI tersebut. Kondisi ini wajar mengingat sebagian besar penulis buku-buku tentang Gus Dur berasal dari kalangan nahdliyin. Fokus pembahasan umumnya mencoba menafsirkan ide, pemikiran, dan langkah Gus Dur. Sedangkan gaya tulisan sebagian besar mengunakan gaya penulisan artikel ilmiah yang cenderung kaku. Disusun berdasarkan ide-ide besar Gus Dur baik terkait pluralisme, NU, PKB, dan beberapa ide kebangsaan sang kiai presiden.
Mohamad Sobary dalam buku Jejak Guru Bangsa menawarkan hal berbeda. Salah satu sobat karib Gus Dur ini tidak mencoba menganalisa atau menafsirkan langkah dan pemikiran ketua dewan syura PKB tersebut. Pria yang akrab disapa Kang Sobary itu hanya mencoba mengajak pembaca untuk menyaksikan babakan penting dalam hidup Gus Dur. Gaya penulisannya pun lebih mirip dengan novel. Di sana ada dialog baik antara Gus Dur dengan guru-gurunya maupun dialog antara Kang Sobary sendiri dengan sang guru bangsa tersebut.
Dalam prolog-nya, mantan Ketua LKBN Antara itu menegaskan jika dirinya tidak bermaksud untuk menjadi penafsir pemikir dan langkah Gus Dur. Dia takut, jika penafsiran tersebut malah mempersempit atau memperlebar ide atau langkah Gus Dur sendiri. Peneliti LIPI itu hanya ingin mengajak pembaca ikut “berjalan” di belakang Gus Dur dan bersama-sama menjadi saksi atas titik-titik penting dalam hidup pria kelahiran Denanyar, Jombang itu. Titik-titik penting yang menjadi latar kehidupan Gus Dur. Latar yang mungkin menjadi penjelas sepak terjang Gus Dur yang dianggap nyeleneh.
Sudut pandang (angle) yang dipilih para penulis buku-buku Gus Dur umumnya senada. Rata-rata pengarang buku-buku itu menunjukkan kekaguman dan rasa hormat mendalam kepada sosok putra menteri agama pertama RI tersebut. Kondisi ini wajar mengingat sebagian besar penulis buku-buku tentang Gus Dur berasal dari kalangan nahdliyin. Fokus pembahasan umumnya mencoba menafsirkan ide, pemikiran, dan langkah Gus Dur. Sedangkan gaya tulisan sebagian besar mengunakan gaya penulisan artikel ilmiah yang cenderung kaku. Disusun berdasarkan ide-ide besar Gus Dur baik terkait pluralisme, NU, PKB, dan beberapa ide kebangsaan sang kiai presiden.
Mohamad Sobary dalam buku Jejak Guru Bangsa menawarkan hal berbeda. Salah satu sobat karib Gus Dur ini tidak mencoba menganalisa atau menafsirkan langkah dan pemikiran ketua dewan syura PKB tersebut. Pria yang akrab disapa Kang Sobary itu hanya mencoba mengajak pembaca untuk menyaksikan babakan penting dalam hidup Gus Dur. Gaya penulisannya pun lebih mirip dengan novel. Di sana ada dialog baik antara Gus Dur dengan guru-gurunya maupun dialog antara Kang Sobary sendiri dengan sang guru bangsa tersebut.
Dalam prolog-nya, mantan Ketua LKBN Antara itu menegaskan jika dirinya tidak bermaksud untuk menjadi penafsir pemikir dan langkah Gus Dur. Dia takut, jika penafsiran tersebut malah mempersempit atau memperlebar ide atau langkah Gus Dur sendiri. Peneliti LIPI itu hanya ingin mengajak pembaca ikut “berjalan” di belakang Gus Dur dan bersama-sama menjadi saksi atas titik-titik penting dalam hidup pria kelahiran Denanyar, Jombang itu. Titik-titik penting yang menjadi latar kehidupan Gus Dur. Latar yang mungkin menjadi penjelas sepak terjang Gus Dur yang dianggap nyeleneh.
Lihat Juga :