Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas
Selasa, 07 Juli 2026 - 15:13 WIB
Untuk mendapatkan beras, konsumen berpendapatan tinggi lebih dominan membeli di minimarket (38%) dan supermarket (33%). Beras yang dibeli dalam kemasan (86%) dan dalam volume 5 kg (63%). Konsumen berpendapatan tinggi akan mengurangi jumlah beras yang dibeli kalau harga naik mencapai 22% atau mengganti dengan jenis lain kalau harga naik 16%. Sebaliknya, konsumen berpendapatan rendah akan mengurangi jumlah pembelian beras jika harga naik 17% dan mengganti jenis/merek lain jika naik 10%.
Pada intinya, konsumen menilai penting kualitas dan karakteristik beras. Mereka bersedia membayar pada harga lebih tinggi untuk kualitas tertentu. Ini menunjukkan permintaan beras inelastis, semakin inelastis pada kelompok berpendapatan tinggi. Diperkirakan pertumbuhan permintaan beras kualitas bagus atau beras premium sekitar 11% per tahun. Pangsa pasar beras premium diperkirakan 38%. Sementara permintaan beras berkualitas rendah (beras medium) diperkirakan terus menurun dengan pertumbuhan 9% per tahun, tapi pangsanya masih besar: sekitar 60%.
Realitas multikualitas beras yang beredar dan ada di pasar itu berkebalikan dengan CBP. Sampai saat ini CBP hanya diisi beras kualitas rendah: beras medium. Ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. Jadi, kebijakan CBP kualitas tunggal, yakni medium, sudah berusia lebih setengah abad. Ketika dunia berubah, terutama preferensi konsumen, kebijakan tidak mengikuti. Memang BULOG juga mengelola beras premium. Ini beras komersial atau lini komersial BULOG. Tapi volume berasnya tidak besar.
Ketika beras SPHP yang berkualitas rendah itu digunakan untuk intervensi pasar yang kualitas berasnya beragam, efektivitasnya akan rendah. Dengan satu jenis beras, yakni jenis medium, mustahil operasi pasar bisa meredam harga seluruh jenis beras. Apalagi kalau volume beras operasi pasar kecil, ada pembatasan pembelian, dan ada isu kualitas. Efektivitas operasi pasar akan menjadi taruhan. Diakui atau tidak, faktor-faktor inilah yang memengaruhi mengapa operasi beras SPHP saat ini memble.
Dalam konteks ini, usulan Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani agar pemerintah menyetujui rencana produksi BerasKita Premium oleh BULOG bisa dipahami. BerasKita, MinyaKita, TeriguKita dan yang lain dengan embel-embel "Kita" adalah merek milik BULOG. Seperti beras SPHP yang menjadi alat intervensi, kata Rizal, BerasKita Premium akan menjadi instrumen untuk stabilisasi harga beras premium.
Rizal menerangkan, harga BerasKita Premium diusulkan dipatok Rp14.900 per kilogram (kg). Level harga ini adalah harga eceran tertinggi (HET) beras premium di zona I yang berlaku di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Rizal berharap, usulan tersebut segera dibahas dan disetuju oleh pemerintah.
"As soon as possible, biar masyarakat tenang, jangan sampai ribut," kata dia.
Pada intinya, konsumen menilai penting kualitas dan karakteristik beras. Mereka bersedia membayar pada harga lebih tinggi untuk kualitas tertentu. Ini menunjukkan permintaan beras inelastis, semakin inelastis pada kelompok berpendapatan tinggi. Diperkirakan pertumbuhan permintaan beras kualitas bagus atau beras premium sekitar 11% per tahun. Pangsa pasar beras premium diperkirakan 38%. Sementara permintaan beras berkualitas rendah (beras medium) diperkirakan terus menurun dengan pertumbuhan 9% per tahun, tapi pangsanya masih besar: sekitar 60%.
Realitas multikualitas beras yang beredar dan ada di pasar itu berkebalikan dengan CBP. Sampai saat ini CBP hanya diisi beras kualitas rendah: beras medium. Ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. Jadi, kebijakan CBP kualitas tunggal, yakni medium, sudah berusia lebih setengah abad. Ketika dunia berubah, terutama preferensi konsumen, kebijakan tidak mengikuti. Memang BULOG juga mengelola beras premium. Ini beras komersial atau lini komersial BULOG. Tapi volume berasnya tidak besar.
Ketika beras SPHP yang berkualitas rendah itu digunakan untuk intervensi pasar yang kualitas berasnya beragam, efektivitasnya akan rendah. Dengan satu jenis beras, yakni jenis medium, mustahil operasi pasar bisa meredam harga seluruh jenis beras. Apalagi kalau volume beras operasi pasar kecil, ada pembatasan pembelian, dan ada isu kualitas. Efektivitas operasi pasar akan menjadi taruhan. Diakui atau tidak, faktor-faktor inilah yang memengaruhi mengapa operasi beras SPHP saat ini memble.
Dalam konteks ini, usulan Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani agar pemerintah menyetujui rencana produksi BerasKita Premium oleh BULOG bisa dipahami. BerasKita, MinyaKita, TeriguKita dan yang lain dengan embel-embel "Kita" adalah merek milik BULOG. Seperti beras SPHP yang menjadi alat intervensi, kata Rizal, BerasKita Premium akan menjadi instrumen untuk stabilisasi harga beras premium.
Rizal menerangkan, harga BerasKita Premium diusulkan dipatok Rp14.900 per kilogram (kg). Level harga ini adalah harga eceran tertinggi (HET) beras premium di zona I yang berlaku di Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Rizal berharap, usulan tersebut segera dibahas dan disetuju oleh pemerintah.
"As soon as possible, biar masyarakat tenang, jangan sampai ribut," kata dia.
Lihat Juga :