Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Rabu, 17 Juni 2026 - 10:59 WIB
loading...
Ramdansyah, Praktisi Hukum dan Sekretaris PMI Kota Jakarta Utara. Foto: Istimewa
A
A
A
Ramdansyah
Praktisi Hukum dan Sekretaris PMI Kota Jakarta Utara
INDONESIA sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Setiap tahun jutaan warga bersedia menyumbangkan darahnya untuk membantu sesama. Persoalannya bukan pada kesediaan orang untuk berdonor, melainkan pada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa banyak pendonor datang sekali, lalu tidak pernah kembali?
Pertanyaan itu layak diajukan pada Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati setiap 14 Juni. Sebab darah tidak dapat diproduksi di pabrik, tidak dapat digantikan oleh teknologi, dan hingga hari ini hanya bisa diperoleh dari manusia yang bersedia berbagi dengan manusia lainnya. Karena itu, ketahanan pasokan darah nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya pendonor baru, melainkan oleh seberapa banyak pendonor yang terus kembali secara sukarela.
Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah ideal suatu negara mencapai sekitar dua persen dari jumlah penduduk. Dengan populasi Indonesia yang telah melampaui 280 juta jiwa, kebutuhan darah nasional diperkirakan mencapai sedikitnya 5,6 juta kantong per tahun. Di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan ketersediaan darah nasional masih berada pada kisaran 4 hingga 4,2 juta kantong. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan darah inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Kondisi tersebut semakin terasa pada waktu-waktu tertentu. Data Unit Donor Darah PMI Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah donor tertinggi tercatat pada Februari dengan 34.434 pendonor. Ketika Ramadan tiba, jumlah itu turun menjadi 20.712 pendonor, terendah sepanjang tahun. Penurunan serupa juga terjadi pada masa libur Natal dan Tahun Baru.
Meski demikian, DKI Jakarta rata-rata masih mampu menghimpun sekitar 1.031 kantong darah setiap hari, mendekati kebutuhan ideal sekitar 1.200 kantong per hari. Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan utama donor darah bukan semata-mata mengumpulkan darah, melainkan menjaga keberlanjutan partisipasi para pendonor.
Persoalan donor darah sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Ia juga berkaitan dengan kemampuan sebuah masyarakat mempertahankan solidaritas sosial di tengah perubahan zaman.
Jakarta memberikan gambaran yang menarik. Sebagai kota metropolitan, Jakarta dihuni oleh kelompok masyarakat dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan gaya hidup yang sangat beragam. Sebagian hidup dalam ritme kerja yang serba cepat di sektor jasa modern dan industri kreatif. Sebagian lainnya bekerja berjam-jam di sektor informal, mulai dari pengemudi ojek daring, pekerja logistik, hingga pedagang kecil.
Perbedaan itu sering dibaca sebagai gejala polarisasi sosial perkotaan. Namun donor darah menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di ruang donor, status sosial kehilangan maknanya. Seorang direktur perusahaan dapat duduk berdampingan dengan pengemudi ojek daring. Mahasiswa mengantre bersama pedagang kecil. Tidak ada sekat kelas, identitas, ataupun pilihan politik. Yang tersisa hanyalah kesediaan untuk membantu orang lain.
Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh berbagai perbedaan, donor darah menjadi salah satu sedikit ruang kemanusiaan yang masih mempertemukan orang-orang dalam tindakan solidaritas yang nyata. Namun persoalannya, solidaritas tidak selalu bertahan lama. Banyak orang bersedia berdonor sekali, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Di sinilah persoalan retensi pendonor menjadi sangat penting.
Banyak orang menganggap kampanye Hari Donor Darah Sedunia hanya menghasilkan perhatian sesaat. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Floris J. Kranenburg dan rekan-rekannya dalam penelitian The Effect of World Blood Donor Day on Digital Information Seeking and Donor Recruitment (2017) menemukan bahwa kampanye Hari Donor Darah Sedunia mampu meningkatkan pencarian informasi, kunjungan ke situs donor darah, serta pendaftaran donor baru secara signifikan. Ketika Belanda menjadi tuan rumah kampanye global tahun 2016, jumlah donor baru meningkat sekitar 54,6 persen dibandingkan periode normal.
Temuan tersebut membuktikan bahwa kampanye publik masih efektif untuk menarik pendonor baru. Akan tetapi, keberhasilan merekrut pendonor baru belum tentu menjamin keberlanjutan stok darah. Tantangan sesungguhnya muncul setelah seseorang melakukan donor pertamanya.
Jawaban atas persoalan tersebut ditemukan oleh Eva-Maria Merz, Eamonn Ferguson, dan Anne van Dongen dalam penelitian Psychosocial Characteristics of Blood Donors Influence Their Voluntary Nonmedical Lapse (2018). Selama hampir delapan tahun mereka mengikuti lebih dari 2.300 donor baru di Belanda. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar sepertiga pendonor berhenti mendonorkan darah bukan karena alasan kesehatan, melainkan karena faktor psikologis dan sosial.
Ada yang tidak lagi merespons ajakan donor. Ada pula yang merasa donor darah bukan bagian penting dari kehidupannya. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan pasokan darah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mempertahankan donor lama dibandingkan sekadar merekrut donor baru.
Dari perspektif keberlanjutan, satu orang yang mendonorkan darah secara rutin selama bertahun-tahun sering kali lebih bernilai daripada puluhan orang yang hanya datang sekali.
Salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang tidak kembali berdonor adalah rasa takut. Ketakutan terhadap jarum suntik, kekhawatiran merasa lemas setelah donor, atau pengalaman yang kurang menyenangkan saat proses donor dapat meninggalkan kesan yang kuat. Hal-hal yang tampak sederhana tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap keputusan seseorang untuk kembali atau tidak.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam donor darah. Nancy Consedine dalam kajiannya Fear, Anxiety, Worry, and Breast Cancer Screening Behavior (2004) menunjukkan bahwa rasa takut sering menjadi penghambat utama perilaku kesehatan jangka panjang. Ketika kecemasan tidak dikelola dengan baik, pengetahuan mengenai manfaat suatu tindakan sering kali tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukannya secara berulang.
Karena itu, membangun loyalitas pendonor tidak cukup dilakukan melalui kampanye besar atau pesan pengingat berkala. Sering kali alasan seseorang kembali bukan karena teknologi pelayanan yang canggih, melainkan karena ia merasa dihargai, dilayani dengan baik, dan diperlakukan sebagai sesama manusia.
Lalu apa yang membuat seseorang tetap setia berdonor selama bertahun-tahun?
Penelitian Fernanda G.M.D. Estrada dan rekan-rekannya (2020) menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh bukanlah hadiah ataupun penghargaan. Faktor utama justru terletak pada altruisme, yaitu dorongan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan langsung.
Temuan serupa ditemukan oleh Thelma T. Gonçalez dan koleganya dalam penelitian di Brasil tahun 2013. Mayoritas pendonor menyatakan bahwa alasan utama mereka berdonor adalah keinginan tulus untuk menolong sesama manusia.
Eamonn Ferguson dalam kajiannya mengenai warm glow altruism (2012) menjelaskan bahwa tindakan memberi kepada orang lain sering menghasilkan kepuasan batin yang mendalam. Seseorang merasa bahagia karena mengetahui bahwa tindakannya memiliki manfaat bagi kehidupan orang lain.
Pada titik inilah donor darah melampaui fungsi medisnya. Ia berubah menjadi bagian dari identitas moral seseorang. Donor darah bukan sekadar aktivitas kesehatan, melainkan cara sederhana untuk menegaskan bahwa kehidupan orang lain memiliki nilai yang sama pentingnya dengan kehidupan kita sendiri.
Lebih dari setengah abad lalu, Richard Titmuss dalam buku The Gift Relationship (1970) menyebut donor darah sebagai hadiah kehidupan. Bukan karena darah memiliki nilai ekonomi yang tinggi, melainkan karena ia diberikan secara sukarela kepada orang yang bahkan tidak dikenal.
Di situlah fondasi kepercayaan sosial dibangun. Dalam masyarakat yang semakin dipenuhi polarisasi kelas, identitas, dan pilihan politik, donor darah mengingatkan bahwa masih ada ruang tempat manusia membantu manusia lain tanpa syarat. Kita mungkin tidak pernah bertemu dengan penerima darah yang kita donor. Kita tidak mengetahui nama, agama, suku, ataupun pandangan politiknya. Namun justru karena itulah donor darah menjadi salah satu bentuk solidaritas paling murni yang masih kita miliki.
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pendonor baru. Indonesia membutuhkan warga yang bersedia memelihara kebiasaan berbagi ini secara berkelanjutan. Sebab ketahanan darah nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh satu kampanye besar setiap tahun, melainkan oleh ribuan orang biasa yang terus kembali, berulang kali, untuk membantu sesama.
Ketika darah tidak dapat diproduksi oleh mesin dan tidak dapat digantikan oleh teknologi, sesungguhnya yang menjaga kehidupan bangsa ini bukan hanya rumah sakit atau bank darah. Yang menjaganya adalah warga biasa yang memilih untuk terus kembali. Sebab darah yang mengalir di kantong-kantong donor pada akhirnya adalah bentuk paling nyata dari solidaritas yang masih hidup di tengah masyarakat.
Praktisi Hukum dan Sekretaris PMI Kota Jakarta Utara
INDONESIA sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Setiap tahun jutaan warga bersedia menyumbangkan darahnya untuk membantu sesama. Persoalannya bukan pada kesediaan orang untuk berdonor, melainkan pada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa banyak pendonor datang sekali, lalu tidak pernah kembali?
Pertanyaan itu layak diajukan pada Hari Donor Darah Sedunia yang diperingati setiap 14 Juni. Sebab darah tidak dapat diproduksi di pabrik, tidak dapat digantikan oleh teknologi, dan hingga hari ini hanya bisa diperoleh dari manusia yang bersedia berbagi dengan manusia lainnya. Karena itu, ketahanan pasokan darah nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya pendonor baru, melainkan oleh seberapa banyak pendonor yang terus kembali secara sukarela.
Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah ideal suatu negara mencapai sekitar dua persen dari jumlah penduduk. Dengan populasi Indonesia yang telah melampaui 280 juta jiwa, kebutuhan darah nasional diperkirakan mencapai sedikitnya 5,6 juta kantong per tahun. Di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan ketersediaan darah nasional masih berada pada kisaran 4 hingga 4,2 juta kantong. Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan darah inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Kondisi tersebut semakin terasa pada waktu-waktu tertentu. Data Unit Donor Darah PMI Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 menunjukkan bahwa jumlah donor tertinggi tercatat pada Februari dengan 34.434 pendonor. Ketika Ramadan tiba, jumlah itu turun menjadi 20.712 pendonor, terendah sepanjang tahun. Penurunan serupa juga terjadi pada masa libur Natal dan Tahun Baru.
Meski demikian, DKI Jakarta rata-rata masih mampu menghimpun sekitar 1.031 kantong darah setiap hari, mendekati kebutuhan ideal sekitar 1.200 kantong per hari. Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan utama donor darah bukan semata-mata mengumpulkan darah, melainkan menjaga keberlanjutan partisipasi para pendonor.
Solidaritas di Tengah Kota Metropolitan
Persoalan donor darah sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Ia juga berkaitan dengan kemampuan sebuah masyarakat mempertahankan solidaritas sosial di tengah perubahan zaman.
Jakarta memberikan gambaran yang menarik. Sebagai kota metropolitan, Jakarta dihuni oleh kelompok masyarakat dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan gaya hidup yang sangat beragam. Sebagian hidup dalam ritme kerja yang serba cepat di sektor jasa modern dan industri kreatif. Sebagian lainnya bekerja berjam-jam di sektor informal, mulai dari pengemudi ojek daring, pekerja logistik, hingga pedagang kecil.
Perbedaan itu sering dibaca sebagai gejala polarisasi sosial perkotaan. Namun donor darah menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di ruang donor, status sosial kehilangan maknanya. Seorang direktur perusahaan dapat duduk berdampingan dengan pengemudi ojek daring. Mahasiswa mengantre bersama pedagang kecil. Tidak ada sekat kelas, identitas, ataupun pilihan politik. Yang tersisa hanyalah kesediaan untuk membantu orang lain.
Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi oleh berbagai perbedaan, donor darah menjadi salah satu sedikit ruang kemanusiaan yang masih mempertemukan orang-orang dalam tindakan solidaritas yang nyata. Namun persoalannya, solidaritas tidak selalu bertahan lama. Banyak orang bersedia berdonor sekali, tetapi tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Di sinilah persoalan retensi pendonor menjadi sangat penting.
Mengapa Donor Baru Sering Menghilang?
Banyak orang menganggap kampanye Hari Donor Darah Sedunia hanya menghasilkan perhatian sesaat. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Floris J. Kranenburg dan rekan-rekannya dalam penelitian The Effect of World Blood Donor Day on Digital Information Seeking and Donor Recruitment (2017) menemukan bahwa kampanye Hari Donor Darah Sedunia mampu meningkatkan pencarian informasi, kunjungan ke situs donor darah, serta pendaftaran donor baru secara signifikan. Ketika Belanda menjadi tuan rumah kampanye global tahun 2016, jumlah donor baru meningkat sekitar 54,6 persen dibandingkan periode normal.
Temuan tersebut membuktikan bahwa kampanye publik masih efektif untuk menarik pendonor baru. Akan tetapi, keberhasilan merekrut pendonor baru belum tentu menjamin keberlanjutan stok darah. Tantangan sesungguhnya muncul setelah seseorang melakukan donor pertamanya.
Jawaban atas persoalan tersebut ditemukan oleh Eva-Maria Merz, Eamonn Ferguson, dan Anne van Dongen dalam penelitian Psychosocial Characteristics of Blood Donors Influence Their Voluntary Nonmedical Lapse (2018). Selama hampir delapan tahun mereka mengikuti lebih dari 2.300 donor baru di Belanda. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar sepertiga pendonor berhenti mendonorkan darah bukan karena alasan kesehatan, melainkan karena faktor psikologis dan sosial.
Ada yang tidak lagi merespons ajakan donor. Ada pula yang merasa donor darah bukan bagian penting dari kehidupannya. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan pasokan darah lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mempertahankan donor lama dibandingkan sekadar merekrut donor baru.
Dari perspektif keberlanjutan, satu orang yang mendonorkan darah secara rutin selama bertahun-tahun sering kali lebih bernilai daripada puluhan orang yang hanya datang sekali.
Ketika Rasa Takut Mengalahkan Niat Baik
Salah satu penyebab paling umum mengapa seseorang tidak kembali berdonor adalah rasa takut. Ketakutan terhadap jarum suntik, kekhawatiran merasa lemas setelah donor, atau pengalaman yang kurang menyenangkan saat proses donor dapat meninggalkan kesan yang kuat. Hal-hal yang tampak sederhana tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap keputusan seseorang untuk kembali atau tidak.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam donor darah. Nancy Consedine dalam kajiannya Fear, Anxiety, Worry, and Breast Cancer Screening Behavior (2004) menunjukkan bahwa rasa takut sering menjadi penghambat utama perilaku kesehatan jangka panjang. Ketika kecemasan tidak dikelola dengan baik, pengetahuan mengenai manfaat suatu tindakan sering kali tidak cukup untuk mendorong seseorang melakukannya secara berulang.
Karena itu, membangun loyalitas pendonor tidak cukup dilakukan melalui kampanye besar atau pesan pengingat berkala. Sering kali alasan seseorang kembali bukan karena teknologi pelayanan yang canggih, melainkan karena ia merasa dihargai, dilayani dengan baik, dan diperlakukan sebagai sesama manusia.
Donor Darah sebagai Identitas Moral
Lalu apa yang membuat seseorang tetap setia berdonor selama bertahun-tahun?
Penelitian Fernanda G.M.D. Estrada dan rekan-rekannya (2020) menunjukkan bahwa faktor yang paling berpengaruh bukanlah hadiah ataupun penghargaan. Faktor utama justru terletak pada altruisme, yaitu dorongan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan langsung.
Temuan serupa ditemukan oleh Thelma T. Gonçalez dan koleganya dalam penelitian di Brasil tahun 2013. Mayoritas pendonor menyatakan bahwa alasan utama mereka berdonor adalah keinginan tulus untuk menolong sesama manusia.
Eamonn Ferguson dalam kajiannya mengenai warm glow altruism (2012) menjelaskan bahwa tindakan memberi kepada orang lain sering menghasilkan kepuasan batin yang mendalam. Seseorang merasa bahagia karena mengetahui bahwa tindakannya memiliki manfaat bagi kehidupan orang lain.
Pada titik inilah donor darah melampaui fungsi medisnya. Ia berubah menjadi bagian dari identitas moral seseorang. Donor darah bukan sekadar aktivitas kesehatan, melainkan cara sederhana untuk menegaskan bahwa kehidupan orang lain memiliki nilai yang sama pentingnya dengan kehidupan kita sendiri.
Merawat Solidaritas yang Terus Mengalir
Lebih dari setengah abad lalu, Richard Titmuss dalam buku The Gift Relationship (1970) menyebut donor darah sebagai hadiah kehidupan. Bukan karena darah memiliki nilai ekonomi yang tinggi, melainkan karena ia diberikan secara sukarela kepada orang yang bahkan tidak dikenal.
Di situlah fondasi kepercayaan sosial dibangun. Dalam masyarakat yang semakin dipenuhi polarisasi kelas, identitas, dan pilihan politik, donor darah mengingatkan bahwa masih ada ruang tempat manusia membantu manusia lain tanpa syarat. Kita mungkin tidak pernah bertemu dengan penerima darah yang kita donor. Kita tidak mengetahui nama, agama, suku, ataupun pandangan politiknya. Namun justru karena itulah donor darah menjadi salah satu bentuk solidaritas paling murni yang masih kita miliki.
Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pendonor baru. Indonesia membutuhkan warga yang bersedia memelihara kebiasaan berbagi ini secara berkelanjutan. Sebab ketahanan darah nasional pada akhirnya tidak ditentukan oleh satu kampanye besar setiap tahun, melainkan oleh ribuan orang biasa yang terus kembali, berulang kali, untuk membantu sesama.
Ketika darah tidak dapat diproduksi oleh mesin dan tidak dapat digantikan oleh teknologi, sesungguhnya yang menjaga kehidupan bangsa ini bukan hanya rumah sakit atau bank darah. Yang menjaganya adalah warga biasa yang memilih untuk terus kembali. Sebab darah yang mengalir di kantong-kantong donor pada akhirnya adalah bentuk paling nyata dari solidaritas yang masih hidup di tengah masyarakat.
(rca)
Lihat Juga :