Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?

Rabu, 17 Juni 2026 - 10:59 WIB

Donor Darah sebagai Identitas Moral



Lalu apa yang membuat seseorang tetap setia berdonor selama bertahun-tahun?

Penelitian Fernanda G.M.D. Estrada dan rekan-rekannya (2020) menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh bukanlah hadiah ataupun penghargaan. Faktor utama justru terletak pada altruisme, yaitu dorongan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan langsung.

Temuan serupa ditemukan oleh Thelma T. Gonçalez dan koleganya dalam penelitian di Brasil tahun 2013. Mayoritas pendonor menyatakan bahwa alasan utama mereka berdonor adalah keinginan tulus untuk menolong sesama manusia.

Eamonn Ferguson dalam kajiannya mengenai warm glow altruism (2012) menjelaskan bahwa tindakan memberi kepada orang lain sering menghasilkan kepuasan batin yang mendalam. Seseorang merasa bahagia karena mengetahui bahwa tindakannya memiliki manfaat bagi kehidupan orang lain.

Pada titik inilah donor darah melampaui fungsi medisnya. Ia berubah menjadi bagian dari identitas moral seseorang. Donor darah bukan sekadar aktivitas kesehatan, melainkan cara sederhana untuk menegaskan bahwa kehidupan orang lain memiliki nilai yang sama pentingnya dengan kehidupan kita sendiri.

Merawat Solidaritas yang Terus Mengalir



Lebih dari setengah abad lalu, Richard Titmuss dalam buku The Gift Relationship (1970) menyebut donor darah sebagai hadiah kehidupan. Bukan karena darah memiliki nilai ekonomi yang tinggi, melainkan karena ia diberikan secara sukarela kepada orang yang bahkan tidak dikenal.

Di situlah fondasi kepercayaan sosial dibangun. Dalam masyarakat yang semakin dipenuhi polarisasi kelas, identitas, dan pilihan politik, donor darah mengingatkan bahwa masih ada ruang tempat manusia membantu manusia lain tanpa syarat. Kita mungkin tidak pernah bertemu dengan penerima darah yang kita donor. Kita tidak mengetahui nama, agama, suku, ataupun pandangan politiknya. Namun justru karena itulah donor darah menjadi salah satu bentuk solidaritas paling murni yang masih kita miliki.

Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pendonor baru. Indonesia membutuhkan warga yang bersedia memelihara kebiasaan berbagi ini secara berkelanjutan. Sebab ketahanan darah nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh satu kampanye besar setiap tahun, melainkan oleh ribuan orang biasa yang terus kembali, berulang kali, untuk membantu sesama.

Ketika darah tidak dapat diproduksi oleh mesin dan tidak dapat digantikan oleh teknologi, sesungguhnya yang menjaga kehidupan bangsa ini bukan hanya rumah sakit atau bank darah. Yang menjaganya adalah warga biasa yang memilih untuk terus kembali. Sebab darah yang mengalir di kantong-kantong donor pada akhirnya adalah bentuk paling nyata dari solidaritas yang masih hidup di tengah masyarakat.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!