Gegar di Lantai Bursa: Ketika Para Penjaga Gerbang Memilih Hengkang

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:13 WIB
Riza Awaluddin, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP UMJ. Foto/Dok. SindoNews
Riza Awaluddin

Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi



FISIP UMJ

AKHIR Januari lalu, publik Indonesia dikejutkan oleh drama di panggung ekonomi. Bukan karena gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok, melainkan karena sebuah kejadian yang tak lazim: para petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak mengundurkan diri. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, lebih dulu pamit. Disusul kemudian oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi, dan dua pejabat tinggi lainnya .

Fenomena "mundur berjamaah" ini tentu bukan pemandangan biasa. Apalagi, ini terjadi di tengah sorotan tajam atas kinerja pasar modal setelah IHSG berkali-kali menyentuh batas trading halt dan rencana indeks saham Indonesia ditangguhkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pertanyaannya, gejala apa ini? Mengapa para penjaga gerbang ekonomi memilih hengkang di saat krisis? Untuk membedahnya, kita bisa menggunakan kacamata teori komunikasi krisis dari pakar ternama, Timothy Coombs.

Bukan Sekadar Mundur, tapi Isyarat Krisis
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!