Inggris: Covid-19, Resesi, dan Brexit

Kamis, 17 September 2020 - 07:11 WIB
Ali Rama
Ali Rama

Penerima beasiswa Mora 5000 Doktor untuk studi S3 di Universitas Aberdeen Inggris dan Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



SEIRING dengan penurunan tren kasus Covid-19, pemerintah Inggris mulai membuka kegiatan ekonomi secara masif pada bulan Juni disertai dengan sejumlah protokol kesehatan yang harus dituruti jika beraktifitas di ruang publik termasuk menjaga jarak satu meter dan menggunakan masker. Puncak kasus korona di Inggris terjadi pada bulan April dengan jumlah rata-rata per hari sekitar 5.000 kasus terinfeksi dengan jumlah kematian mencapai sekitar 1.000 orang. Tren penyebaran virus korona mengalami penurunan signifikan pada bulan Juli bahkan angka kematian per hari semenjak bulan Juli sampai saat ini hanya sekitar rata-rata 20-30 kasus per hari. Secara akumulatif, jumlah kasus terinfeksi Covid-19 per 10 september 2020 di seluruh wilayah Inggris telah mencapai 355.219 dengan tingkat fatalitas sekitar 12%, atau 41.594 kasus kematian.

Secara global, terdapat sekitar 28 juta penduduk dunia telah terinfeksi virus korona dengan tingkat kematian mencapai sekitar 3,2%, dimana Amerika Serikat, India dan Brazil sebagai negara paling banyak terjangkiti. Inggris sendiri berada pada posisi ke-13, masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia yang berada pada posisi ke-23. Ironisnya, China sebagai negara asal virus ini justru hanya berada di urutan ke-39 dari total kasus Covid-19 di dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!