Danantara, Moody's, dan Harga Kepastian

Minggu, 08 Februari 2026 - 16:12 WIB
Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific. Foto: Istimewa
Perdana Wahyu Santosa

Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute, dan CEO SAN Scientific



Ada jenis “berita ekonomi” yang tidak meledak seperti skandal, tapi efeknya seperti bocor halus pada lambung kapal: pelan, lalu tiba-tiba terasa berat. Reuters melaporkan bahwa keputusan Moody’s menurunkan outlook kredit Indonesia dari stable ke negative (rating tetap Baa2, masih investment grade) termasuk kategori itu. Alasannya bukan semata angka pertumbuhan, melainkan soal yang lebih licin: prediktabilitas kebijakan dan tata kelola.

Dalam narasi Moody’s, pembentukan badan investasi baru—Danantara—ikut menjadi sumber tanda tanya terutama terkait dengan dari mana pendanaannya, bagaimana tata kelolanya, dan apa prioritas investasinya. Ini bukan tuduhan serampangan. Ini bisa jadi sinyal: pasar global mulai alergi pada area abu-abu, apalagi ketika mandatnya besar.

Namun jangan buru-buru menyimpulkan “fundamental ekonomi Indonesia rapuh”. Data juga berkata lain. Ekonomi 2025 tumbuh 5,11% (tertinggi dalam tiga tahun), didorong konsumsi rumah tangga dan investasi. Bank Indonesia juga menegaskan stabilitas sistem keuangan dan likuiditas tetap terjaga; inflasi pun masih terkendali (sekitar 2,9%) dalam kisaran sasaran. Jadi problemnya bukan otot ekonomi semata, melainkan “saraf koordinasi” kebijakan—bagaimana mesin besar ini dikemudikan dengan profesional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!