Gus Dur dalam Kenangan Kang Sobary
Minggu, 13 Desember 2020 - 15:25 WIB
Kendati berusaha seminimal mungkin menjaga agar tidak melakukan tafsir atas Gus Dur, Kang Sobary sendiri pun mengaku, jika karyanya tidak bisa lepas dari potensi “bias”. Pemilihan peristiwa atau kejadian penting dalam kehidupan Gus Dur yang menjadi titik tolak pembahasan tiap bab, bisa jadi merupakan subyektifitas dari aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) tersebut. Secara umum Kang Sobary memilah babakan hidup penting Gus Dur ke dalam beberapa bagian. Pertama saat Gus Dur mondok di Krapyak Jogjakarta, dan Tegalrejo Magelang. Kemudian saat Gus Dur aktif di dunia LSM. Lalu saat Gus Dur menjadi ketua umum PBNU, dan seputar pengangkatan Gus Dur menjadi Presiden RI.
Lika-liku Gus Dur saat menghadapi tindakan represif rezim orde baru serta kemampuan suami Sinta Nuriyah itu mengkapitalisasi fanatisme dan budaya nahdliyin menjadi langkah-langkah operasional dalam politik, menjadi titik sorot tersendiri bagi Kang Sobary. Sebagai pedoman dalam menyaksikan “pergulatan hidup” sang guru bangsa, Kang Sobary mendefinisikan Gus Dur sebagai “si luka hati” dan “pejuang kemanusiaan”. Sebagai seorang remaja yang kehilangan ayah di usia muda, menjadikan Gus Dur sebagai sosok pemberontak. Fase ini menjadikan Gus Dur sebagai seorang yang sensitif, reliable, dan suka nabrak-nabrak. Namun sebagai pejuang kemanusiaan, Gus Dur merupakan seorang yang tulus, tanpa pamrih, dan selalu riang dengan berbagai joke segar. Fase-fase ini dalam pandangan Kang Sobary silih berganti menjadi warna dasar kehidupan Gus Dur.
Keunggulan buku ini terletak pada subyektifitas Kang Sobary yang terkesan “objektif”. Penulis produktif ini menampilkan Gus Dur sebagai seorang manusia biasa. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kader Muhammadiyah ini pun mengkritisi sikap “keras kepala” Gus Dur saat berhadap-hadapan dengan anggota DPR/MPR yang ngotot melengserkan-nya. Dalam sub bab politik andaikata Kang Sobary mengandaikan jika saja Gus Dur dengan “halus” menghadapi kekerasan dari anggota dewan, mungkin cerita kepresidenan mantan ketua Forum Demokrasi itu akan lain. Terlepas dari itu semua, Kang Sobary menilai kehilangan Gus Dur merupakan kehilangan besar. Tidak hanya bagi warga NU atau Indonesia, tapi juga bagi kemanusiaan. Sebuah buku yang layak dibaca dan dikoleksi tentunya.
Lika-liku Gus Dur saat menghadapi tindakan represif rezim orde baru serta kemampuan suami Sinta Nuriyah itu mengkapitalisasi fanatisme dan budaya nahdliyin menjadi langkah-langkah operasional dalam politik, menjadi titik sorot tersendiri bagi Kang Sobary. Sebagai pedoman dalam menyaksikan “pergulatan hidup” sang guru bangsa, Kang Sobary mendefinisikan Gus Dur sebagai “si luka hati” dan “pejuang kemanusiaan”. Sebagai seorang remaja yang kehilangan ayah di usia muda, menjadikan Gus Dur sebagai sosok pemberontak. Fase ini menjadikan Gus Dur sebagai seorang yang sensitif, reliable, dan suka nabrak-nabrak. Namun sebagai pejuang kemanusiaan, Gus Dur merupakan seorang yang tulus, tanpa pamrih, dan selalu riang dengan berbagai joke segar. Fase-fase ini dalam pandangan Kang Sobary silih berganti menjadi warna dasar kehidupan Gus Dur.
Keunggulan buku ini terletak pada subyektifitas Kang Sobary yang terkesan “objektif”. Penulis produktif ini menampilkan Gus Dur sebagai seorang manusia biasa. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan. Kader Muhammadiyah ini pun mengkritisi sikap “keras kepala” Gus Dur saat berhadap-hadapan dengan anggota DPR/MPR yang ngotot melengserkan-nya. Dalam sub bab politik andaikata Kang Sobary mengandaikan jika saja Gus Dur dengan “halus” menghadapi kekerasan dari anggota dewan, mungkin cerita kepresidenan mantan ketua Forum Demokrasi itu akan lain. Terlepas dari itu semua, Kang Sobary menilai kehilangan Gus Dur merupakan kehilangan besar. Tidak hanya bagi warga NU atau Indonesia, tapi juga bagi kemanusiaan. Sebuah buku yang layak dibaca dan dikoleksi tentunya.
(war)
Lihat Juga :