Rupiah dan Ujian Kepercayaan

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:56 WIB
Kenaikan BI Rate adalah langkah yang dapat dipahami. Dalam situasi dolar menguat, harga minyak bergejolak, dan modal portofolio mudah berpindah, bank sentral harus menunjukkan bahwa rupiah tidak dibiarkan berjalan sendiri. BI juga menaikkan imbal hasil SRBI hingga 6,45 persen untuk tenor 12 bulan, dan aliran modal asing pada triwulan II kembali masuk sekitar 5,5 miliar dolar AS hingga 18 Mei 2026. Ini membantu meredakan tekanan jangka pendek. Tetapi di sinilah letak jebakannya: dana portofolio bukan fondasi rumah, melainkan tamu yang datang karena kursi nyaman. Begitu kursinya kurang menarik, ia dapat pergi lebih cepat daripada saat datang.

Karena itu, solusi rupiah tidak boleh disempitkan menjadi “BI harus menaikkan bunga lagi”. Suku bunga adalah obat stabilisasi, bukan vitamin pertumbuhan. Terlalu rendah dapat melemahkan rupiah; terlalu tinggi dapat menekan konsumsi, investasi, harga obligasi, dan pasar saham. Reaksi IHSG yang melemah setelah kenaikan BI Rate menunjukkan dilema itu. Dunia usaha membutuhkan stabilitas kurs, tetapi juga membutuhkan biaya modal yang tidak mencekik. Pemerintah dan BI harus mengelola trade-off ini dengan kepala dingin, bukan dengan slogan.

Pemerintah memegang separuh kunci. Rupiah tidak akan kuat secara berkelanjutan bila pasar meragukan disiplin fiskal, kualitas belanja, dan arah kebijakan ekonomi. Setiap rencana belanja besar harus dijelaskan sumber dan dampaknya; setiap kebijakan ekspor-impor harus dipastikan tidak menambah ketidakpastian; setiap pernyataan pejabat tentang bank sentral harus menjaga kesan independensi BI. Dalam ekonomi terbuka, kata-kata pejabat kadang-kadang sama mahalnya dengan cadangan devisa.

Kebijakan devisa hasil ekspor juga perlu ditempatkan secara cerdas. Menahan devisa terlalu keras dapat dianggap sebagai kontrol yang membuat investor curiga. Namun, membiarkan devisa sumber daya alam terlalu cepat kembali ke luar negeri juga membuat rupiah rapuh. Jalan tengahnya ialah insentif yang kredibel: instrumen valas domestik yang likuid, imbal hasil masuk akal, kepastian pajak, kemudahan hedging, serta transparansi aturan. Pelaku usaha tidak boleh diperlakukan seolah semua spekulan; tetapi mereka juga perlu diingatkan bahwa menikmati keuntungan dari tanah Indonesia membawa tanggung jawab menjaga ekosistem valas Indonesia.

BI sendiri perlu melanjutkan strategi yang lebih halus daripada sekadar mempertahankan angka tertentu. Intervensi spot, DNDF, NDF offshore, SRBI, dan transaksi berbasis mata uang lokal penting, tetapi yang lebih penting adalah konsistensi pesan. Pasar tidak menuntut bank sentral superkuasa. Pasar menuntut agar bank sentral dapat dipercaya. BI harus berani mengatakan bahwa rupiah boleh bergerak mengikuti fundamental, tetapi volatilitas berlebihan akan dilawan. Ini berbeda dengan janji mempertahankan level kurs tertentu, yang justru mengundang spekulasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!