HRS, Ratu Adil, dan Krisis Sosial
Jum'at, 20 November 2020 - 05:22 WIB
Krisis sosial juga dirasakan sebagian besar masyarakat saat ini. Krisis dipicu tingginya kesenjangan sosial, mayoritas perekonomian dikuasai segelintir elite maupun kesulitan-kesulitan hidup di tengah situasi pandemi. Belum lagi praktik lancung mafia hukum hingga pembentukan undang-undang yang “ugal-ugalan”.
Krisis sosial membuat sebagian masyarakat tak lagi rasional. Mereka berada di tengah situasi kebingungan dan mulai kehilangan arah. Jika kita kembali ke belakang, munculnya “kerajaan” baru seperti Sunda Empire menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang kebingungan. Masyarakat yang mengalami krisis sosial cenderung kehilangan pegangan. Mereka kemudian mudah dimanipulasi dengan gerakan-gerakan “ratu adil”.
Situasi ini mengingatkan saya pada film serial Netflix, "Messiah". Sosok pria misterius muncul di tengah pergolakan Suriah di masa pertempuran dengan ISIS. Masyarakat mengalami krisis, tak punya tempat tinggal dan makanan, bahkan harus mengalami teror setiap waktu. Pada mulanya pria tersebut ditolak, tetapi akhirnya masyarakat mulai memercayai bahwa dia adalah sosok Al-Masih yang kembali datang untuk menyelamatkan umat manusia di akhir zaman.
Mesianisme merupakan gerakan sosial yang mendorong ke arah tindakan untuk mengubah kondisi krisis, penderitaan, dan kelaliman. Mengatasi gap yang besar antara cita-cita ideal masyarakat dengan realitas. Cita-cita seperti masyarakat adil makmur dan sejahtera ataupun negeri yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur tampak jauh panggang dari api. Kesadaran ini menimbulkan harapan perubahan dan membangkitkan sentimen revolusioner melalui ideologi keagamaan (Sartono Kartodirdjo, 1959).
Krisis Kepemimpinan
Di tengah krisis sosial, masyarakat juga membutuhkan panduan seorang pemimpin. Secara psikologis, manusia memiliki sifat dasar, yakni rasa takut dan harapan. Saat manusia menghadapi permasalahan yang berat, dia cenderung membayangkan adanya kekuatan di luar dirinya. Sosok tersebut diharapkan mampu menolongnya menghadapi beratnya permasalahan hidup.
Hadirnya Pangeran Diponegoro, HOS Tjokroaminoto maupun Ir Soekarno juga dipicu situasi krisis sosial karena kolonialisme. Kita sering mendengar kisah bagaimana masyarakat terdiam, berhenti melakukan segala aktivitas bila mendengar Bung Karno berbicara. Pemimpin dicari dan diikuti di kala terjadi krisis.
Krisis sosial membuat sebagian masyarakat tak lagi rasional. Mereka berada di tengah situasi kebingungan dan mulai kehilangan arah. Jika kita kembali ke belakang, munculnya “kerajaan” baru seperti Sunda Empire menggambarkan kondisi masyarakat yang sedang kebingungan. Masyarakat yang mengalami krisis sosial cenderung kehilangan pegangan. Mereka kemudian mudah dimanipulasi dengan gerakan-gerakan “ratu adil”.
Situasi ini mengingatkan saya pada film serial Netflix, "Messiah". Sosok pria misterius muncul di tengah pergolakan Suriah di masa pertempuran dengan ISIS. Masyarakat mengalami krisis, tak punya tempat tinggal dan makanan, bahkan harus mengalami teror setiap waktu. Pada mulanya pria tersebut ditolak, tetapi akhirnya masyarakat mulai memercayai bahwa dia adalah sosok Al-Masih yang kembali datang untuk menyelamatkan umat manusia di akhir zaman.
Mesianisme merupakan gerakan sosial yang mendorong ke arah tindakan untuk mengubah kondisi krisis, penderitaan, dan kelaliman. Mengatasi gap yang besar antara cita-cita ideal masyarakat dengan realitas. Cita-cita seperti masyarakat adil makmur dan sejahtera ataupun negeri yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur tampak jauh panggang dari api. Kesadaran ini menimbulkan harapan perubahan dan membangkitkan sentimen revolusioner melalui ideologi keagamaan (Sartono Kartodirdjo, 1959).
Krisis Kepemimpinan
Di tengah krisis sosial, masyarakat juga membutuhkan panduan seorang pemimpin. Secara psikologis, manusia memiliki sifat dasar, yakni rasa takut dan harapan. Saat manusia menghadapi permasalahan yang berat, dia cenderung membayangkan adanya kekuatan di luar dirinya. Sosok tersebut diharapkan mampu menolongnya menghadapi beratnya permasalahan hidup.
Hadirnya Pangeran Diponegoro, HOS Tjokroaminoto maupun Ir Soekarno juga dipicu situasi krisis sosial karena kolonialisme. Kita sering mendengar kisah bagaimana masyarakat terdiam, berhenti melakukan segala aktivitas bila mendengar Bung Karno berbicara. Pemimpin dicari dan diikuti di kala terjadi krisis.
Lihat Juga :