Pesan Menohok Dudung ke Habib Rizieq: Ulama Itu Meneduhkan, Mulutnya Tak Menjelekkan
Selasa, 05 Mei 2026 - 13:51 WIB
loading...
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman dan Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Rizieq Shihab. Foto: SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman buka suara terkait sindiran Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Rizieq Shihab bahwa ada ‘Jenderal baliho’ sebagai pembisik di balik pidato Presiden Prabowo Subianto. Dudung pun membantah tudingan Rizieq.
“Oh, yang Presiden katanya kabur ke Yaman itu karena di belakangnya ada Jenderal Baliho itu kan? Ya, kalau menurut saya, antara saya dengan Habib Rizieq sudah enggak ada masalah sebetulnya,” ujar Dudung kepada awak media di Kantor Staf Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dudung kemudian mengingatkan kepada Rizieq bahwa ulama itu memberi pesan yang meneduhkan, tidak membuat pernyataan gaduh. Terkait pernyataan Presiden kabur saja ke Yaman itu adalah bisikan darinya, Dudung membantah.
Baca juga: Dudung Bertemu Pimpinan KPK, Bahas Indikasi Korupsi Jual Beli Titik Dapur MBG
“Marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi. Saya lihat bahasa-bahasanya tidak pernah berubah, bahasa-bahasa lama dengan sekarang itu ya. Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya,” katanya.
“Oh, yang Presiden katanya kabur ke Yaman itu karena di belakangnya ada Jenderal Baliho itu kan? Ya, kalau menurut saya, antara saya dengan Habib Rizieq sudah enggak ada masalah sebetulnya,” ujar Dudung kepada awak media di Kantor Staf Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Dudung kemudian mengingatkan kepada Rizieq bahwa ulama itu memberi pesan yang meneduhkan, tidak membuat pernyataan gaduh. Terkait pernyataan Presiden kabur saja ke Yaman itu adalah bisikan darinya, Dudung membantah.
Baca juga: Dudung Bertemu Pimpinan KPK, Bahas Indikasi Korupsi Jual Beli Titik Dapur MBG
“Marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi. Saya lihat bahasa-bahasanya tidak pernah berubah, bahasa-bahasa lama dengan sekarang itu ya. Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya,” katanya.
Lihat Juga :