HRS, Ratu Adil, dan Krisis Sosial

Jum'at, 20 November 2020 - 05:22 WIB
Dody Wijaya
Dody Wijaya

Pegiat Demokrasi



KEMERIAHAN penyambutan Habib Rizieq Shihab (HRS) sekembalinya dari luar negeri oleh pengikutnya merupakan tanda telah terjadi krisis sosial dan kepemimpinan di negeri ini. Sejatinya fenomena kehadiran HRS ini tak ubahnya seperti kemunculan Kerajaan Sunda Empire yang menghebohkan beberapa waktu lalu. Fenomena ini mengingatkan kita pada gerakan mesianisme. Gerakan seperti ini senantiasa lahir di tengah krisis sosial dan hilangnya figur pemimpin yang dipercaya.

Figur HRS bukan kali ini saja menarik perhatian publik. Ia menjadi tokoh sentral yang mampu menggerakkan ribuan orang dalam gerakan Aksi Bela Islam 212. Dalam menyikapi fenomena ini rezim saat ini tampak menggunakan pendekatan hukum yang kaku dan cenderung represif. Alih-alih memadamkan api, sikap ini justru menimbulkan simpati dan militansi bagi orang-orang yang mendukung HRS.

Krisis Sosial

Dalam alam pikiran masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, terdapat mitos ratu adil. Dalam mitologi ini disebutkan bahwa penderitaan yang dialami rakyat akan sirna dengan hadirnya ratu adil. Penderitaan yang mengakibatkan krisis sosial pada saat itu berupa peningkatan beban upeti (pajak), hasil bumi yang merosot tajam (kemiskinan), hukum yang tidak berjalan semestinya, aturan Tuhan yang tidak dijalankan, dan pemerintahan tidak berjalan dengan baik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!