Dari Pendiri ke Sistem: Bagaimana Pesantren Bisa Lestari, Mandiri, dan Melampaui Zamannya

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:15 WIB
Kedua, Dakwah Moderat yang Terstruktur, pesantren harus menjadi produsen utama konten dakwah berbasis keilmuan yang mendalam di era digital sebagai upaya menangkis narasi yang menyesatkan.

Ketiga, Pemberdayaan Masyarakat, pesantren mengoptimalkan peran sebagai agent of development melalui program ekonomi, pertanian, atau kesehatan yang memberdayakan masyarakat sekitar, sebagaimana diamanatkan UU.

Keempat, menjaga Standarisasi Mutu, baik mengikuti skema seperti Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) mengakui kekhasan pesantren sekaligus menjamin mutu dan masa depan santri di pendidikan tinggi formal atau skema lainnya.

Kelima, mewariskan Sistem, bukan Figur, membangun budaya organisasi dan dokumentasi pengetahuan sehingga “lembaga yang kuat tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem yang diwariskan lintas generasi”.

Penutup



Keabadian pesantren bukanlah takdir, melainkan hasil dari ikhtiar kolektif yang disengaja. Ia dimulai dari kesadaran akan why yang mendalam, diwujudkan melalui how berupa sistem tata kelola yang bernilai dan adaptif, serta dimanifestasikan dalam what berupa praktik pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan yang relevan.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya akan bertahan dari arus zaman, tetapi akan terus menjadi “rumah besar” peradaban yang mampu mencetak pemimpin berakhlak, mandiri, dan siap menyambut tantangan masa depan, jauh melampaui usia pendirinya. Inilah jalan menuju pesantren yang sustenabel, abadi, dan bermartabat.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!