Dari Kitab Kuning ke Data Mining: Transformasi Literasi dalam Organisme Pesantren

Senin, 09 Maret 2026 - 17:21 WIB
Kabarnya, pelatihan ini hasil kolaborasi XL SMART, Daarut Tauhid Peduli Malang. Ratusan santri dari berbagai jenjang ikut ambil bagian. Mereka belajar menyusun prompt AI, membuat konten dakwah visual, dan tentu saja, etika di dunia maya.

Saya membayangkan, kelak santri-santri ini tidak hanya paham isi kitab, tapi juga mampu memproduksi konten dakwah yang menarik. Mereka tidak hanya jadi objek informasi, tapi juga produsen informasi yang bermanfaat.

Elipski: Perpustakaan Digital untuk Santri



Kabar baik juga datang dari Kementerian Agama. Mereka meluncurkan platform bernama Elipski, singkatan dari elektronik literasi pustaka keagamaan Islam. Isinya lebih dari 4.000 judul buku keagamaan, baik berbahasa Indonesia maupun Arab. Ada juga 352 naskah khotbah, fitur perhitungan waris, dan teknologi OCR.

Yang lebih menggembirakan, platform ini sudah dikunjungi hampir 2 juta kali. Artinya, santri dan masyarakat haus akan literasi digital yang kredibel. Mereka butuh sumber bacaan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar konten viral di media sosial.

Seperti kata pakar literasi digital, Renee Hobbs, literasi digital bukan cuma belajar tentang informasi di dunia digital. Tapi juga belajar berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan kolaboratif.

Pesantren Kauman: Menuju Kelas Dunia



Dari Sumatera Barat, kita dapat cerita lain. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menggelar forum diskusi internasionalisasi pada Oktober tahun lalu. Mereka mengundang para pakar dari berbagai perguruan tinggi untuk merumuskan strategi menjadikan pesantren bertaraf global.

Dalam diskusi itu, lahirlah lima pilar utama: kurikulum akademik, sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, diplomasi dan jejaring sosial, serta digitalisasi.

Yang menarik, para peserta diskusi juga mengingatkan warisan Buya Hamka. Menurut mereka, Buya Hamka telah meletakkan fondasi: pesantren harus terbuka pada ilmu dan teknologi modern, tanpa kehilangan identitas Islam.

Kabarnya, pesantren ini juga sudah menjalin kerja sama dengan SMK Ghafar Baba Malaysia. Langkah kecil, tapi sangat berarti untuk ekosistem pesantren.

Kemitraan Strategis: Memperkuat Ekosistem



Pesantren memang tidak bisa berjalan sendiri. Butuh kerja sama dengan berbagai pihak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!