Gegar di Lantai Bursa: Ketika Para Penjaga Gerbang Memilih Hengkang
Selasa, 17 Februari 2026 - 19:13 WIB
Secara kasatmata, alasan yang dikemukakan oleh Mahendra Siregar adalah "tanggung jawab moral" untuk mendukung pemulihan di tengah gejolak pasar. Namun, dalam teori komunikasi krisis, tindakan ini adalah sebuah isyarat kuat yang disebut Coombs sebagai bagian dari manajemen reputasi.
Timothy Coombs, dalam Handbook of Crisis Communication dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT)-nya, menyatakan bahwa setiap organisasi yang dilanda krisis harus membaca situasi dengan cermat. Coombs mengkategorikan krisis berdasarkan seberapa besar tanggung jawab yang diatribusikan publik kepada organisasi tersebut. Apakah krisis ini disebabkan oleh victim (korban), accidental (kecelakaan), atau preventable (dapat dicegah)?
Nah, dalam kasus dugaan "penggorengan saham" atau praktik pump and dump, kategorinya jelas mengerucut ke arah yang paling berbahaya: krisis yang dapat dicegah. Praktik pump and dump adalah skema manipulasi pasar di mana oknum menaikkan harga saham secara artifisial melalui informasi palsu atau menyesatkan, lalu menjual saham mereka setelah harga melambung, meninggalkan kerugian bagi investor ritel.
Ketika skandal seperti ini merebak, publik dan investor akan mencari siapa yang paling bertanggung jawab. Apakah para manipulator? Tentu. Namun, dalam logika SCCT, sorotan juga akan tertuju pada otoritas pengawas. OJK dan BEI-lah yang seharusnya menjadi benteng terakhir. Kegagalan pengawasan yang berujung pada maraknya praktik manipulasi akan membuat publik menempatkan tanggung jawab terbesar di pundak mereka.
Tekanan Eksternal dan "Keretakan Elite"
Di sinilah kita menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa mereka mundur massal. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menangkap adanya "tekanan eksekutif, termasuk dari kepala negara" di balik pengunduran diri ini. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk "kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari presiden".
Dalam kacamata Coombs, ini adalah puncak dari krisis yang lebih dalam, yaitu hilangnya independensi. Coombs menekankan pentingnya komunikasi yang konsisten dan dapat dipercaya (credible) di masa krisis. Ketika lembaga pengawas diduga kehilangan independensinya karena intervensi politik, maka apapun pernyataan yang mereka keluarkan tidak akan lagi memiliki bobot. Investor akan melihatnya sebagai "kebun binatang" yang dijaga oleh satwa yang sama, bukan oleh penjaga profesional.
Komentar di The Jakarta Post bahkan menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "pembusukan institusional" (institutional decay), di mana garis antara kepentingan eksekutif dan otoritas moneter menjadi kabur . Pengunduran diri para pejabat ini bisa diartikan sebagai sinyal "putus asa" atau bentuk perlawanan diam-diam atas tekanan yang membuat mereka tidak bisa lagi menjalankan amanat secara profesional.
Timothy Coombs, dalam Handbook of Crisis Communication dan Situational Crisis Communication Theory (SCCT)-nya, menyatakan bahwa setiap organisasi yang dilanda krisis harus membaca situasi dengan cermat. Coombs mengkategorikan krisis berdasarkan seberapa besar tanggung jawab yang diatribusikan publik kepada organisasi tersebut. Apakah krisis ini disebabkan oleh victim (korban), accidental (kecelakaan), atau preventable (dapat dicegah)?
Nah, dalam kasus dugaan "penggorengan saham" atau praktik pump and dump, kategorinya jelas mengerucut ke arah yang paling berbahaya: krisis yang dapat dicegah. Praktik pump and dump adalah skema manipulasi pasar di mana oknum menaikkan harga saham secara artifisial melalui informasi palsu atau menyesatkan, lalu menjual saham mereka setelah harga melambung, meninggalkan kerugian bagi investor ritel.
Ketika skandal seperti ini merebak, publik dan investor akan mencari siapa yang paling bertanggung jawab. Apakah para manipulator? Tentu. Namun, dalam logika SCCT, sorotan juga akan tertuju pada otoritas pengawas. OJK dan BEI-lah yang seharusnya menjadi benteng terakhir. Kegagalan pengawasan yang berujung pada maraknya praktik manipulasi akan membuat publik menempatkan tanggung jawab terbesar di pundak mereka.
Tekanan Eksternal dan "Keretakan Elite"
Di sinilah kita menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa mereka mundur massal. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menangkap adanya "tekanan eksekutif, termasuk dari kepala negara" di balik pengunduran diri ini. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk "kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari presiden".
Dalam kacamata Coombs, ini adalah puncak dari krisis yang lebih dalam, yaitu hilangnya independensi. Coombs menekankan pentingnya komunikasi yang konsisten dan dapat dipercaya (credible) di masa krisis. Ketika lembaga pengawas diduga kehilangan independensinya karena intervensi politik, maka apapun pernyataan yang mereka keluarkan tidak akan lagi memiliki bobot. Investor akan melihatnya sebagai "kebun binatang" yang dijaga oleh satwa yang sama, bukan oleh penjaga profesional.
Komentar di The Jakarta Post bahkan menyebut fenomena ini sebagai bagian dari "pembusukan institusional" (institutional decay), di mana garis antara kepentingan eksekutif dan otoritas moneter menjadi kabur . Pengunduran diri para pejabat ini bisa diartikan sebagai sinyal "putus asa" atau bentuk perlawanan diam-diam atas tekanan yang membuat mereka tidak bisa lagi menjalankan amanat secara profesional.
Lihat Juga :