Whoosh di Rel Geopolitik

Jum'at, 31 Oktober 2025 - 05:44 WIB
Dalam konteks hubungan internasional, rel ini adalah instrumen statecraft. Joseph Nye mengingatkan bahwa kekuasaan abad ke-21 tak lagi bertumpu pada militer (hard power), melainkan pada kemampuan memengaruhi persepsi bangsa lain (soft power). Melalui Belt and Road Initiative (BRI), China memperluas pengaruh lewat apa yang bisa disebut infrastructural soft power: membangun jejaring global berbasis investasi dan simbol kemajuan. Dalam pandangan Beijing, setiap rel adalah perpanjangan tangan diplomasi.

Indonesia kini berada di persimpangan dua arus besar: ambisi mempercepat pembangunan dan keharusan menjaga otonomi strategis di tengah rivalitas kekuatan besar. Kritik terhadap Whoosh—dari pembengkakan biaya hingga kekhawatiran debt trap—tak bisa dilepaskan dari bayang-bayang sejarah ketergantungan dunia Selatan terhadap modal dan teknologi negara maju.

Kita masih menyimpan memori kolonial tentang rel-rel Hindia Belanda yang dibangun bukan untuk rakyat, tetapi untuk mengalirkan kopi, gula, dan rempah menuju pelabuhan kolonial. Infrastruktur, dalam sejarah kolonialisme, kerap jadi alat penguasaan yang dibungkus narasi kemajuan. Maka, ketika publik menaruh curiga terhadap proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri, itu bukan sekadar sikap sinis—melainkan refleks historis bangsa yang pernah dijadikan objek pembangunan oleh kekuatan asing.

Namun menolak semua bentuk kerja sama atas dasar trauma masa lalu juga berisiko. Dunia kini hidup dalam logika complex interdependence, meminjam istilah Nye dan Keohane. Dalam realitas saling ketergantungan global, isolasi bukan tanda kedaulatan, melainkan ketertinggalan. Tantangan bagi Indonesia adalah menjadikan keterhubungan global sebagai ruang negosiasi baru, di mana kedaulatan berarti kemampuan mengatur arah kepentingan nasional dalam arus global yang tak bisa dihindari.

Di titik inilah kebijaksanaan negara diuji. Apakah proyek seperti Whoosh akan membuka kemandirian teknologi dan industri nasional, atau justru menjerat kita dalam ketergantungan finansial jangka panjang? Pertanyaan ini tak bisa dijawab dengan emosi politik jangka pendek. Ia memerlukan pandangan strategis tentang siapa yang menguasai teknologi, siapa yang mengelola aset, dan siapa yang memetik manfaat sosialnya.

Sebagian pihak menyamakan Whoosh dengan menara Babel—proyek ambisius yang runtuh karena kesombongan manusia. Dalam kisah itu, manusia membangun menara untuk mencapai langit, berharap menjadi setara dengan Tuhan. Namun proyek itu gagal karena hilangnya kebersamaan dan kebijaksanaan. Pelajaran dari Babel jelas: ambisi tanpa keinsafan akan kehilangan arah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!